Memaknai
Pembakaran Buku Pembakaran
Manusia Oleh: A.Kohar Ibrahim
TIDAK disangsikan lagi, bahwasanya manifestasi aksi pembakaran buku adalah merupakan tindakan kebiadaban
dan tak berkebudayaan. Karena buku-buku, merupakan milik umum dan kekayaaan kepustakaan – nasional maupun internasional.
Oleh karena itu pula, ketika kami memulai mengelola penerbitan yang tergolong pers alternatif, seperti penerbitan majalah-majalah seperti KREASI N° 1 dan 2, kulit mukanya masing-masing berupa kulit-muka buku-buku dan ilustrasi komposisi gambar: “Pembakar Terbakar”. Yang sarat asa dan keyakinan, bahwa penguasa
di Indonesia yang melakukan pembakaran buku pasti akan terbakar pula. Sedangkan isinya, antara lain memuat esai sastra oleh Alan Hogeland alias Kamal Rangkuti berjudul “Bombas? Saya Kira Tidak”.
Dengan menampilkan sajak berjudul “Surat Kepada Pram” karya Agam Wispi.
*
Surat Kepada Pram
Oleh: Agam Wispi
pram, pernah heinrich heine berkata:
mereka yang membakar buku-buku, di sana
pada akhirnya mereka membakar manusia –
tak perduli di mana saja kapan saja
ketika api menjilat-jilat di opernplatza,
membakar
buku mulai marx sampai heinrich mann dan
kastner
mereka sedang membakar peradapan jadi kebiadapan
dan dalam krematori manusia dijadikan abu
dan arang
pram, kata bulgakow naskah tak bisa dihancurkan
dan bagimu manusia tak bisa dimusnahkan
karena itu menjulang bagai tugu-peringatan
kau tegak membela manusia dan kemanusiaan
dan ketika di jakarta buku-buku (mu) masuk penjara
mereka memenjarakan manusia jadi umpan zamantengah
bagai ombak indonesia berdeburan, jantung
manusia berdeburan
wahai pemuda, masih tidur kalian? di mana kalian?
Amsterdam, 1 September 1988.
*
Dan selama di Brussel juga, aku ketemu pelukis Edouardo, eksilan asal Chilie, pengagum penyair besar Pablo Neruda. Penyair realisme romantis sekaligus diplomat dan penulis di bawah rezim Allende. Tapi begitu rezim militer fasis Jenderal Pinochet berkuasa, nasib Pablo Neruda pada hakikatnya pun tidak beda dengan Pramoedya Ananta Toer. Rumah dan perpustakaan serta harta-benda milik pribadinya jadi sasaran aksi vandalisme gerombolan fasis.
Dan juga, di Brussel, aku „mengenal“ Multatuli dan kaum eksilan kondang lainnya, seperti Baudelaire, Hugo, Rimbaud dan yang lainnya, istimewa sekali mencengkam opini cendekiawan Perancis Voltaire yang begitu pas bagiku:
„Sungguh pun aku membenci pandangan mu, tapi akan ku bela dengan jiwa ku sendiri
hak mu untuk mengutarakannya.“
Baris kata bernas bagai azas itu tercantum dalam makalah berjudul „Masalah Sosialisme Dewasa Ini“ oleh Asnan, yang ku kenal sebagai ahli teori. In Majalah MIMBAR N° 1 Th 1990, ISSN 0925-5176, Stichting Indonesia Media, Amsterdam, yang di-editori oleh D. Tanaera alias A.Kohar Ibrahim.
Atas dasar penerimaan dan penghormatan saya akan Hak-Hak Azasi Manusia yang di terbitkan oleh PBB 10 Desember 1948 dan penerimaan saya akan Panca Sila serta pengadopsian saya akan opini Voltaire – sebagai konsekwensinya saya menentang pemberangusan yang sewenang-wenang pun pembakaran buku-buku yang adalah merupakan kekayaan ummat manusia. Dalam pada itu, saya setuju adanya pembredelan penerbitan atau buku-buku, jika memang terbukti, atas dasar penelitian yang cermat dan ditemukan bukti-bukti kesalahan melalui keputusan Pengadilan resmi, bahwa hasil terbitan atau buku-buku tersebut memang bertentangan dengan HAM dan merusak peradaban manusia.
Sebagai saksi sekaligus pelaku sejarah gerakan kebudayaan Indonesia dan pekerja pers, saya menolak tuduhan sekaligus cap baik terhadap Pramoedya Ananta Toer maupun Lekra, termasuk saya sendiri, telah pernah melakukan pembakaran buku-buku. Dalam pada itu, saya mengutuk kaum pendusta sekaligus pemfitnah yang sejak dulu sampai detik ini, menerapkan garis politik OrBa atau sikap-tindakan OrBais. Seiring dengan itu, menuntut dipulihkannya hak-hak azasi manusia kami.
Dalam kaitan ini, khususnya kepada kaum Manikebuis yang telah dengan aktip turut menegakkan rezim diktatorial OrBa Jenderal, yang selama berpuluh-puluh tahun ataukah membiarkan ataupun malah turut melakukan penindasan dan pemberangusan atas hak-hak azasi kami, saya tuntut pertanggungan-jawab morilnya. ***
Ringkasan lain tentang Memaknai Pembakaran Buku Pembakaran Manusia