Pak Pandir dan Tiga Penyamun
Summary ratings: 3 stars
(xx voters)
Kunjungan:
177
kata:
900
Diterbitkan di: Desember 11, 2007
Ada seorang lelaki tua yang pandir. Ia di
gelari pak pandir karena memang pandir. Dia tinggal di sebuah desa kecil di
sebelah timur baghdad. Begitu pandirnya dia sehingga selalu percaya begitu saja
pada apa yang di katakan orang kepadanya. Bahkan anak- anak kecilpun suka
menggoda dan mempermainkan dia.
Suatu hari dia memutuskan untuk menjual
kambingnya ke kota baghdad. Di zaman itu orang- orang miskin terpaksa berjalan
berhari- hari sebelum sampai ke kota baghdad.
Betapa repotnya diamempersiapkan diri. Di
butuhkan waktu seminggu sebelum akhirnya dia bisa menentukan berapa banyak
bekal makanan yang harus di bawa, berapa helai baju untuk ganti, dan berapa
buli- buli air untuk penawar dahaga di jalan.
Di masukkannya bekalnya ke dalam karung.
Karung itu di muatkan ke punggung keledai. Kambingnya diikatkan ke ekor si
keledai dan di leher si kambing di gantungkan sebuah lonceng.
Pikir orang tua itu akalnya cukup bagus.
“sambil berjalan aku bisa mendengar bunyi
lonceng itu,” gumamnya. “jika lonceng masih tetap berklening, itu tandanya tak
ada yang mencuri kambingku.”
Waktu itu penduduk negeri masih belum sebanyak
sekarang. Daerah- daerah yang menghubungkan suatu desa dengan desa lainya masih
sepi, liar dan penuh bahaya.
Pak pandirpun berangkat. Di tempat yang sunyi
tiga orang penyamun sudah menghadang. Mereka menunggu pak tua itu lewat.
“aku akan merampas kambing nya,” kata yang
pertama.
“kalau begitu, aku keledainya,” kata yang
kedua.
Penyamun yang ketiga mendengus kecewa.
“tinggal baju kumalnya itu yang masih bisa
kurampas,” katanya. “bagaimanapun itu lebih baik daripada tidak mendapat apa-
apa,”
Penyamun pertama menunggu sampai pak pandir
mendaki lereng yang cukup curam. Kemudia dia mengendap- endap dari balik semak.
Di guntingnya tali pengikat kambing dengan ekor keledai dan dipindahkan nya
lonceng itu ke ekor keledai. Lalu dia bersembunyi lagi.
Pak pandir terus melangkah dengan riang.
Pikirnya, selama lonceng masih berklening, berarti kambingnya masih ada.
Beberapa saat kemudian, dia menoleh dan
terkejut sekali waktu melihat kambingnya tak ada lagi. Barulah pak pandir tahu,
lonceng itu ternyata di ikatkan ke ekor keledai. Akhirnya dia sadar... dia
telah tertipu.
Dia menangis keras- keras!
Pada saat itu datang seorang laki- laki
mendekatinya.
Dialah penyamun yang ke dua. “Ada apa,Pak
tua?”tanyanya. “Mengapa anda menangis
dan berteriak- teriak begitu?”
“kambingku! Kambingku! Mula mula masih ada.
Sekarang tidak ada. Pasti ada yang mengambilnya, “ keluh pak pandir.
“astaga!” kata si penyamun. “untung anda
bertemu denganku, pak. Beberapa menit yang lalu aku bertemu dengan seorang
laki- laki yang menarik- narik seekor kambing. Di sana, di balik rumpun pohon
itu. Jika anda lari, pasti anda akan dapat menangkapnya.”
“terimakasih,” kata pak pandir. Wajahnya
berseri kembali. “aku akan mengejarnya. Tapi tolonglah jaga keledaiku ini
sementara aku pergi.”
“baiklah,” kata penyamun kedua. Sambil
tersenyum ramah di peganginya tali pengikat keledai. Pak pandir segera lari ke
arah rumpun pohon.
Tentu saja tak ada siapa- siapa di sana.
Kemudian , ketika dia dengan terengah- engah sampai ke tempat kawan barunya di
tinggalkan, orang itu telah menghilang... bersama keledainya.
Pak pandir menangis menjerit- jerit sambil
menjambaki rambutnya. Tapi tak ada gunanya. Kambingnya hilang. Keledainya juga,
lengkap dengan bekal makanan dan pakaian nya. Tak ada yang dapat di kerjakannya
selain balik ke desanya lagi.
Dia harus kembali menempuh jalan jelek yang
berdebu itu. Matahari bersinar terik. Pak pandir lega ketika sampai ke dekat
sebuah perigi. Dekat perigi itu duduk seorang laki- laki yang sedang menangis
meraung- raung sambil menarik- narik rambutnya. Persis dia sendiri tadi.
“Celaka. Sial,” tangis orang itu. Pak Pandir
datang mendekatinya dan bertanya.
“Mengapa?”
“Aku terjerat kesulitan yang paling rumit
didunia,” tangis yangditanya. Pak pandir hampir-hampir tak percaya pada
pedengaranya. Dia tak bisa membayangkan, masih ada yang lebih celaka lagi
dibanding dengan dirinya. Tapi dengan sabar dia mendengar juga.
“Akumembungkuk kedalam perigi,maksudku mau
mengambil air,”kata orang itu.
“Tahu-tahu kantung permataku yang ku bawa
jatuh kedalam perigi, padahal permata permata itu milik Khalifah. Jika aku
pergi dan menghadap dan menceritakan yang sebenarnya, Khalifah takkan percaya
dan akan memasukan aku kedalam penjara.”
Pak Pandir Mengangguk-angguk.
“ya, memang rumit,”katanya. “Mengapa tidak kau
amabil ajakantung itu? Kau pasti dengan mudah bisa menemukanya.”
“Oh,aku tak bisa berenang, Aku takut berenang
dalam perigi,”kata penyamun ketiga, siapa lagi kalau bukan dia. “Kecuali
permata, kantung itu juga berisi sepuluh keping uang emas. Uang akan
kuhadiahkan kepada siapapun yang mengembalikan kantung itu.”
Pak Pandir merasa tertarik. Sepuluh keping
uang emas cukup untuk membeli seekor kambing, seekor keledai, makanan,
pakaian,dan masih akan tersisa banyak.
“nah, aku akan masuk ke perigi dan mencari
kantungmu,” katanya. “ tapi aku tak ingin bajuku jadi basah. Maukah kau
menjaganya sementara aku masuk ke perigi?”
“tentu,” jawab penyamun ketiga. Pak pandir pun
masuk ke dalam perigi.
Air perigi itu sedingin es. Apalagi pak pandir
baru saja berada di tempat yang sangat panas. Tentu saja, bagaimanapun
telitinya dia mengaduk aduk lumpur dasar perigi, kantung permata itu tak dapat
di temukan. Lekas- lekas dia naik kembali, tak ingin kawan barunya menunggu
terlalu lama.
Tak bisa di temukan sebab memang tak ada
kantung permata yang jatuh ke dalam sumur. Dia atas tak ada seorangpun yang
menunggungnya. pakaian nya pun lenyap.
Beberapa saat kemudian barulah ia sadar bahwa
ia telah tertipu. Dengan sangat mendongkol ia berlari pulang. Sepanjang jalan dia berteriak- teriak menceritakan kisah
malangnya kepada siapapun yang mau mendengar.
Tapi... ada untungnya juga dia. Para tetangga
menganggap pengalamanya itu lucu sekali. Setiap malam bergantian mereka
mengundangnya untuk makan malam sambil mengisahkan pengalamannya. Berbulan
–bulan, setiap malam, dia mendapat makan malam gratis. Enak juga ya?