Halaman Utama Shvoong > Ilmu Sosial > Membangun Gerakan Demokrasi Berbasis Korban

.

Membangun Gerakan Demokrasi Berbasis Korban

Summary rating: 2 stars 1 Tinjauan
Pengarang : AJ Susmana
Summary by : NasrulAzwar
Kunjungan: 102
kata: 600
Diterbitkan di: Nopember 07, 2007
"Pergerakan" di Indonesia merupakan kata yang penuh
romantika revolusioner, bahkan menjadi rumah perjuangan pembebasan
rakyat yang tak lapuk. Tak henti-hentinya para
pejuang dan aktivis pergerakan itu sendiri menghidupi dan
mengembangkannya menjadi dunia yang terus-menerus harus dijalani,
ditengok, dan dirindukan. Tak heran,
orang-orang yang hidup dalam dunia ini pun mendapatkan sebutan
sebagaimana golongan-golongan lain (baca: kaum santri dan kaum abangan)
sebagai kaum pergerakan.Angkatan-angkatan sebelumnya dengan baik telah
digambarkan Takashi Shiraisi dalam bukunya yang berjudul Jaman Bergerak
dengan tokoh sentral Haji Misbach, seorang pendekar Muslim yang taat,
tapi juga tak tabu dengan ilmu komunisme dalam melawan kolonialisme, di
samping juga digambarkan individu menarik antikolonialisme yang mistik:
Mangun Atmaja dengan Sarekat Abangannya yang ateis.

Pertama, sedikitnya buku ini sanggup menggambarkan
hidup dan dunia kaum pergerakan di bawah Orde Baru yang militeristik
dan kapitalistik Dengan demikian, menggambarkan kelanjutan riwayat kaum
pergerakan dari Jaman Doenia Bergerak sampai Orde Baru: sebuah cerita
yang tak putus dalam pahit getir dan bahagia kaum pergerakan melawan
tirani kolonialisme dan imperialisme di Indonesia.


Kedua, buku ini memberikan problem baru bagaimana mengartikan dan
memaknai korban dalam makna pergerakan kaum sadar perjuangan berikut
risiko-risikonya sebagaimana telah dimiliki dan dialami kaum
pergerakan, seperti Haji Misbach, Mangun Atmojo, dan Bung Karno.
Sebelum pemberontakan modern yang berskala nasional di tahun 1926,
semenjak pemerintahan kolonialisme Belanda melakukan pembuangan (baca:
juga pembunuhan dan penghilangan) terhadap para pemberontak
(Diponegoro, misalnya), kaum pergerakan pun sadar bahwa melawan
kolonialisme dan imperialisme Belanda pasti akan berisiko dibuang,
dibunuh, dan dibui.

MEMANG, dalam sejarah pergerakan rakyat Indonesia,
pola 3B itu kembali menguat di masa Orde Baru seakan tanpa interupsi
selama 32 tahun kekuasaannya dengan motif yang berbeda-beda tapi satu
tujuan, yakni mempertahankan kekuasaan: mulai dari Peristiwa 1965-1966,
Kasus Petrus (penembakan misterius tahun 1983-1984) dengan sasaran
pelaku tindakan kriminal, Peristiwa Tanjung Priok, Talang Sari, Kasus
DOM (Daerah Operasi Militer) di Aceh dan Papua, Kasus 27 Juli 1996, dan
Kasus PRD (halaman 8-11).Memahami mereka, kaum pergerakan, cuma sebagai korban
tentu menenggelamkan aspek kesadaran kaum pergerakan yang memang
sengaja membangun gerakan ini dengan sadar untuk menghancurkan tembok
tirani sebagaimana puisi Wiji Thukul: Bunga dan Tembok yang terkenal
itu: … Dalam keyakinan kami; di mana pun tirani harus tumbang! (halaman 62).

Empati dan simpati tentu ada tempatnya sebagaimana semua orang menghargai kesetiaan, kejujuran, konsistensi, dan militansi.
Itu pun masih ada batas-batasnya, sementara yang dibutuhkan untuk
sebuah gerakan yang sadar berlandaskan ilmu tentu saja adalah
orang-orang yang sadar semassal mungkin sehingga tak ada lagi yang
harus dikorbankan atau menjadi korban.Jiwa-jiwa yang resah dan membela haruslah menjadi gerakan yang ilmiah yang didasarkan pada ilmu pengetahuan.
Tentu, ini menjadi PR bagi kaum pergerakan di Indonesia untuk
menjadikan simpati dan empati pada "korban" ini menjadi gerakan massal
dan meluas dalam arti lain menjadi gerakan rakyat sampai perjuangan
menegakkan HAM pun menjadi kepentingan perjuangan kaum buruh, petani,
dan kaum miskin kota serta rakyat tertindas umumnya.
Mohon ringkasan ini dinilai : 1 2 3 4 5


Read Free Summaries - Write and Get Paid

Summarize Human Knowledge on Shvoong. Join us!

------

Recent Shvoongers

  • amibroker
  • AsepSuryana
  • herro
  • jurnalis
  • DenKun
  • Kharis
  • nilna
  • AryaGuna
  • airakheisa
  • Rakyat
  • kusuma
  • tomaz
  • insansains
  • deleon
  • PermataPratiwi
  • KireinaLie

.