Halaman Utama Shvoong > Ilmu Sosial > Air Susu Di Balas Air Tuba

.

Air Susu Di Balas Air Tuba

Summary rating: 3 stars 3 Tinjauan
Pengarang : Cerita Rakyat
Summary by : Dongeng
Kunjungan: 149
kata: 900
Diterbitkan di: Desember 11, 2007
Seorang petani tolol sedang asyik mengumpulkan
kayu- kayu kering ketika dia mendengar jeritan. Dia menoleh kesana kemari, tapi
tak melihat siapa- siapa. Jadi di teruskannya mengumpulkan kayu.

Sekali lagi terdengar jeritan. Kali ini dia
mencari- cari dengan lebih teliti akhirnya di lihatnya seekor ular terjepit
diantara batu- batu.

Petani itu meloncat mundur karena takut. Ular
adalah binatang licik. Tapi, binatang itu memohon mengiba  iba “tolonglah aku tuan, keluarkan aku dari
bawah batu ini.”

“ya, aku bisa saja menolongmu,” jawab si
petani, “tapi untuk apa? Kamu pasti akan mematuk aku dan menyemburkan racunmu.
Bagaimanapun ular tetap ular.”

“astaga, aku tak kan pernah berbuat sekeji
itu,” kata ular.

Akhirnya dengan mengabaikan akal sehatnya
petani itu mengangkat batu yang menindih ular. Dibiarkannya ular itu merayap
keluar.

Tiba- tiba ular itu mematuknya. Nyaris! Untung
petani itu masih sempat meloncat menghindarinya.

“nah, benar, kan,” teriak petani.”kamu ular
licik. Aku tahu itu. Mengapa kau membalas budi baik dengan perbuatan keji? Aku
tak mengert.i” “ada alasannya,” jawab ular. “memang begitulah hukum rimba. Air
susu harus di balas dengan air tuba.”

Petani itu tak sependapat dengan si ular. “tak
semua orang setuju dengan pendapatmu itu,” katanya. “jika ada orang yang
berbuat baik terhadapku, aku akan selalu mengingatnya dan berusaha membalas
kebaikannya.” Ular itu hanya mendengus.

“kita bertaruh saja,” katanya. “ carilah siapa
yang setuju dengan pendapatmu, maka kau akan kulepaskan.”

Petani dan ular itupun berjalan bersama- sama.
Mereka bertemu dengan seekor kuda tua yang melangkah terseok- seok. Ekornya
yang berambut jarang dan lemah berusaha mengusir lalat yang merubung kakinya.

Si petani bertanya, “menurut pendapatmu, kuda
tua, budi baik harus di balas dengan apa?” kuda menjawab, “dengan kejahatan.”
“mengapa kau berpendapat begitu”, tanya petani kecewa.

“sebab,” katakuda tua itu sambil berusaha
duduik dengan enak,” waktu aku masih muda dan kuat, majikanku selalu merawatku
dengan penuh kasih.”

Kuda melanjutkan, “aku di beri kandang yang
hangat dan jerami serta padi- padian yang cukup. Boleh makan sekenyang-
kenyangku. Tapi... sekarang aku sudah tua dan lemah, aku diusirnya... begitu
saja.”

“nah, apa kataku,” endus ular puas, “sekarang
juga akan kupatuk engkau dengan gigiku yang berbisa.”

“tunggu dulu,” tergesa- gesa petani itu
berseru. “sebaiknya kita tanyakan pada yang lain lagi.”

Keduanya meneruskan perjalanan. Di padang
mereka melihat seekor domba sedang merumput. Petani bertanya padanya, “menurut
pendapatmu, domba, budi baik harus di balas dengan apa?”

“dengan kejahatan,” kata domba tanpa menoleh.
“mengapa kau berpendapat begitu?”

Domba menjawab, “aku selalu memberikan wol
untuk majikanku, tapi dia jahat. Di musim panas, dibiarkan nya buluku tumbuh
lebat hingga aku pingsan kepanasan. Di musim dingin, di cukurnya buluku, hingga
aku beku kedinginan.”

Ular mendesis, “bagus! Sekarang kupatuk kau
dengan taringku yang berbisa.”

“sabar... sabar,” cegah si petani. “pasti ada
pendapat lain lagi.”

Merekapun berjalan lagi. Untung, sebelum si
ular melihat, petani itu telah melihat seekor rubah. Dia menyelinap dan
berbicara dengan rubah itu

“ sebentar lagi aku akan menemuimu dengan
seekor ular,” katanya menerangkan. “ kalau ku tanya, jawablah bahwa budi baik
harus di balas dengan budi baik juga. Nanti ku beri kau anak domba, anak babi
dan itik yang gemuk.”

“boleh juga tawaranmu,” jawab rubah. Setelah
itu, petani kembali berjalan menjejeri ular.

Tak lama kemudian mereka berpapasan dengan
rubah. “menurut pendapatmu, rubah,” kata petani,” budi baik harus di balas
dengan apa?”

“dengan kebaikan,” jawab rubah tersenyum,
terbayang olehnya daging lezat anak domba, anak babi, dan itik yang gemuk. Lalu
ketiganya mengobrol, dan rubah mendengar bagaimana tadi ular terjepit di bawah
batu. Dia tak percaya. Jadi mereka kembali ke tempat batu itu dan atas anjuran
rubah, petani itu menindih kembali si ular dengan batu. Rubah benar- benar
telah menyelamatkan nya.

Tapi malamnya, waktu rubah menagih janji,
ternyata petani itu telah mengunci erat- erat kandang domba, kandang babi, dan
serta kandang itik. Malahan, petani itu mengusirnya dengan acungan senapandan
dua ekor anjing galak.

“wah, kau jadi pintar, yah!” seru rubah.
“memang benar kata ular itu!”

 

 
Mohon ringkasan ini dinilai : 1 2 3 4 5


Read Free Summaries - Write and Get Paid

Summarize Human Knowledge on Shvoong. Join us!

------

Recent Shvoongers

  • AsepSuryana
  • herro
  • jurnalis
  • DenKun
  • Kharis
  • nilna
  • AryaGuna
  • airakheisa
  • Rakyat
  • kusuma
  • tomaz
  • insansains
  • deleon
  • PermataPratiwi
  • KireinaLie
  • HooNanz

.