• Daftarkan diri
  • ‎Apakah Shvoong itu?‎
  • Masuk
    Masuk
    Ingat user ID ini. Lupa password anda?

Buat rangkuman pengetahuan manusia di Shvoong.

.

Halaman Utama Shvoong>Ilmu Sosial>Sekitar Polemikos Lekra vs Manikebu Yang Masih Relevan

.

Sekitar Polemikos Lekra vs Manikebu Yang Masih Relevan

oleh : akibr     

Pengarang : A.Kohar Ibrahim
Sekitar Polemikos  Lekra vs Manikebu Yang Masih Relevan
Oleh: A.Kohar Ibrahim
KHUSUSNYA yang berkenaan dengan
Manikebu, yang turut serta menjadi pendukung tegaknya rezim OrBa, yang menjadi penikmat kekuasaan OrBa di bidang kebudayaan, meskipun ada orang yang bilang secara organisatoris „ Manikebu nggak ada“, namun bagaimana mereka dalam kenyataan yang sebenarnya? Bagaimana para pendukungnya yang ribuan banyaknya dan yang cukup penting juga: sejauh mana „manikebuisme“ mempengaruhi generasi muda atau yang lebih muda dari para penggagas dan penanda-tangan Manikebu? Bagaimana cara-gaya mereka – baik yang senior maupun yang yunior; baik yang langsung turut jadi penegak rezim OrBa maupun pengikutnya – dalam memanfaatkan kekuasaan yang tersediakan?
Dalam selang seling kait berkaitan yang berkenaan dengan soal-soal yang jadi persoalan antara kaum Manikebu dengan Lekra, dengan tokoh Pramoedya sebagai simbolnya, itulah  kiranya cukup menarik dan layak diperhatikan pernyataan atau pemikiran para penanda tangan Manikebu atau para tokoh-tokoh pendukungnya. Dengan begitu, saya pikir, akan mempermudah kita untuk memahami apa-siapa mereka, apa-bagaimana pemikiran mereka. Yang mereka lontarkan baik sebelum terjadi Kudeta Militer 1 Oktober 1965 maupun, dan terutama sekali setelah mereka berada di pihak kekuasaan atau malah termasuk dalam kantong kekuasaan – menurut istilah Pram.
Bisa dikatakan, serangan sewenang-wenang secara langsung dari penguasa maupun dengan mereka yang berkuasa di bidang kebudayaan terhadap Pramoedya dan Lekra serta kaum nasionalis kiri lainnya itu secara praktis sepihak saja adanya. Serangan yang dilancarkan dengan segala sarana kekuasaan di bidang kebudayaan (berbagai lembaga atau forum), pendidikan dan pers yang telah dihegemoninya.
Dampak negatif masa kegelap-pengapan itu luarbiasa bagi perkembangan kebudayaan umumnya, khususnya seni dan sastera. Pun dampak negatinya sudah bisa diperkirakan di bidang pendidikan, yakni berupa pembodohan.
Dalam rangka untuk menggugah sekaligus menggugat itulah, dalam batas batas  tertentu yang amat terbatas, kita telah mengupayakan menyampaikan suara. Menggugah supaya orang tidak melupakan sejarah; menggugat supaya para pelaku atau penanggungjawab berkembangnya budaya dusta mempertanggungjawabkan keikutsertaan mereka dalam pembodohan bangsa.
Oleh karena itulah, betapa bangga lagi gembiranya kami, ketika dari Pulau Buru muncul nyala yang berkilat kemerlap yang kian lama kian terang benderang teriring gema lagu kemanusiaan yang dinyanyikan Pramoedya dengan Bumi Manusia-nya. Gema yang menggugah sekaligus menggugat itu pun tak urung menyemangati kami. Yang memang sama-sama kaum yang terbungkam dan terbuang. Maka dari itu, hasrat keinginan kian menjerit untuk mengekspresikan diri, termasuk memberi tanggapan atas serentetan soal yang menjadi persoalan dalam pertikaian ide atau keberbedaan dalam sikap-pendirian antara kami dengan kaum Manikebu. Untuk itulah, seperti telah diutarakan lebih dulu, kami upayakan adanya semacam penerbitan yang tergolong pers alternatif macam Kreasi, Arena dan Mimbar itu. Sekalipun hanya bagaikan setetes air di samudera, kebanding dengan sarana kekuasaan Manikebu/OrBa, tapi tetaplah sebagai pertanda eksistensi kami. Itikad kami. Untuk turut memberikan sumbangan dalam perjuangan untuk demokrasi dan kehidupan seni dan budaya yang demokratis.
Dalam upaya untuk „hadir dan mengalir“ kan ekspresi diri, pada masa itu memang tidak seperti dewasa ini – berkat pemanfaatan alat komunikasi elektronik yang canggih atau internet. Masa itu mesin tik manual dan stensilan masih amat berguna; kemudian fotokopy yang masih sederhana sekali. Kliping atau guntinga koran menjadi bahan amat penting.
Maka dengan hanya modal dengkul dan peralatan serba sederhana, kami memulai upaya penerbitan hasil karya tulis, berupa prosa dan puisi, termasuk esai dan resensi atau naskah opini lainnya.
Sudah sejak awal penerbitanya, Majalah Kreasi, menurunkan naksah-naskah yang baik langsung maupun tak langsung berkaitan dengan perkembangan seni dan sastra di Indonesia. Khususnya yang berkaitan dengan Pramoedya, Lekra dan Manikebu. Dengan ragam macam soal yang dijadikan persoalannya. Seperti soal semboyan „Politik adalah Panglima“; „Seni untuk Rakyat“; „Realisme Sosialis“ ataukah „Romantisme Revolusioner“?; Lekra itu organisasi onderbownya PKI dan penganut Marxisme, Leninisme,  Komunisme atau bukan?; apakah Manikebu dan KKPI itu sekedar manifes kebudayaan ataukah sekaligus juga merupakan rekayasa politik?: apa-siapa itu penganut Humanisme Universil dan bagaimana dihadapan kenyataan kehidupan masyarakat manusia atau bangsa?: apa-siapa yang melakukan serangan untuk menghitamkan Lekra dan tokoh prominennya macam Pramoedya?; sejauh mana dampak buruk segala propaganda hitam yang dilakukan oleh kekuasaan OrBa dan Manikebu?: sebesar dan seberat apa dampak dari manifestasi aksi teror putih OrBa  dan Manikebu? Dan lainnya dan sebagainya lagi.
Menurut hemat saya, segala soal yang jadi persoalan itu bukan saja masih relevan untuk dikaji diungkap-utarakan, melainkan merupakan tantangan dan kewajiban bangsa ini – khususnya para pekerja kebudayaan, budayawan, intelektual, wartawan, sastrawan, penyair dan seniman serta kaum yang punya rasa tanggungjawab di bidang kebudayaan lainnya. Dengan tujuan untuk mencapai kejernih-cerahan dan dengan demikian memudahkan kita dalam menarik pelajaran dari pengalaman demi tidak mengulangi lagi kesalahan macam masa lalu.
Peristiwa Empat Dasawarsa lalu itu memang bisa dianggap evenement lama, tapi jika ditinjau dari perkembangan sejarah keberadaan masyarakat manusia di Bumi Nusantara,  pun ditinjau dari kurun waktu zaman modern Indonesia, kiranya masih belum terlalu lama, bahkan rasanya baru kemarin saja kelangsungannya. Maka, untuk melangkah menelusuri seraya membina peradaban dan budaya yang manusiawi, bukannya yang tipe adab dan budaya kampungan seperti kata Pramoedya, dewasa ini kita ditantang untuk bercermin dan memeriksa diri. Supaya lebih memiliki rasa integritas, harga diri dan percaya diri sebagai manusia, sebagai bangsa Indonesia. Hanya dengan demikian kita bisa melangkah maju membawa kemajuan dalam kehidupan berbangsa yang berbudaya lagi beradab.
Serangkaian naskah sekitar Pramoedya-Lekra dan Manikebu ini saya maksudkan sebagai sumbangan pribadi semau-sekuat-bisa saya dalam rangka upaya tersebut diatas. ***
Diterbitkan di: Nopember 28, 2007

Komentar

Mohon ringkasan ini dinilai : 1 2 3 4 5

Bookmark & share this post

.