Halaman Utama Shvoong > Ilmu Sosial > Memaknai Pembakaran Buku Pembakaran Manusia

.

Memaknai Pembakaran Buku Pembakaran Manusia

Pengarang : A.Kohar Ibrahim
Summary by : akibr
Kunjungan : 86  kata: 600   Diterbitkan di: Nopember 23, 2007
 
Memaknai Pembakaran Buku Pembakaran Manusia
 
 
 
Oleh: A.Kohar Ibrahim
 
 
 
TIDAK disangsikan lagi, bahwasanya manifestasi aksi pembakaran buku adalah merupakan tindakan kebiadaban dan tak berkebudayaan. Karena buku-buku, merupakan milik umum dan kekayaaan kepustakaan – nasional maupun internasional.
 
Oleh karena itu pula, ketika kami memulai mengelola penerbitan yang tergolong pers alternatif, seperti penerbitan majalah-majalah seperti KREASI N° 1 dan 2, kulit mukanya masing-masing berupa kulit-muka buku-buku dan ilustrasi komposisi gambar: “Pembakar Terbakar”. Yang sarat asa dan keyakinan, bahwa penguasa di Indonesia yang melakukan pembakaran buku pasti akan terbakar pula. Sedangkan isinya, antara lain memuat esai sastra oleh Alan Hogeland alias Kamal Rangkuti berjudul “Bombas?  Saya Kira Tidak”. Dengan menampilkan  sajak berjudul “Surat Kepada Pram” karya Agam Wispi.
 
*
 
Surat Kepada Pram
 
Oleh: Agam Wispi
 
pram, pernah heinrich heine berkata:
mereka yang membakar buku-buku, di sana
pada akhirnya mereka membakar manusia –
tak perduli di mana saja kapan saja
 
ketika api menjilat-jilat di opernplatza,
                                                         membakar
buku mulai marx sampai heinrich mann dan
                                                              kastner
mereka sedang membakar peradapan jadi kebiadapan
dan dalam krematori manusia dijadikan abu
                                                          dan arang
 
pram, kata bulgakow naskah tak bisa dihancurkan
dan bagimu manusia tak bisa dimusnahkan
karena itu menjulang bagai tugu-peringatan
kau tegak membela manusia dan kemanusiaan
 
dan ketika di jakarta buku-buku (mu) masuk penjara
mereka memenjarakan manusia jadi umpan zamantengah
bagai ombak indonesia berdeburan, jantung
                                                   manusia berdeburan
wahai pemuda, masih tidur kalian? di mana kalian?
 
Amsterdam, 1 September 1988.
 
*
 
Dan selama di Brussel juga, aku ketemu pelukis Edouardo, eksilan asal Chilie, pengagum penyair besar Pablo Neruda. Penyair realisme romantis sekaligus diplomat dan penulis di bawah rezim Allende. Tapi begitu rezim militer fasis Jenderal Pinochet berkuasa, nasib Pablo Neruda pada hakikatnya pun tidak beda dengan Pramoedya Ananta Toer. Rumah dan perpustakaan serta harta-benda milik pribadinya jadi sasaran aksi  vandalisme gerombolan fasis.
 
Dan juga, di Brussel, aku „mengenal“ Multatuli dan kaum eksilan kondang lainnya, seperti Baudelaire, Hugo, Rimbaud dan yang lainnya, istimewa sekali mencengkam opini cendekiawan Perancis Voltaire yang begitu pas bagiku:
 
„Sungguh pun aku membenci pandangan mu, tapi akan ku bela dengan jiwa ku sendiri hak mu untuk mengutarakannya.“
 
Baris kata bernas bagai azas  itu tercantum dalam makalah berjudul „Masalah Sosialisme Dewasa Ini“ oleh Asnan, yang ku kenal sebagai ahli teori. In Majalah MIMBAR N° 1 Th 1990, ISSN 0925-5176, Stichting Indonesia Media, Amsterdam, yang di-editori oleh  D. Tanaera alias A.Kohar Ibrahim.
 
Atas dasar penerimaan dan penghormatan saya akan Hak-Hak Azasi Manusia yang di terbitkan oleh PBB 10 Desember 1948 dan penerimaan saya akan Panca Sila serta pengadopsian saya akan opini Voltaire – sebagai konsekwensinya saya menentang pemberangusan yang sewenang-wenang pun pembakaran buku-buku yang adalah merupakan kekayaan ummat manusia. Dalam pada itu, saya setuju adanya pembredelan penerbitan atau buku-buku, jika memang terbukti, atas dasar penelitian yang cermat dan ditemukan bukti-bukti kesalahan melalui keputusan Pengadilan resmi, bahwa hasil terbitan atau buku-buku tersebut memang bertentangan dengan HAM dan merusak peradaban manusia.
 
Sebagai saksi sekaligus pelaku sejarah gerakan kebudayaan Indonesia dan pekerja pers, saya menolak tuduhan sekaligus cap baik terhadap Pramoedya Ananta Toer maupun Lekra, termasuk saya sendiri, telah pernah melakukan pembakaran buku-buku.  Dalam pada itu, saya mengutuk kaum pendusta sekaligus pemfitnah yang sejak dulu sampai detik ini, menerapkan garis politik OrBa atau sikap-tindakan OrBais. Seiring dengan itu, menuntut dipulihkannya hak-hak azasi manusia kami.
 
Dalam kaitan ini, khususnya kepada kaum Manikebuis yang telah dengan aktip turut menegakkan rezim diktatorial OrBa Jenderal, yang selama berpuluh-puluh tahun ataukah membiarkan ataupun  malah turut melakukan penindasan dan pemberangusan atas hak-hak azasi kami, saya tuntut pertanggungan-jawab morilnya. ***

Ringkasan lain tentang Memaknai Pembakaran Buku Pembakaran Manusia
Mohon ringkasan ini dinilai : 1 2 3 4 5


Tambahkan komentar Anda Tidak ada komentar

Read Free Summaries - Write and Get Paid

Summarize Human Knowledge on Shvoong. Join us!

------