• Daftarkan diri
  • ‎Apakah Shvoong itu?‎
  • Masuk
    Masuk
    Ingat user ID ini. Lupa password anda?

Buat rangkuman pengetahuan manusia di Shvoong.

.

Halaman Utama Shvoong>Ilmu Sosial>Mukadimah Yang Benar Dengan Pimpinan Yang Benar

.

Mukadimah Yang Benar Dengan Pimpinan Yang Benar

oleh : akibr    

Pengarang : A.Kohar Ibrahim
Mukadimah Yang Benar dengan Pimpinan Yang Benar
Oleh: A.Kohar Ibrahim
MENYIMAK kaji kembali, dari sejak pertama
kali memahaminya sekian dasawarsa lalu hingga kini pun saya tetap membenarkan kebenaran yang terkandung di dalamnya. Kebenaran yang membantah segala fitnah dan tudingan yang macam-macam dari pihak kaum Manikebu dan penguasa OrBa sekalian pendukungnya. Fitnah dan tudingan untuk mengkriminilkan gerakan kebudayaan rakyat sekalian tokoh-tokohnya – yang disimbolkan oleh salah seorang tokoh prominennya:  Pramoedya Ananta Toer.
Lebih-lebih lagi jika dalam kenyataannya, di samping Pramoedya Ananta Toer, juga terdapat sebarisan putera-puteri terbaik Republik Indonesia. Mereka adalah sosok-sosok tokoh terkemuka pekerja kebudayaan, ilmuwan, cendekiawan, publisis, wartawan, seniman, sastrawan dan penyair yang berfungsi sebagai pimpinan pusat Lekra. Seperti yang tercatat sebagai hasil Sidang Plenonya.
Sekretariat Pimpinan Pusat Lekra
Sidang Pleno Ke I Lekra tanggal 28 Januari 1959 telah memilih Sekretariat Pimpinan Pusat Lekra seperti di bawah ini:
Joebaar Ajoeb – Sekretaris Umum
Henk Ngantung – Wakil Sek. Umum I
Sudharnoto – Wakil Sek. Umum II
Njoto – Anggota Sekretariat
Basuki Resobowo – sama
Rivai Apin – sama
M.S. Ashar – sama
Samandjaja – sama
Basuki Effendi – sama
Bakri Siregar – sama
S. Anantaguna – sama
Pimpinan Pusat Lekra
Kongres Nasional Ke I Lekra dalam Sidang Plenonja tanggal 28 Januari 1959 telah memilih susunan anggota seperti di bawah ini:
(1)   Affandi,  (2) Agam Wispi,  (3) Bachtiar Siagian,  (4) Bakri Siregar,  (5) Basuki Efendi,  (6) Basuki Resobowo, (7) Boejoeng Saleh, (8) Chrismanuputty, (9) Dhalia, (10) Hadi S., (11) Haznam Rachman, (12) Hendra Gunawan, (13) Henk Ngantung, (14) Hr. Bandaharo, (15) Joebaar Ajoeb, (16) Kotot Sukardi, (17) Kurnia, (18) K. Iramanto, (19) Martean Sagara, (20) M.D. Hadi, (21) M.S. Ashar, (22) Njoto, (23) Nurbakti, (24) Pramoedya Ananta Toer, (25) Rivai Apin, (26) Rumambi, (27 Samandjaja, (28) Sudharnoto, (29) Sudjadi, (30) Sugiarti Siswadi, (31) Suhardjo, (32) Sunardi, (33) Sunito, (34) S. Anantaguna, (35) S. Rukiah Kertapati, (36) Suromo, (37) Tan Sing Hwat, (38) Tjak Bowo, (39) Utomo Ramelan, (40) Utuy Tatang Sontani, (41) Z. Trisno.
Demikianlah nama-nama para Pimpinan Pusat Lekra, yang juga seperti tertera dalam buku tersebut di atas (hlm 132-133) dan juga bisa  dicek-lacak di berberapa penerbitan atau dokumentasi lainnya. Dari kesemuanya itu, tak seorangpun yang terbuktikan sebagai penjahat. Sebaliknyalah, mereka adalah pimpinan gerakan kebudayaan rakyat yang telah berhasil menjadikan Lekra sebagai organisasi yang besar dengan setengah juta anggotanya tersebar di seluruh Republik Indonesia. Yang dengan segala aktivitas-kreativitasnya, tak dapat disangkal lagi, telah berjasa dalam perjuangan pembinaan kebudayaan nasional Indonesia: di berbagai bidangnya. Karena selain secara organisatoris berkedudukan sebagai pimpinan, juga mreka adalah totoh-tokoh terkemuka di bidang keseniannya masing-masing. Di lembaga-lembaga kesenian seperti: Senirupa, Sastra, Drama, Film, Musik, Tari dan lainnya lagi.
Dalam perjuangan pembinaan kebudayaan Indonesia itu mereka berada di jalan yang benar. Kebalikannya dari kaum Manikebu/OrBa. Kaum yang secara sadar maupun tak sedar, langsung maupun tak langsung turut serta menegakkan singgasana rezim militer yang melampung di telaga darah, keringat dan air mata rakyat Indonesia. Rezim yang telah secara gamblang melakukan kejahatan kemanusiaan yang tiada taranya dalam sejarah modern Indonesia. Rezim yang telah membawa Indonesia ke tepi jurang kehancuran dengan krisis multidimensinya.
Iya. Memang iya. Sejak semula sampai detik ini, tanggal 8 Desember 2007, aku tetap membela yang benar benar baik Mukadimah Lekra, Lekra sebagai organisasi dengan pimpinannya yang merupakan barisan putera-puteri terbaik Indonesia sekalian setengah juta anggota Lekra serta simpatisan lainnya yang telah berjasa dalam perjuangan membina kebudayaan Indonesia. Iya. Memang iya, aku menggugat segala kesewenang-wenangan ala budaya kampungan yang dilakukan oleh kekuasaan beserta kaum Manikebu dan sekalian pendukungnya selama ini. Kebenaran yang benar dan keadilan yang seadil-adilnya mesti ditegakkan di Negara Republik Indonesia. ***
 
Diterbitkan di: Desember 09, 2007
Mohon ringkasan ini dinilai : 1 2 3 4 5

Bookmark & share this post

.