Halaman Utama Shvoong > Ilmu Sosial > Manikebu Juga Manifestasi Aksi Politik

.

Manikebu Juga Manifestasi Aksi Politik

Pengarang : A.Kohar Ibrahim
Summary by : akibr
Kunjungan : 152  kata: 900   Diterbitkan di: Nopember 23, 2007
 
Manikebu Juga Manifestasi Aksi Politik
 
Hidup Mati Penulis & Karyanya (13)
 
Oleh A.Kohar Ibrahim
 
 
 
DALAM  buku Pertumbuhan Pekembangan Dan Kejatuhan Lekra Yahya Ismail itu dijelaskan pula: “Manifes Kebudayaan bukanlah sebenarnya tidak berbau politik. Wiratmo Sukito menganggap Manifes berbau “politik pragmatisme yang dapat diibaratkan seperti domba berbadan lemah yang tidak berdosa, tetapi yang dengan segala naivitasnya  menyuarakan tantangannya ditengah-tengah algojo-algojo politik yang zalim serta tidak mengenal hati-nurani”, kata Wiratmo Sukito, yang dikutip Yahya Ismail dari tulisan sang konseptor Manikebu itu berjudul “Manifes dan Masalah-Masalah Sekarang”, DALAM majalan Horison nomor 5, th II, Mei 1967, hlm 132-133.
 
Dahsyat! Betapalah kekejian ke-pura-pura-an kaum Manikebuis itu – baik dalam hal koar-koar mereka sebagai seniman, intelektual dan karyawan pengarang yang a-politik dan penganut humanisme universal, namun dalam sikap-pendirian sekalian dalam perbuatannya adalah tak lain kecuali menajalankan aksi politik. Simaklah pula, pernyataan sang konseptor Manikebu itu diutarakan bulan Mei 1967. Artinya setelah dan sedang terjadi  -- sejak 1 Oktober 1965 --  aksi vandalisme, pembakaran buku, harta benda, penggeledahan, penangkapan, penyiksaan, pemenjaraan, pembunuhan dan pembuangan ratusan ribu bahkan jutaan manusia bangsa sendiri: dari Pramoedya Ananta Toer sampai para Menteri Negara rezim OrLa BK, kaum democrat para pendukung BK dan kaum Wong Cilik serta kaum Marhaen kota sampai pelosok desa. Semua aksi kejahatan kemanusiaan dibawah komando kaum militeris fasis OrBa Jenderal itu, dengan entah berapa banyak pasukan algojonya, rupanya bukan saja tidak bisa menggugah perasaan seorang Wiratmo Sukito – konseptor Manikebu pengibar Humanisme Universil itu! Sebaliknya  malah: dia doyan mengunyah argumentasi seraya  melontarkan kutukan pada “algojo-algojo politk yang zalim serta tidak mengenal hati-nurani” alias para penentang Manikebu di zaman Bung Karno. Sungguh dia lihai memainkan peran tragedi-komedi dengan gaya “maling teriak maling”!
 
Bukankah, dari sini saja sudah bisa disimak betapa jahat dan kejinya kepura-puraan pernyataan yang muluk-muluk akan kebudayaan dan perikemanuisaan yang didengungkannya, namun sangat bertolak belakang dengan perbuatan dan dampaknya?
 
Dari bukti dan dampak yang dahsyat berupa malapetaka Tragedi Nasional yang menelan bukan hanya seorang, bukan pula hanya 7 jiwa, melainkan jutaan jiwa manusia baik yang tewas maupun menderita sengsara itu, iya – memang benar. Iya benar, bahwasanya manifestasi aksi Manikebu itu memang suatu musibah! Karena di balik kepura-puraan a-politik mereka, di balik jubah humanisme universal mereka, Manikebu/KKPI adalah suatu kendaraan ciptaan kaum politisi militeris yang anti-komunis. Yang terkonsertasi dalam politik global kaum nekolim pimpinan kaum imperialis AS dalam maraknya Perang Dingin Yang panas.
 
Maka, soal bahaya yang amat bahanya memang terletak terletak di situ. Dalam makna begitu. Bukan pada teks atau naskah Manifes Kebudayaan itu semata-mata. Kalau hanya baris-baris huruf, kata-kata, yang tak bisa bergerak saja sih sopo takut? Apa pula Cuma seringkas itu saja. Akan tetapi naskah itu ada karena dibuat manusia. Ada pencetus ide atau pencetus gagasan. Wiratmo, dalam suatu interview, menyatakan ide Manikebu dari Goenawan Mohamad cs, tapi dia sendiri mengklaim sebagai konseptornya. Dan sesungguhnya siapa Wiratmo? Manusia macam apa?  Dia sendiri sudah buka diri, mengaku: sebagai orang yang termasuk kaum yang „berbulu domba“ (lihat di atas).
 
Menurut artikel intervieuwnya dengan wartawan Majalah TIRAS ( edisi 1 Juni 1995), dia mengaku semasa muda sangat dekat dengan Marxisme. Sebagai anggota IPPI ia  pernah mengikuti kursus politik. „Hampir semua guru saya berpaham marxisme“, jelasnya. „Setelah dewasa, ia justru penentang tegar kaum marxis (komunis) di Indonesia.“
 
Ketika dikejar oleh wartawan TIRAS itu: „Bagaimana ceritanya, Anda menjadi konseptor Manifes?“
 
„Saya didorong oleh teman-teman muda, seperti Goenawan, Bur Rasuanto, Arief Budiman,” jelas Wiratmo Sukito, dengan nada yang mempertandakan kearogansiannya sebagai tokoh senior, bahwa „anak-anak muda“ itu:“Mereka kan kepengin punya nama.“
 
Begitulah, antara lain, apa-siapa-nya Wiratmo Sukito sang konseptor Manikebu. Namun,  perjalanan sejarah tidak hanya sampai di situ. Setelah pengkonsepsian dan penandatanganan serta pemproklamasian naskah Manikebu, dilanjutkan untuk pengukuhan serta kelanjutan manifestasi aksi kebudayaan mereka dengan penyelenggaraan KKPI. Dalam mana, juga peranan aktor Wiratmo Sukito sang konseptor Manikebu itu sangat menonjol.
 
Bagaimana lebih jelas atau lebih persisnya? Lagi-lagi, bukan kepada saya dituntut untuk memberikan penjelasan. Melainkan, tanggungjawab ini, terutama sekali terletak pada  para penggagas dan penandatangan Manikebu serta para peserta KKPI. Suatu konferensi yang katanya dihadiri oleh „1455 orang peserta perorangan dan 41 organisasi yang tersebar di seluruh tanahair“ – menurut surat H.B. Jassin pada Menteri P.D. dan K, Prof. Dr Prijono tanggal 6 Mei 1964. Sedangkan menurut surat Bokor Hutasuhut kepada Jenderal A.H. Nasution tanggal 23 April 1964 jumlah peserrta ialah 2005 orang perorangan dan 67 organisasi kebudayaan/kesenian yang menyokong Manifes Kebudayaan.
 
Mana yang benar dasi kesemuanya itu?
 
Saya garis bawahi: penjelasan dari para penandatangan Manikebu dan pserta KKPI sangat kita harapkan, dalam rangka pengkajian untuk menarik pelajaran dari pengalaman. Dalam rangka upaya demi menegakkan kebenaran dan keadilan. Demi Pencerahan dan bukan demi Penggelapan. Teriring asa  bisa merealisasi aksi kongkret yang mendasar lagi beradab; agar supaya „masa silam yang berdarah, kotor dan penuh kebencian“ tak terulang lagi. ***
 
 
 
 

Ringkasan lain tentang Manikebu Juga Manifestasi Aksi Politik
Mohon ringkasan ini dinilai : 1 2 3 4 5


Tambahkan komentar Anda Tidak ada komentar

Read Free Summaries - Write and Get Paid

Summarize Human Knowledge on Shvoong. Join us!

------