Soal Manifestasi Pura-pura A-Politik Manikebu
Hidup Mati Penulis & Karyanya (11)
Oleh : A.Kohar Ibrahim
UJAR kata Ignazio Silone : « Ne pas pleurer, ne pas rire, mais comprendre. » Iya : tak usah ditangisi, pun tak perlu ditertawakan, melainkan pahamilah. Itu memang jadi peganganku, jadi pelipur lara akan ke-masygul-an yang mengidap
di ruang dada – semenjak lebih
dari empat dasawarsa.
« Bayangkan sajalah : bukan setahun dua tahun, tapi empat puluh tahun rasa masygul mengidap di ruang dadaku. »
« Anda, dalam soal waktu, kayaknya orang yang demen cempoa
dan ngulang-bilang. Ngitung waktu itu penting banget, yah ? »
« Lha, iya, dong. Karena ada macam orang yang suka lupa,
atau belagak lupa. Sengaja atau nggak disengaja alias pura-pura. Kepura-puraan yang sudah jadi bakat yang melekat – dari masa muda sampai lansia bahkan sampai wafat . Dalam makna inilah saya dengan tegar menyatakan bahwa kepura-puraan ala Manikebu itu sangat berbahaya. Tapi rupanya persepsi tiap orang memang nggak serupa, sih. Dalam hal ini, lagi-lagi berlaku pepatah : Kepala sama berbulu, pikiran berbeda-beda juga adanya. Dan saya tambahkan : bukan hanya pikiran yang berbeda-beda, juga perasaan. Seperti dalam hal Perikemanusiaan, Humanisme. Kalau tidak lagi pura-pura atau munafik – tapi kenapa kok, ketika mendengar bahkan tahu sekali adanya manifestasi aksi vandalis dari kaum kaum fasis terhadap Pram,
mereka diam bungkam, atau malah riang kesenangan ? »
« Anda sedang melontarkan tuduhan…. »
« Bukan ! Sekedar konstatasi. Atas dasar fakta : pengakuan Pram, baik ketika ngobrol langsung atau pernyataannya yang terdokumentasi. Dan kepura-puraan kaum Manikebuis yang menyatakan penganut Humanisme Universil, yang teriak-teriak teriring upacara mempersucikan Pancasila, yang mengaku a-politik – sejak terjadinya kudeta militer dikepalai para jenderal anti-komunis sampai penglikwidasian kekuasaan PBR/Pangti/Presiden Sukarno sampai pada penglikwidasian fisik secara massal terhadap ratusan ribu bahkan jutaan manusia, terbukti gamblang sekali. Terbukti dari sikap-pendirian mereka, dari kebungkaman, dari kemasabodoan, dan malah dari yang terang-terangan ikut arak-arakan atas terjadinya Tragedi Nasional yang teramat memalukan dalam sejarah perpolitikan Indonesia modern itu ! »
« Mereka itu arak-arakan…. ? »
« Iya. Ikut arak-arakan raksasa seperti tahun 1966 itu -- yang memenuhi jalanan di Ibukota Jakarta ataupun di tempat atau kota lainnya. Arak-arakan sembari meneriakan kebencian dan permusuhan. Dalam arak-arakan menyimboliskan gerak dan irama lagu kedengaranya humanis dan mendukung revolusi serta pimpinan Bung Karno itu sebenarnya untuk merayakan kejahatan anti-kemanusiaan yang terjadi di kota maupun peloksok desa ; sebenarnya mereka lagi merayakan kemenangan atas di-injak-injaknya perikemanusiaan yang tercantum dalam Pancasila ; sebenarnya mereka sedang pesta pora penumbangan dan penghancuran rezim OrLa BK dan tegaknya rezim baru yang kemudian mereka namakan sendiri sebagai Orde Baru. OrBa Jenderal itu ! »
« OrBa Jenderal, OrBa Jenderal itu ! Anda suka mengulang ulang bilang ….Tujuannya untuk menguak « debu permusuhan » lagi ? »
„Oh, jangan hiperbola gitu lah. Saya ‚kan hanya hendak mengkonstatasi kenyataan (menurut pandanganku) dan lagi mencoba mengingatkan suasana situasi-kondisi masa itu. Dan segera setelah itu. Yang tentu saja, ada jargon-jargon politik-sosialo-budaya saat itu memang kemudian tak kedengaran lagi setelah dan selama berjayanya OrBa Jenderal. Semestinya, para Pujangga, Begawan atau Sarjana bahasa bisa menjelaskan soal persoalan Perbendaharaan Kata Sosial zaman itu, bukannya malah sebaliknya. Belagak pikun atau kejangkitan penyakit ke-pura-pura-an pula. »
« Maksud Anda… ? »
« Saya hanya ingin menjelaskan, bahwa jika saya menggunakan kata atau ungkapan yang nadanya seperti zaman menjelang dan sesudah tumbangnya rezim OrLa BK, hanya untuk menjadi penyegar ingatan : Iya, memang iya bahwasanya kata-kata yang digunakan saat itu – seperti contoh tipikalnya terdokumentasi di Lentera Pramoedya dan media massa lainnya, ya karena pada waktu itu memang begitulah adanya. Dalam hal ini, saya pun jadi teringat, adanya konstatasi dari esais Dipa Nusantara Aidit berkenaan dengan penggunaan kata Karyawan untuk menggantikan kata Buruh. Dalam hal ini, Aidit jitu ! Penggunaan kata-kata itu, menurut kesan saya juga tak lain tak bukan merupakan bentuk perjuangan politik. Terbuktikan dari cikal-bakal kendaraan politik kaum militeris yang kemudian terkenal Golongan Karya alias Golkar. Pada mulanya kan disebut SOKSI – Serikat Organisasi KARYAWAN Seluruh Indonesia. Maka, jika dikait-hubungkan dengan Manikebu ? Konferensi dan organisasi pengarang yang diselenggarkannya ‘kan bernama : KKPI – Konferensi KARYAWAN Pengarang Indonesia. KKPI berhasil membentuk KPI – Karyawan Pengarang Indonesia. Dalam hal ini, mereka bukan saja dibeking materil dari belakang, melainkan terang-terangan dipimpin oleh militer : Mayor Jenderal Dr Soedjojono. Orangnya Jenderal A.H. Nasution, Menteri Pertahanan Nasional Negara Republik Indonesia. »
« Anda bisa membuktikan lebih kongkrit ? »
« Lha, kok ? Saya ? Dulu, ketika berlangsungnya pengkonsepsian maupun penerbitan Manikebu, pun perencanaan penyelenggaraan KKPI, saya ‘kan nggak pernah diikutsertakan. Hehehe… Selain sebagai sang pemula kayak Arief Budiman dan GM, saya ‘kan « orang Lekra ». Lekra yang sudah diposisikan mereka bukan sebagai sekedar lawan perbedaan konsepsi, melainkan sudah sebagai musuh mereka. Karena mereka memang bukan untuk menyelenggarakan suatu konferensi nasional dengan para peserta dari seluruh Indonesia dan dari berbagai aliran yang ada di Indonesia -- terutama sekali kaum pendukung konsepsi Nasakom Bung Karno. Jangankan Lekra yang dengan sembarangan mereka cap Komunis, pun yang dari kalangan nasionalis macam Sitor Situmorang dengan LKN-nya saja pun nggak mereka undang, kok!“
„Dalam soal ini, iya, yang semestinya bisa menjelaskan lebih baik dan lebih tegas adalah para penanda-tangan Manikebu dan peserta KKPI. Ungkap! Dalam rangka berbagi, menarik pelajaran dari pengalaman sejarah. Jabarkan yang benar, koreksi kekeliruan saya jika dianggapnya keliru.“ ***
Ringkasan lain tentang Soal Manifestasi Kepura-puraan A-Politik Manikebu