Membela Lekra Membela Yang Benar Benar
Oleh: A.Kohar Ibrahim
NADA irama ekspresi diriku berkenaan
dengan Pramoedya Ananta Toer
dan sosok tokoh Lekra lainnya, juga terhadap Lekra itu sendiri, kiranya cukup konsisten. Baik yang diutarakan secara lisan maupun tulisan.
Seperti antara lain, yang tercetak-siar
di majalah-majalah Kreasi dan Arena yang saya editori sejak awal sampai akhirnya (1989-1999).
Sekalian pula pernyataan dari sejumlah seniman anggota Lekra lainnya, baik yang berada di dalam negeri maupun yang terpaksa menjadi perantau. Dari para pemimpinan Lekra sendiri – terutama sekali orang pertamanya Joebaar Ajoeb, di samping Pramoedya, juga para seniman dan penulis serta penyair seperti Basuki Resobowo, Magusig O Bungai, Alan Hogelan alias Kamaludin Rangkuti, Z. Afif, Aziz Akbar dan yang lainnya lagi.
“Selama hampir seperempat abad kekuatan gelap di negeri kita
tak henti-hentinya melakukan tindakan biadab,” tulis saya dalam Sekedar Pengantar dari Penyaji: Majalah Kreasi N° 3 Th 1989 (ISSN-0923-4934), Stichting Budaya Amsterdam. Saya tandaskan, mengenai kebiadaban itu. “Dari sekitar terjadinya kudeta militer dengan pembunuhan massal dan kamp-kamp konsentrasi bagi Tapol, sampai pada suasana teror seperti “bersih lingkungan” yang antara lain tercermin dalam heboh “Kias-Bagong”, dan penjara bagi penyebar buku Pramoedya. Selama itu bermunculan berbagai sikap terhadap penguasa Orba. Ataukah sikap yang mem-Bagong ataukah yang mem-Pramoedya; dengan berbagai nuansanya. Diantaranya ada yang tegar dan berani serta memiliki inisiatip dalam menjalani kehidupan, membela keadilan dan kebenaran. Dengan segala resikonya. Ada yang seperti bunglon atau menurut istilah Pram sebagai “kutu lompat”. Pokoknya asal selamat dan untung bagi diri sendiri. Ada pula yang melagak seperti Bagong itu. Visinya persis seperti katak dalam tempurung demi kepuasan selera oportunisnya: abs – asal bapak senang! Maka melontarkan fitnahan ke alamat mereka yang dianggap lawan merupakan kewajiban.”
“Seorang Jenderal pernah bilang bahwa fitnahan itu lebih jahat dari pembunuhan”, tulis saya lebih lanjut,
tanpa menyebut sang jenderal yang dimaksud: A.H. Nasution. Tanpa menunjuk pula, bahwa betapa biadabnya melakukan pencabutan nyawa manusia, apa pula yang tanpa dosa. “Dalam kenyataannya, tanpa fitnahan yang diiringi pengejaran, penangkapan, penyiksaan, pemenjaraan serta pembunuhan massal atas kekuatan rakyat yang tak berdosa itu kekuasaan Orba tak mungkin tegak. Dengan bertopeng kebaktian dan menggunakan garda negara!”
“Sungguh laknatlah para pemfitnah, pembungkam, dan penindas!” tegas saya. Pada Oktober tahun 1989 itu. Dan: “Celaka pula yang membungkam membelenggu diri dan berjiwa budak serta mencoba-coba melupakan malapetaka yang menimpa rakyat Indonesia selama seperempat abad.
Tak bisa ! Selama kita berdiri di barisan penentang kegelapan dan penyambut datangnya Fajar. Sebagai saksi sekaligus penggugat. Biar algojo-algojo itu yelanjang bulat di depan pengadilan rakyat yang bersejarah. Tanpa topeng tanpa senyum di muka mereka.”
Kemauan orang memang ragam macam. Boleh-boleh saja adanya. Tapi bagiku, aku tak setuju pada opini atau kecenderungan untuk melupakan fakta bahwa aspirasi kemerdekaan yang diproklamirkan oleh Bung Karno dan Bung Hatta pada tanggal 17 Agustus 1945 belum lagi terpenuhi. Karena adanya penjegalan berupa manifestasi aksi Teror Putih dan dengan ditumbangkannya rezim Orla oleh para pendiri Orba. Dengan menelan korban yang luarbiasa besarnya. Maka dari itulah, ketika meng-edit Kreasi N° 3 Th 1989 itu, saya turunkan kreasi puisi penyair Suprijadi Tomodihardjo berjudul “Tak bisa”.
Tak Bisa
Oleh: Suprijadi Tomodihardjo
Anak-anak belajar angka
satu, dua, tiga
Sekarang pandai bertanya,
- sampai berapa
Bapak-bunda tak pernah lupa
dulu, kini, kapan saja
Maka jawabnya,
- lebih sejuta
Anak-anak mencatat bulan
tujuh, lapan, sembilan
Pun masih nanyakan,
- kapan
Bapak-bunda menunjuk kalender
Disebutkannya,
- September
Anak-anak dan bapak bunda dihanyut waktu
Gerimis di mata tak sederas dulu
Tapi ada catatan lama,
- sembilanbelasenamlima
- yang dibunuh lebih sejuta
Anak-anak dan bapak-bunda
bersama-sama belajar lupa
lupa
lupa
lupa
Tak bisa!
(1987)
*
Ringkasan lain tentang Membela Lekra Membela Yang Benar Benar