Halaman Utama Shvoong > Ilmu Sosial > Korban Budaya Terorisme OrBa Tiada Terkira

.

Korban Budaya Terorisme OrBa Tiada Terkira

Pengarang : A.Kohar Ibrahim
Summary by : akibr
Kunjungan : 87  kata: 900   Diterbitkan di: Nopember 24, 2007
Korban Budaya Terorisme OrBa Tiada Terkira
 
Oleh: A.Kohar Ibrahim
 
 
SIKAP pendirian teriring menifestasi aksi pengeroyokan terhadap Pram itu begitulah, betapa menjijikkannya. Apa yang dialami Pram itu murni manifestasi aksi teror dalam makna yang sebenarnya dan dalam kenyataan yang gamblang. Dahsyatnya, orang-orang yang koar-koar sembari jadi pengibar humanisme universil dan Pancasila itu, melakukan pengeroyokan terhadap sosok manusia yang sudah tidak berdaya – baik karena berada di dalam penjara dan tanah buangan maupun ketika di luar itu – dalam penjara raksasa wilayah Indonesia. Karena, berada di luar kamar berjeruji besi atau kamp konsentrasi berkawat duri pun hakikatnya sama saja. Sesudah „dibebaskan“ pun, hak-hak azasinya tetap saja dirampas oleh sang penguasa, sekalian harta benda milik pribadinya. Bahkan sampai popok sekalipun dijarah gerombolan fasis OrBa Jenderal!
 
„Wah! Wah!“
 
 „Iya. Bagaimana saya tidak mau menyebutkan semua tindakan  kepura-puraan Manikebuis itu keji dan berbahaya? Karena manifestasi aksi mereka bukanlah kebudayaan semata, melainkan politik. Politik yang dijadikan panglima di bawah komandan kaum militeris fasis demi merebut kekuasaan politik. Dan dengan kudeta militer mereka berhasil mencapai tujuan. Dengan tumbangnya rezim OrLa BK dan dengan tumbalnya jutaan Korban jiwa dan korban derita sengsara manusia lainnya. Korban yang jatuh begitu saja, tanpa perlawanan dan tanpa tahu apa dosa mereka. Persis,  seperti digambarkan secara plastis lagi puitis oleh penyair HR Bandaharo dalam sajak-sajaknya:
 
Cerita
 
ada cerita datang
putera - puteri tanahair bermatian
mayat - mayat bergelimpangan di jalanan
atau berhanyutan di sungai - sungai
 
untuk apakah semua kematian ini
harus menimpa tanahair?
mereka yang mati tiada mengetahui.
 
hati jadi hitam karena dihasut
dan membunuh jadi kebajikan.
yang mati adalah yang dihasut
yang membunuh adalah yang dihasut.
penghasut-penghasut dianggap pahlawan.
 
putera - puteri tanahair bermatian
begitu cerita datang
ketika musim hujan sudah mulai
dan flamboyant merah mengembang.
 
*
 
Dosa Apa
 
kelam mnyungkup malam
laksana langit terhempas ke bumi.
bintang – bintang pudar bertaburan
besi dan besi berlaga, memercikkan api.
kelam menyusupi kalbu.
setiap orang meraba tanpa pedoman
berkeliaran tanpa tuju
dalam suatu arak – arakan
buta mata – tuli telinga.
 
putera – puteri agustus terseret ke belakang kawat – duri
membawa hati penuh tanya
tentang dosa apa dan dosa siapa.
 
lalu menyerahlah siapa yang menyerah
karena rela menerima sendiri
dosa tak pernah diperbuat –
tercoret kening, tertampar pipi.
 
*
 
Begitulah, betapalah bedanya antara kata, antara pernyataan lisan maupun tulisan, dengan sikap-pendirian serta perbuatan kaum Manikebuis di hadapan kenyataan. Kenyataan telah terjadinya perubahan besar yang mendasar. Dimana gerakan perjuangan kaum progresip revolusioner di bawah pimpinan PBR/Pangti/Presiden Sukarno dikalahkan oleh kaum kontra-revolusioner yang mengabdi strategi dan taktik trik kaum nekolim pimpinan Amerika Serikat. Dengan suatu Tragedi Nasional yang kedahsyatan skalanya belum pernah terjadi dalam sejarah Indonesia modern. Dengan korban pembinasaan manusia yang teramat tinggi – semata-mata sebagai korban dari percaturan perpolitikan. Dalam masa penting lagi genting itu – sejuta kali orang berhak mengajukan pertanyaan: apa yang perbuat oleh kaum Manikebuis?“
 
„Apa?“
 
Tak urung salah seorang penandatangan Manikebu dan peserta KKPI  macam GM juga yang bilang: „...Ketika kemudian arus berbalik, dan PKI hancur, dan Lekra dibubarkan dan Pramoedya ditangkap dan dibuang di Pulau Buru tanpa proses pengadilan, orang Manifes Kebudayaan pun diam saja. Saya kira malah banyak yang lega. Atau setidaknya hanya termangu, antara menyesalkan kebrutalan itu dan manggut-manggut memahami.“ Demikian antara lain tulis Goenawan Mohamad dalam Catatan Pinggir berkenaan dengan Pram (Suara Independen N° 3/1, Agustus 1995).
 
Begitulah -- saya ulang dan garis bawahi --  dengan mengingat kenyataan terjadinya tragedi yang dahsyat itulah, saya nyatakan betapa kejinya kepura-puraan baik dalam soal politik maupun dalam hal humanisme atau perikemanusiaan. Karena tak seorangpun dari mereka yang tergugah dan berani tampil serta melakukan protes dihadapan kebiadaban yang merusak peradaban manusia. Sama-sama sebangsa pula.
 
Dari sekian juta orang Indonesia yang berpendidikan tinggi, sarjana, budayawan, seniman, pengarang, penyair, wartawan, hanya ada seorang saja yang berani. Menurut catatan Ben Anderson tentang Pembantaian Massal –  seseorang yang berani menyatakan ketidaksetujuannya akan penangkapan dan pembantaian massal serta pengiriman ke Pulau Buru adalah seorang yang justeru aktip melawan PKI; orang yang bukan penandatangan Manikebu macam Soe Hok Djin, melainkan adiknya bernama: Soe Hok Gie. Bukti kecerahan seorang intelektual  yang berprikemanusiaan.***
 

Ringkasan lain tentang Korban Budaya Terorisme OrBa Tiada Terkira
Mohon ringkasan ini dinilai : 1 2 3 4 5


Tambahkan komentar Anda Tidak ada komentar

Read Free Summaries - Write and Get Paid

Summarize Human Knowledge on Shvoong. Join us!

------