Pramoedya Sang Penyambut Penyambit
Oleh : A.Kohar Ibrahim
*
« Biar karunia pencerahan
menyapu bersih busa
dan kabut
dari hati nurani
Agar sungai pikiran dapat
mengalir jernih berkelanjutan »
(Ira Iramanto)
*
NGAKU saja terus terang, memang kadang kala hatiku begitu girang meski
seperti aku ulang bilang sambutanku pada GM bahwa
di dalam rongga dadaku mengidap kemasygulan sejak empat dasa warsa lebih. Kemasygulan yang hanya bisah berubah sumringah gairah manakala kegelapan berubah kecerahan. Pabila aspirasi Kemerdekaan berupa budaya Modern mengatasi Belenggu budaya Kampungan. Seperti yang dikonstatasi Pramoedya Ananta Toer dalam makalahnya : « Maaf, Atas Nama Pengalaman ».
Sesudah sekian dasawarsa diproklamirkan, Kemerdekaan yang penuh memang ternyata masih harus diperjuangkan. Sampai hari ini. Detik ini. Ketika menyusun naskah ini.
Sementara itu, dalam meneruskan perjuangan untuk hidup dan kehidupan
manusia yang merdeka, bukanlah halangan untuk merasa riang. Dalam menyambut gerak gerik tari nyala api
atau tiada pernah padamnya bara dalam sekam.
Begitulah kegiranganku tak ubahnya yang di-imajinasi puisi Arthur Rimbaud yang sangat aku kagumi : « kurentang tambang dari lonceng ke lonceng / rumbai rumbai dari jendela ke jendela / rantai emas dari bintang ke bintang ; dan ‘ku menari. »
Arthur Rimbaud yang aku sebut sebagai salah seorang dari Tiga Pendekar Puisi Perancis – di samping Victor Hugo dan Charles Baudelaire – memang teladan perpuisian modern yang begitu cakap mengkomposisi atau merangkai kata-kata yang satu
dengan kata lainnya ; dari tersendiri menjadi rangkai atau baris-baris kata puitis sarat nada irama harmonis.
Maka jika sajak itu disangkut-kaitkan bak rumbai-rumbai pula dengan sajaknya yang membumi berjudul « Yang Tertidur Di Lembah » dan yang berjudul « Keajaiban », dengan gampang dan terang terasa betapa ke-luas-dalam-an makna simbolika dari hidup dan kehidupan dengan segala kedinamikaannya. (Kreasi N° 9 – 1991).
Oleh karena itulah, bukan secara kebetulan apa lagi mengada-ada atau asal-asalan, jika dalam rangka memperingati Seabad Wafatnya, atas usul Menteri Kebudayaan Perancis Jack Lang, l’Union Astronomique International memutuskan untuk memberi nama Sang Penyair itu pada sebuah planit yang ditemukan tahun 1988 oleh E.W. Elst. Seperti disiar oleh Le Soir bahwa, Planet Nomor 4635 temuan Elst itu jadinya bernama : Arthur Rimbaud.
Bayangkan saja ! Di angkasa raya yang luas tanpa batas sana itu, dari tak terbilang banyaknya kerlap kerlip cahya bintang atau planet adalah yang menyandang nama sorang penyair : Arthur Rimbaud !
Sungguh ! Kabar tersiar oleh suratkabar Le Soir 2 Nopember 1991 itu bagiku merupakan berita besar, merupakan bukti keteladanan daya apresiasi manusia beradab dan berbudaya modern. Yang kontras dengan adab dan budaya kampungan. Di mana selain memperagakan manifestasi aksi mandi darah bangsa sendiri pun melemparkan para pekerja kebudayaan, wartawan, sastrawan dan penyairnya ke ruang penjara dan kamp konstrasi kerjapaksa. Bukan setahun dua tahun melainkan belasan tahun. Dahsyatnya, sekali pun yang menjadi simbolnya diapresiasi oleh kalangan internasional, tapi lantaran dahinya bercap eks-tapol, masih juga kena teror. Teror berupa pengkeroyokan berbagai cara di berbagai media massa atau forum sarana kebudayaan oleh kalangan manikebuis dan mereka yang memang sudah masuk kantong kekuasaan – seperti dikatakan Pram.
Sampai pada baris-baris rangkai kata atau kalimat ini aku hanya ingin menggaris-bawahi akan makna penting perhatian atau apresiasi. Pentingnya saling perhatian atau semangat setiateman yang bagaikan mata-rantai rumbai-rumbai, yang selang seling saling bersangkut-pautan. Baik antara kalangan sendiri maupun dengan jalinan tali temali atau tambang menambang yang rentang merentang satu dengan yang lain-lainnya. Suatu dinamika inter-aksi atau jalinan hubungan ragam manusia maupun antara manusia dengan alam sekitarnya. Seperti yang disimboliskan Arthur Rimbaud. Seperti yang begitu juga pada hakikatnya disimboliskan oleh Pramoedya dengan semangat aktivitas-kreativitasnya di dalam kamp konsentrasi kerjapaksa Pulau Buru.
Bukankah, seperti pernah diakuinya, bahwa awal mula motivasi penciptaan kreasi seni sastra Pulau Burunya itu untuk mengayomi solidaritas yang menyemangati kawan-kawan senasibnya sendiri ? Terutama sekali, barang tentu, untuk mereka yang tetap setia menjaga cita-cita akan makna Kemerdekaan Manusia dan Bumi Manusia ? Justeru ketika sang Teror Putih penjelmaan dari adab-budaya kampungan bersimerajalela. Justeru pada saat adanya kaum keparat pengkhianat yang tak tahu malu jadi penjilat sepatu bot pemegang kekuasaan laknat. Kongkretnya : dari tingkat perangkat paling puncak sampai pada serdadu paling rendah pangkat di Kamp Pulau Buru. Karena manusia itu di mana-mana pun sama saja, dengan segala sikap-pendirian dan prilakunya yang ragam macam. Pada waktu-waktu tertentu mansusia yang baik pun bisa berubah buruk seburuk binatang : yang humanis bisa jadi bengis sebengis fasis ; yang bersih selalu ingin lebih bersih atau suci malah bisa berubah jadi manusia yang paling keji ; yang kecil kerdil bisa berubah prilaku seperti raja diraja atau belagak raksasa. Sekalipun dalam kenyataannya hanya bisa bertingkah begitu karena nangkring di pundak sang raksasa beneran ! ***
Ringkasan lain tentang Pramoedya Sang Penyambut Penyambit