APRESIASI Kartini terhadap pemuda Agus Salim yang terekam dalam
biografinya tidak memberikan informasi lebih lanjut
tentang sejauh mana
korespondensi personal di antara keduanya. Agus Salim lahir pada
tanggal 8 Oktober 1884 atau lima tahun lebih muda dari Kartini.
Menurut informasi yang perlu dikonfirmasi lebih lanjut, Salim menolak
pengalihan beasiswa itu karena memandangnya
sebagai "belas kasihan"
yang tidak pada tempatnya. Sekat-sekat antara Kartini yang Jawa dan Salim yang
Sumatera seperti telah roboh, setidaknya di kalangan mereka yang sangat
terpelajar saat itu.
Mungkin Salim memang tidak berjodoh dengan beasiswa itu, dan ia tidak
pernah menjadi dokter yang dicita-citakannya. Begitulah sejarah.
Mungkin justru karena itu pula Salim memulai pergulatannya sebagai
intelektual Muslim dan humanis yang memiliki tempat istimewa dalam
sejarah pergerakan dan pembentukan menjadi Indonesia.Akan tetapi, kalau mencermati perjalanan intelektual
dan spiritual Agus Salim, pandangannya yang progresif dan kukuh tentang
perempuan dan peran perempuan di Indonesia justru bersumber pada Islam.
Bagi Salim yang menekuni Islam dan membuat pemahaman yang kritis
tentang agamanya ketika bertugas menjadi penerjemah di Konsulat Belanda
di Jeddah, Islam adalah sumber inspirasi kasih, kesetaraan, keadilan,
perdamaian, dan membebaskan.
Cukup logis karena ceramah tersebut disampaikan lewat
seperempat abad setelah Kartini wafat pada tahun 1905 dan selama itu
terjadi proses perubahan yang cukup signifikan seiring dengan
meningkatnya pendidikan dan partisipasi publik kaum perempuan.
Salim bahkan mengoreksi pandangan Kartini yang dinilai keliru tentang
Islam, khususnya yang menyangkut poligami, tetapi Kartini dipandang
telah membukakan mata pada "hal-hal yang membencanai kemajuan budi dan
kemanusiaan bangsa kita".
Pada masalah jilbab atau kerudung yang terdapat pada
Surat Al-Ahzab Ayat (59), Agus Salim mengisyaratkan pemahaman yang
lebih kontekstual dengan memperhitungkan sebab turunnya (asbabul-nuzul)
ayat tersebut. Kondisi semacam ini bertolak belakang dengan nuansa
Islam yang tergambar dalam fikih yang normatif, formal, dan rigid
sehingga kehilangan spirit pemberdayaan yang aktif.
Agus Salim hendak menggeser pandangan klasik tentang tabir dengan
mengetengahkan semangat zaman dan konteks kultural dari eksistensi
tabir di rumah Rasulullah yang sebenarnya hanya masalah kepantasan
sosial semata.Dalam pidatonya tentang cadar dan harem, Agus Salim
juga menekankan bahwa kaum laki-laki diwajibkan untuk memelihara rasa
malu dan kesuciannya, seperti yang juga diperintahkan kepada kaum
perempuan. Mereka juga tidak berkewajiban atau berwewenang untuk bertindak sebagai pelindung kesucian kaum perempuan.
"Hanya keangkuhan mereka (laki-laki) yang berlawanan dengan jiwa dan
makna hukum Ilahi saja yang dapat menimbulkan pandangan yang keliru
ini," ujarnya.
Tentang kepemimpinan perempuan, Agus Salim memiliki
pandangan yang cukup akomodatif tentang keniscayaan perempuan menjadi
pemimpin karena kemajuan pendidikan dan berbagai keterlibatan politik
dan publik. Argumentasi yang didukung oleh
berbagai fakta historis dan fakta aktual tentang perempuan pemimpin
menunjukkan luasnya khazanah keilmuannya, meski ia terlupa menyebutkan
Ratu Balkis yang dicatat oleh Al Quran sebagai pemimpin yang agung dan
bijaksana yang mampu mengantar negerinya menjadi "negeri yang sejahtera
dalam lindungan Tuhan".
MESKI pandangan-pandangan Agus Salim terhadap perempuan dan peran
perempuan terkesan progresif, modern, dan konsisten, tetapi masih
terasa ambivalensinya ketika membahas masalah-masalah yang saat ini
diklasifikasikan sebagai masalah jender yang terkait dengan
kerumahtanggaan.
Argumentasi itu juga bersifat patriarkal dan
bertentangan dengan nilai-nilai Islam yang ia kukuhi tentang kesetaraan
dan keadilan. Namun, ambivalensi itu tak bisa digunakan untuk menghakimi Agus Salim sebagai patriarkh.
Potongan kisah yang dikutip dari buku Seratus Tahun Haji Agus Salim ini
barangkali dapat memberikan gambaran yang lebih jelas tentang pribadi
Agus Salim dan bagaimana ia berlaku di dalam rumah tangganya.Rumah yang bocor malah dirasakan sebagai suatu sukacita yang dapat menciptakan keasyikan bersama.
Pada suatu masa, mereka menempati rumah buruk yang kakusnya telah
rusak. Kalau disiram, isi kakus itu malah meluap. Zainatun Nahar
benar-benar tidak tahan dan setiap kali ke WC malah muntah-muntah
karena jijik. Agus Salim kemudian melarang istrinya menggunakan WC yang rusak itu dan ia sendirilah yang tiap hari membuang pispot istrinya.