Halaman Utama Shvoong > Ilmu Sosial > Di Mana Letaknya Perikemanusiaan Manikebu

.

Di Mana Letaknya Perikemanusiaan Manikebu

Pengarang : A.Kohar Ibrahim
Summary by : akibr
Kunjungan : 93  kata: 900   Diterbitkan di: Nopember 23, 2007
Di Mana Letaknya Perikemanusiaan Manikebu    Oleh : A.Kohar Ibrahim    BAHWA kaum militer fasis, setelah berhasil memberangus pers lawan politiknya, maka dengan pers yang dihegemoninya,  melancarkan propaganda hitam. Propaganda berupa dusta dan fitnah sekitar ditemukannya 7 mayat perwira TNI Di Lubang Buaya, demi membangkitkan kemarahan. Maka terjadilah kebiadaban di mana-mana di bumi Indonesia ini.   « ... Di dalam rapat-rapat umum secara terang-terangan massa didorong untuk menjalankan tindakan-tindakan teror. Misalnya dalam rapat-rapat umum pembicara berteriak-teriak « untuk setiap jenderal diganti dengan 100.000 komunis ». Sebagai akibat dari kampanye jahat yang tidak bertanggungjawab itu telah timbul tindakan-tindakan biada terhadap anggota-anggota PKI dan khususnya anggota-anggota Gerwani telah mengalami perlakukan-perlakuan yang sadis. »   « Apa akibatnya mudah diduga, » lanjut Ruslan Widjajasastra. « Di bawah perlindungan alat-alat negara, yang tanpa persetujuan dari atasannya yang anti-komunis tidak mungkin mereka berani bertindak, maka kelompok pendukung jenderal-jenderal kanan AD mulai mengganas di mana-mana. Ratusan ribu komunis dan non-komunis, laki-laki, wanita, pemuda, ya – bahkan anak-anak telah menjadi mangsa kebiadaban luarbiasa. Perlakuan-perlakuan sadis, siksaan-siksaan tak terperikan di luar batas perikemanusiaan menyertai pembunuhan-pembunuhan massal. Satu keluarga dibunuh habis (ayah dan anak-anaknya) ; seorang ibu baru melahirkan – dibunuh ; seorang wanita dengan menggendong anaknya dibunuh di pinggirian kali dan banyak korban lainnya telah dihabisi nyawanya di situ juga, maksud para algojonya tidak perlu menggali lubang kubur. Di Jatim orang digantung di pepohonan, kepala orang dipamerkan di pasar-pasar atau disandarkan di pohon di pinggir jalan, ada yang dibunuh secara pelan-pelan dengan memotongi anggota-anggota badannya satu demi satu ; orang tua dipaksa melihat anaknya dibunuh sebelum dirinya sendiri dihabisi nyawanya. Di Jogya korban-korban diharuskan terjun ke dalam satu parit yang terkenal dengan nama luweng di pantai selatan Jogya. Di satu penjara pasuskan-pasukan pemerintah yang luarbiasa anti-komunisnya memerintahkan tahanan-tahanan terjun dari suatu platform dengan kepala di bawah, dan bahwa masih ada di antara korban-korban itu yang tetap hidup adalah suatu keajaiban belaka. Kemaluan laki-laki dipotong sebagai bukti untuk menentukan jumlah uang yang harus dibayar kepada algojo. Bahwa pembantaian terhadap kaum komunis dan non-komunis bukannya suatu ekses biasa, tetapi suatu perbuatan yang sedar dan berencana dapat dilihat dari bahwa di mana-mana di seluruh tanah air yang menjadi sasaran pembunuhan adalah, di samping massa biasa adalah pemimpin-pemimpin PKI setelah sampai ke desa-desa, pimpinan organisasi-organisasi revolusioner dan juga anggota lembaga-lembaga pemerintah daerah (DPRD-BPH), juga bisa dilihat dari sistim bon-bonan terhadap orang yang sudah ditahan yang biasanya dianggap anggota PKI yang penting dan tak jarang bon-bonan ini melalui tawar-menawar tentang jumlah uang yang harus dibayar untuk membeli jiwa orang yang hendak dijadikan korban yang dilakukan antara penguasa militer setempat dengan pihak reaksi. Masih banyak lagi bentuk-bentuk pembunuhan yang sadis. Di banyak tempat korban-korban dimasukkan sungai atau laut dengan diberi batu (bandul pemberat) sehingga dapat tenggelam sampai ke dasar. Tetapi banyak juga yang sesudah dibunuh dilemparkan begitu saja di sungai-sungai seperti Bengawan Solo, Kali Brantas, Musi dll ; dilemparkan ke jurang-jurang. Bahwa ada kesengajaan untuk membunuh bisa juga dilihat dari mereka yang tanpa proses pengadilan telah ditembak oleh penguasa militer setempat ; bisa dilihat dari nasib tahanan-tahanan yang sudah ada dalam tahanan pemerintah waktu itu. Para tahanan dengan sengaja hampir tidak diberi makan,sehingga akibatnya sesudah sekian hari atau minggu para tahanan mati kelaparan. Di Sumatera Selatan misalnya tahanan hanya diberi 40 butir jagung untuk selama 24 jam dan akibatnya 90% tahanan mati. Dengan jalan beginilah banyak tahanan di berbagai penjara/tempat tempat tahanan lainnya di Jawa dll kepulauan menjadi mati kelaparan. (Penjara Kalisosok Sumatera, Salemba Jakarta, Tanggerang dll). Di Salemba sampai tahun 1969 masih terdapat korban mati kelaparan. Bahwa pembunuhan-pembunuhan berselubung ini sampai sekarang masih berlangsung bisa dibuktikan dari perlakuan yang dijalankan terhadap tahanan-tahanan di mana misalnya di berbagai kamp tahanan masih terdapat tahanan-tahanan yang hanya diberi makan 10 sampai 25 sendok makan sehari ; bergroting untuk tahanan hanya Rp 25,- seorang termasuk biaya pengobatan. Sebagai akibat dari keganasan teror itu, yang dilakukan atau di bawah lindungan atau langsung juga oleh pasukan-pasukan tertentu dari pemerintah, di berbagai tempat telah terjadi bahwa seluruh kader setempat mati terbunuh, ada yang separo terbunuh. Kita mencatat pembunuhan yang paling besar misalnya di Jatim, Jateng dan Bali. »   Uraian itu adalah dari Pembelaan Ruslan Widjajasastra 22 Juni 1974 hlm 25-26, in « ZIARAH » (KREASI N°  17, 1994).   Demikianlah salah sebuah contoh pengungkapan pada saat mengamuknya Teror Putih yang  berdarah yang dilancarkan penguasa OrBa Jenderal. Dalam periode mana seorang  konseptor Manikebu macam Wiratmo Sukito petentengan sembari menuding-nuding kaum yang dianggap musuhnya sebagai « algojo-algojo politik ». Padahal algojo politik dan algojo fisik sesungguhnya sedang gentayangan di pelosok kota maupun desa melakukan misi suci rezim militer fasis OrBa Jenderal !   Dan khususnya mengenai tudingan « algojo » itu mestinya terutama sekali tertuju pada Boss militernya sendiri, sekalian dirinya sendiri. Karena, dalam hal aksi kekejaman yang dituduhkan ke alamat Pramoedya dan Lekra, kaum Manikebuis memang lihai mengarang kegarangan. Seperti yang dikonstatasi oleh Pramoedya dalam Surat Terbuka Kepada Keith Foulcher (5 Maret 1985). Bahwa mereka itu, getol membela diri dan merintihkan kemalangan masa lalunya yang tak seberapa kebanding derita yang dialami oleh Pram sendiri. Dan « Setelah mereka berhasil ikut mendirikan rezim militer, tak seorang pun di antara para manikebuis pernah menyatakan simpati – jangan bayangkan protes – pada lawannya yang dibunuh, kias atau pun harfiah. Sampai sekarang. »    Pertanyaannya yang setajam pedang kilat adalah : « Wahai, Manikebuis ! Di mana kalian ketika pementasan tragedi manusia itu terjadi ? Di mana letaknya falsafah Humanisme Universil dan Peri Kemanusiaan kalian? » ***

Ringkasan lain tentang Di Mana Letaknya Perikemanusiaan Manikebu
Mohon ringkasan ini dinilai : 1 2 3 4 5


Tambahkan komentar Anda Tidak ada komentar

Read Free Summaries - Write and Get Paid

Summarize Human Knowledge on Shvoong. Join us!

------