Hidup Mati Penulis & Karyanya (6) : Pramoedya, Kohar & Tanggapan Goenawan Mohamad Yang Masygul Oleh : A.Kohar Ibrahim MESKI tidak disiar media massa profesional – melainkan hanya
di sarana sederhana saja, yakni internet – di blog individual
dan grup macam Mediacare dan ACI Yahoogroups, namun tulisan saya bisa juga menemukan pembacanya. Dan, yang cukup signifikan iyalah
bukan pembaca sembarangan, melainkan seorang budayawan dan tokoh pers nasional Indonesia yang kondang : Goenawan Mohamad. Apa pasalnya ? Rupanya GM – demikian sebutan akrab sementara kalangan budayawan dan publisis – mengikuti serial naskah saya yang berjudul « Hidup Mati Penulis & Karyanya » yang merupakan bloknota sastra berkenaan
dengan sastrawan Pramoedya Ananta Toer.
Atau lebih kongkretnya, naskah yang berkenaan dengan Manikebu/KKPI. Suatu reaksi yang wajar dan manusiawi serta menggembirakan, jika diingat GM memang salah seorang penanda-tangan Manifes Kebudayaan (Manikebu) dan peserta KKPI. Oleh karenanya, apa dan bagaimanapun adanya akan bisa jadi penambah gugah-gugatan atas situasi kebudayaan Indonesia umumnya, khususnya kesusastraan, lebih khusus lagi segala kisah permasalahan sekitar Pramoedya Ananta Toer. Kisah yang bisa saja bermakna
sejarah atau sarat akan kesejarahan, yang seperti diketahui
masih bengkak-bengkok dan kusut. Dalam kenyataannya, memang, bukan masih banyak persoalan yang menyangkut sejarah Bangsa Indonesia masih dalam keadaan menyedihkan itu, seiring dengan itu segala dampak buruknya yang masih terus dialami oleh para saksi sekaligus pelaku sejarah itu sendiri ! Kenapa ? Semata-mata lantaran kesemrawutan hukum di Negara Republik Indonesia yang berlandaskan Hukum ! Suatu wajah buruk dan menyedihkan yang masih berlangsung sejak terjadinya Tragedi Nasional 1 Oktober 1965 ! Kenapa keadaan demikian masih terus saja berlangsung hingga detik ini ? Yang paling tidak, dampak negatipnya terasa, jangankan bicara sejarah bangsa secara keseluruhan, dalam permasalahan yang menyangkut seorang sastrawan macam Pramoedya Ananta Toer saja pun tercermin akan perlunya pencerahan yang selayaknya. Dan tulisan saya memang gaea-gara tergelitik oleh tulisan seorang pengagum Pramoedya, tapi jadi tergoyahkan setelah membaca salah sebuah naskah retorikanya berjudul « Tahun 1965 Tahun 1965 Tahun Pmebabatan Total » yang disiar-sinar LENTERA Bintang Timur 9 Mai 1965. (Mediacare / Blog ArtCulture-Indonesia 27 Oktober 2007). Karena terutama sekali disebabkan tergelitik sekaligus ter-gugah-gugat itulah saya menyusun catkas (catatan ringkas) atau bloknota atau esai ringkas berkenaan dengan Pramoedya Ananta Toer. Selain sarat akan pesan : untuk melakukan penilaian atas aktivitas-kreativitas Pram, sebaiknya disimak situasi-kondisi obyektif masa itu, disimak bukan saja sejarah kebudayaan melainkan juga sejarah Indonesia pada umumnya. Dan dalam rangka ini, bukan sekedar memberi anjuran, saya dengan senang hati mengekspresikan diri sebagai salah seorang yang bukan hanya jadi saksi melainkan juga pelaku sejarah. Karena, dalam periode pergerakan kebudayaan Indonesia (1950-60-an) saya turut ambil bagian – dengan dampaknya yang luarbiasa. Setelah ditumbangkannya rezim Orla BK dan ditegakkannya rezim Orba Jendral. Meskipun saya tidak ditangkap, disiksa, lantas dibuang di kamps konsentrasi kerja-paksa Pulau Buru seperti Pram dan sepuluhan ribu Tapol lainnya, tak urung saya termasuk orang yang « terbuang » atau « terpinggirkan » atau, menurut sebutan Gus Dur : « orang kelayaban » di Mancanegara. Meskipun, sepertinya mereka yang tertindas di Tanahair sendiri sebagai kaum yang tak berdosa, pada hakikatnya perasaan saya pun tak berbeda dengan manusia macam Pram. Dan jutaan Pram Pram lainnya ! Lebih lanjut, dan lebih tegasnya : Justeru karena masih adanya pembengkokkan Sejarah, kesemrawutan Sejarah dan Hukum itulah sekian banyak orang di dalam maupun di mancanegara masih mengalami penderitaan berkepanjangan. Karena sampai detik ini, belum ada upaya yang kongkrit dan serius dari kaum yang bertanggungjawab, termasuk yang selayaknya mempunyai rasa tanggungjawab moril, untuk menyelesaikan permasalah besar Rakyat, Bangsa dan Negara Republik Indonesia ini. Saya terus terang ngaku : saya memang merasa masygul sekali jika mengingat situasi-kondisi yang tragis ini. Kemasygulan bukan hanya timbul baru pada saat memberi jawaban untuk Bunf GM, bukan pula ketika membaca tulisan seorang pengagum Pram lagi gamang, pun bukan pula lantaran pernah dengar adanya « Prahara Budaya » dan atau menelaah buku « Pertumbuhan Perkembangan dan Kejatuhan LEKRA di Indonesia » karya Yahya Ismail, melainkan kemasygulan saya itu seperti api dalam sekam sejak 1 Oktober 1965. Empat dasa warsa lebih ! Setelah membaca naskah saya, dan setelah mengutarakan beberapa hala tao persoalan, di ujung jawaban nampaknya masih penasaran, dengan menegaskan : « Sekali lagi, dengan masygul, Bung. » „Apalagi saya, Bung,“ bisikku. Seraya berupaya untuk sekali lagi memahami perasaan dan pikiran Bung GM. Dengan itikad untuk menegaskan pula: „Saya susun naskah Hidup Mati Penulis & Karyanya“ yang berkaitan dengan Pramoedya Ananta Toer itu bukan ditujukan pada Bung GM secara pribadi atau perorangan, melainkan Manikebu & KKPI. Karena Bung ‚kann Cuma salah seorang tokoh dari sekian banyak penanda-tangan dan peserta KKPI. Dan pada kenyataannya, baik Manikebu maupun KKPI itu bukan suatu organisasi monilit. Persis kata pribasa: Kepala sama berbulu tapi pikiran berbeda-beda juga adanya. Iya, tak?“ „Akan halnya beberapa soal yang jadi persoalan seperti yang saya dan yang bung tanggapi itu, baiklah saya akan utarakan kemudian. Namun kiranya layak saya utrakan dan garisbawahi: akan motivasi saya menyusun rangkaian naskah ini. Seperti saya utarakan di atas. Jauh dari pada itikad untuk bermusuhan, sesungguhnyalah lebih ingin berbagi, memberikan bahan pertimbangan, dengan pergesek-debat-an opini yang bisa saja berbeda. Dengan pengajuan argumentasi berbeda-beda pula. Kita upayakan dalam rangka pencerahan, bukan penggelapan. Dalam mana, bukan tidak mungkin, saya melakukan kekhilafan atau kekurangan. Sebelum dan sesudahnya saya mohon maaf. ***
Ringkasan lain tentang Pramoedya, Kohar & Tanggapan Goenawan Mohamad