Cari
×

Daftarkan diri

Use your Facebook account for quick registration

OR

Create a Shvoong account from scratch

Already a Member? Masuk!
×

Masuk

Sign in using your Facebook account

OR

Not a Member? Daftarkan diri!
×

Daftarkan diri

Use your Facebook account for quick registration

OR

Masuk

Sign in using your Facebook account

Halaman Utama Shvoong>Ilmu Sosial>Pak Pandir dan Tiga Penyamun

Pak Pandir dan Tiga Penyamun

oleh: Dongeng     Pengarang : Cerita Rakyat
ª
 
Ada seorang lelaki tua yang pandir. Ia di gelari pak pandir karena memang pandir. Dia tinggal di sebuah desa kecil di sebelah timur baghdad. Begitu pandirnya dia sehingga selalu percaya begitu saja pada apa yang di katakan orang kepadanya. Bahkan anak- anak kecilpun suka menggoda dan mempermainkan dia. Suatu hari dia memutuskan untuk menjual kambingnya ke kota baghdad. Di zaman itu orang- orang miskin terpaksa berjalan berhari- hari sebelum sampai ke kota baghdad. Betapa repotnya diamempersiapkan diri. Di butuhkan waktu seminggu sebelum akhirnya dia bisa menentukan berapa banyak bekal makanan yang harus di bawa, berapa helai baju untuk ganti, dan berapa buli- buli air untuk penawar dahaga di jalan. Di masukkannya bekalnya ke dalam karung. Karung itu di muatkan ke punggung keledai. Kambingnya diikatkan ke ekor si keledai dan di leher si kambing di gantungkan sebuah lonceng. Pikir orang tua itu akalnya cukup bagus. “sambil berjalan aku bisa mendengar bunyi lonceng itu,” gumamnya. “jika lonceng masih tetap berklening, itu tandanya tak ada yang mencuri kambingku.” Waktu itu penduduk negeri masih belum sebanyak sekarang. Daerah- daerah yang menghubungkan suatu desa dengan desa lainya masih sepi, liar dan penuh bahaya. Pak pandirpun berangkat. Di tempat yang sunyi tiga orang penyamun sudah menghadang. Mereka menunggu pak tua itu lewat. “aku akan merampas kambing nya,” kata yang pertama. “kalau begitu, aku keledainya,” kata yang kedua. Penyamun yang ketiga mendengus kecewa. “tinggal baju kumalnya itu yang masih bisa kurampas,” katanya. “bagaimanapun itu lebih baik daripada tidak mendapat apa- apa,” Penyamun pertama menunggu sampai pak pandir mendaki lereng yang cukup curam. Kemudia dia mengendap- endap dari balik semak. Di guntingnya tali pengikat kambing dengan ekor keledai dan dipindahkan nya lonceng itu ke ekor keledai. Lalu dia bersembunyi lagi. Pak pandir terus melangkah dengan riang. Pikirnya, selama lonceng masih berklening, berarti kambingnya masih ada. Beberapa saat kemudian, dia menoleh dan terkejut sekali waktu melihat kambingnya tak ada lagi. Barulah pak pandir tahu, lonceng itu ternyata di ikatkan ke ekor keledai. Akhirnya dia sadar... dia telah tertipu. Dia menangis keras- keras! Pada saat itu datang seorang laki- laki mendekatinya. Dialah penyamun yang ke dua. “Ada apa,Pak tua?”tanyanya. “Mengapa anda menangis dan berteriak- teriak begitu?” “kambingku! Kambingku! Mula mula masih ada. Sekarang tidak ada. Pasti ada yang mengambilnya, “ keluh pak pandir. “astaga!” kata si penyamun. “untung anda bertemu denganku, pak. Beberapa menit yang lalu aku bertemu dengan seorang laki- laki yang menarik- narik seekor kambing. Di sana, di balik rumpun pohon itu. Jika anda lari, pasti anda akan dapat menangkapnya.” “terimakasih,” kata pak pandir. Wajahnya berseri kembali. “aku akan mengejarnya. Tapi tolonglah jaga keledaiku ini sementara aku pergi.” “baiklah,” kata penyamun kedua. Sambil tersenyum ramah di peganginya tali pengikat keledai. Pak pandir segera lari ke arah rumpun pohon. Tentu saja tak ada siapa- siapa di sana. Kemudian , ketika dia dengan terengah- engah sampai ke tempat kawan barunya di tinggalkan, orang itu telah menghilang... bersama keledainya. Pak pandir menangis menjerit- jerit sambil menjambaki rambutnya. Tapi tak ada gunanya. Kambingnya hilang. Keledainya juga, lengkap dengan bekal makanan dan pakaian nya. Tak ada yang dapat di kerjakannya selain balik ke desanya lagi. Dia harus kembali menempuh jalan jelek yang berdebu itu. Matahari bersinar terik. Pak pandir lega ketika sampai ke dekat sebuah perigi. Dekat perigi itu duduk seorang laki- laki yang sedang menangis meraung- raung sambil menarik- narik rambutnya. Persis dia sendiri tadi. “Celaka. Sial,” tangis orang itu. Pak Pandir datang mendekatinya dan bertanya. “Mengapa?” “Aku terjerat kesulitan yang paling rumit didunia,” tangis yangditanya. Pak pandir hampir-hampir tak percaya pada pedengaranya. Dia tak bisa membayangkan, masih ada yang lebih celaka lagi dibanding dengan dirinya. Tapi dengan sabar dia mendengar juga. “Akumembungkuk kedalam perigi,maksudku mau mengambil air,”kata orang itu. “Tahu-tahu kantung permataku yang ku bawa jatuh kedalam perigi, padahal permata permata itu milik Khalifah. Jika aku pergi dan menghadap dan menceritakan yang sebenarnya, Khalifah takkan percaya dan akan memasukan aku kedalam penjara.” Pak Pandir Mengangguk-angguk. “ya, memang rumit,”katanya. “Mengapa tidak kau amabil ajakantung itu? Kau pasti dengan mudah bisa menemukanya.” “Oh,aku tak bisa berenang, Aku takut berenang dalam perigi,”kata penyamun ketiga, siapa lagi kalau bukan dia. “Kecuali permata, kantung itu juga berisi sepuluh keping uang emas. Uang akan kuhadiahkan kepada siapapun yang mengembalikan kantung itu.” Pak Pandir merasa tertarik. Sepuluh keping uang emas cukup untuk membeli seekor kambing, seekor keledai, makanan, pakaian,dan masih akan tersisa banyak. “nah, aku akan masuk ke perigi dan mencari kantungmu,” katanya. “ tapi aku tak ingin bajuku jadi basah. Maukah kau menjaganya sementara aku masuk ke perigi?” “tentu,” jawab penyamun ketiga. Pak pandir pun masuk ke dalam perigi. Air perigi itu sedingin es. Apalagi pak pandir baru saja berada di tempat yang sangat panas. Tentu saja, bagaimanapun telitinya dia mengaduk aduk lumpur dasar perigi, kantung permata itu tak dapat di temukan. Lekas- lekas dia naik kembali, tak ingin kawan barunya menunggu terlalu lama. Tak bisa di temukan sebab memang tak ada kantung permata yang jatuh ke dalam sumur. Dia atas tak ada seorangpun yang menunggungnya. pakaian nya pun lenyap. Beberapa saat kemudian barulah ia sadar bahwa ia telah tertipu. Dengan sangat mendongkol ia berlari pulang. Sepanjang jalan dia berteriak- teriak menceritakan kisah malangnya kepada siapapun yang mau mendengar. Tapi... ada untungnya juga dia. Para tetangga menganggap pengalamanya itu lucu sekali. Setiap malam bergantian mereka mengundangnya untuk makan malam sambil mengisahkan pengalamannya. Berbulan –bulan, setiap malam, dia mendapat makan malam gratis. Enak juga ya?
Diterbitkan di: 11 Desember, 2007   
Mohon dinilai : 1 2 3 4 5
  1. Menjawab   Pertanyaan  :    ada dongeng parabel nggak? Lihat semua
  1. Menjawab   Pertanyaan  :    maaf bkn nya sok tau, bkn nya si pandir tu crita rkyt sumsel/palembang.? dr nma nya ja "pandir"[genit dlm bhsa palembang] pa mngkn d bghdad da yg nma nya pandir,? ( 1 Jawaban ) Lihat semua
  1. Jawaban  :    Sumsel 25 Oktober 2012
  1. Menjawab   Pertanyaan  :    kenapa lelaki tua itu digelari pak pandir? ( 1 Jawaban ) Lihat semua
  1. Jawaban  :    karena dia memang pandir 11 Mei 2012
  1. Menjawab   Pertanyaan  :    darimana kah cerita rakyat ini berasal? (mohon dijawab secepatnya, trimakasih) ( 1 Jawaban ) Lihat semua
  1. Jawaban  :    sumatra selatan 11 Mei 2012
Terjemahkan Kirim Link Cetak
X

.