Halaman Utama Shvoong > Ilmu Sosial > Soal Manifestasi Aksi Budaya Teroris OrBa

.

Soal Manifestasi Aksi Budaya Teroris OrBa

Summary rating: 2 stars 2 Tinjauan
Pengarang : A.Kohar Ibrahim
Summary by : akibr
Kunjungan : 136  kata: 900   Diterbitkan di: Nopember 24, 2007
Soal Manifestasi Aksi Budaya Teroris OrBa
 
 
Oleh : A.Kohar Ibrahim
 
 
WAJAR saja, jika dinyatakan bahwa budaya kekerasan dan korupsi tumbuh subur di bawah rezim OrBa Jenderal. Terlebih dulu, saya tegaskan, bahwa saya tidak lagi menyatakan sebagai rezim « Dewan Jenderal » seperti yang dibayangkan sebagai sasaran  « Dewan Revolusi »nya Kolonel Untung ; saya sebut begitu, karena dalam periode tahun-tahun awal mulanya, pengusasa yang sebenarnya memang di bawah komando Jenderal-Jenderal Suharto dan Nasution.
 
Dan dalam kenyataannya pula, bahwasanya manifestasi aksi kekerasan bersenjata yang mendera jutaan korban jiwa dan kesengsaraan lainnya itu adalah tak lain tak bukan merupakan Teror Putih. Teror yang dilancarkan sudah sejak 1 Oktober 1965. Dalam segala macam bentuk dan caranya. Sambung menyambung dengan penyiar-sebaran lewat pers dan pedato serta bentuk atau cara agitasi-propaganda keji lainnya. Dengan menggunakan fakta yang dipalsukan berupa foto-foto pengangkatan jenazah korban G30S-1965 dari Lubang Buaya. Dalam rangka propaganda hitam penguasa OrBa Jenderal diberbagai media massa yang dihegemoninya, pun penerbitan lainnya sesudah masa maraknya Teror Putih 1965-1966, sampai pada tahun 1970-an, bahkan 1990-an. Seperti terbukti dimuat-siarkannya dalam buku Taufik Ismail « Tirani dan Benteng » itu. Dan budaya kekerasan teroris itu pun berkecamuk sampai pada masa tumbangnya kepala rezim OrBa Jenderal ; bahkan sampai kini pun budaya terorisme dalam segala manifestasinya  belum terkiskis habis.
 
Terlebih dulu, soal pengartian kata teror dan terorisme. Seperti diketahu, kata teror atau terorisme muncul dalam periode Revolusi Perancis.  Dalam Kamus Umum Bahasa Indonesia karya Poerwadarminta, ada dijelaskan bahwa, « terorisme : praktek-praktek tindakan teror ; penggunaan kekerasan untuk menimbulkan ketakutan, diusaha untuk mencapai suatu tujuan (terutama tujuan politik). » Kata teror bermakna : perbuatan (pemerintahan dsb) yang sewenang-wenang (kejam, bengis dsb). Sedangkan kata teroris : orang yang menggunakan kekerasan untuk menimbulkan ketakutan, biasanya untuk tujuan politik.
 
Jelaslah, contohnya seperti gerombolan yang melakukan penyerbuan dan pembakaran gedung CC PKI di Kramat Raya tanggal 7 Oktober 1965 ; juga terhadap Pramoedya Ananta Toer  pada tanggal 13 Oktober 1965 ; pun « penumpasan sama sekali » yang dibawah komandan RPKD Kolonel Sarwo Edhi seterusnya merupakan bukti gamblang dari manifestasi aksi terorisme yang tulen. Yang dilakukan baik oleh gerombolan berpakaian sipil maupun pasukan resmi yang berpakaian seragam serta bersenjata lengkap. Gerombolan dan pasukan para algojo yang sebenarnya, yang hanya bergerak melaksanakan kejahatan kemanusiaannya berkat kerjasama erat diantara mereka. Seperti dinyatakan oleh Komandan RPKAD Sarwo Edhie. Yang kesemuanya dilakukan secara sistimatis dan terang-terangan – menurut Indonesianis Prof. WF Wertheim maupun Prof. Ben Anderson. (Majalah ARENA N° 24 1998).
 
Dan manifestasi aksi terorisme di segala bidang kehidupan masyarakat itu bukan berlangsung selama sehari dua hari, bukan setahun dua tahun, melainkan berpuluhan tahun adanya ! Dan para korban Teror Putih itu bukan hanya sejumlah kecil orang-orang yang kehilangan kedudukan atau tempat untuk menyalurkan hasil karyanya, melainkan dalam jumlah yang ratusan ribu bahkan jutaan manusia ! Yang tewas dalam pembantaian massal, yang dikejar-kejar, yang ditangkap dan disiksa, yang dijebloskan dalam penjara dan di buang ke kamp konsentrasi kerja paksa Pulau Buru. Di Pulau Buru saja jumlahnya 14.000 jiwa, termasuk para pemuda pelajar, pekerja budaya, seniman dan sastrawan – yang salah seorangnya adalah Pramoedya Ananta Toer !
 
Ditinjau dari segi jangka waktu maupun skalanya, kemalangan apa yang dialami Manikebuis memang tak seberapa. Bahkan apa yang dialami oleh seeorang Pramoedya saja pun, kemalangan yang mereka alami tak seberapa  adanya.. Akan tetapi, sejak awal mula mereka turut menegakkan rezim militers fasis OrBa,  tuduh-tudingan yang keji tak kunjung henti dilontarkan ke alamat Pram. Bahkan samapi mati dan sesudah matinya. Sampai kini malah.
 
« Kenapa ? »
 
« Karena, mungkin sekali, seperti yang dikatakan Goenawan Mohamad, dalam Catatannya 17 Agustus 1995, bahwa : « Pramoedya Ananta Toer, mau tak mau dialah yang layak jadi simbol perbenturan (dan juga pertautan) antara ide dan kekuasaan, sebuah icon tersendiri didalam sejarah Indonesia modern – khususnya selama 50 tahun merdeka. »
 
« Simbol yang jadi sasaran utama ujung tombak mereka yang menganggapnya sebagai musuh, yah ? »
 
« Lha, iya. Sasaran teror psykik sekaligus fisik. Seperti pencantelan stigma: Terlibat „G30S/PKI“; hendak mengubah Undang-Undang Dasar Negara Pancasila; penganut dan penyebar ideologi Maxisme, Leninisme, Stalinisme, Komunisme. Dan selarik cap yang sewenang-wenang lainnya.“
 
„Misalnya? Dari siapa?“
 
„Terutama sudah tentu dari pihak kaum Manikebuis. Yang kesemuanya hendak melukiskan Pramoedya Ananta Toer adalah sosok tokoh yang telah berkuasa dan melakukan banyak dosa,  mengerikan, seperti pemberangusan, pembakaran buku, teror bahkan bersama PKI dan Lekra juga melakukan pembunuhan. Seperti dinyatakan W.S. Rendra di FORUM 28 Agustus 1995. Sebelumnya, Rosihan Anwar dan Goenawan Mohamad pun menggambarkan sosok Pram sebagai penggasak dan pembantai yang tergalak, sedang Sitor Situmorang sebagai pengganyang yang paling lantang (TEMPO 1 Nopember 1980). Sedangkan Mahrus Irsyam, dalam PERSEPSI Th 3 N° 1 – 1981 bahkan menyatakan Pram sebagai jurubicara sekaligus algojo Lekra.“
 
Manifestasi aksi teror terhadap Pramoedya Ananta Toer secara psikik maupun fisik berlangsung permanen, seperti halnya juga yang dialami berjuta-juta manusia sebangsa Indonesia lainnya. ***
 
 Tulis ringkasan Anda di sini.

Ringkasan lain tentang Soal Manifestasi Aksi Budaya Teroris OrBa
Mohon ringkasan ini dinilai : 1 2 3 4 5


Tambahkan komentar Anda Tidak ada komentar

Read Free Summaries - Write and Get Paid

Summarize Human Knowledge on Shvoong. Join us!

------