Anak muda itu ingin sekali pergi ke negeri Belanda untuk belajar menjadi dokter. Sayang sekali, gaji ayahnja cuma F-150 sebulan.
Alangkah indahnya andai pemerintah bersedia membiayai seluruh pendidikannya yang berjumlah kira-kira 8.000 gulden. Bila
tidak mungkin, kami akan berterima kasih, seandainya Salim dapat menerima jumlah 4.800 gulden yang disediakan untuk kami itu.
Ia rela mengalihkan beasiswa yang bakal ia terima kepada Salim yang tidak cukup punya biaya untuk belajar ke negeri Belanda demi kepentingan
anak negeri. Kartini ingin sekali Salim jadi dokter yang memang cita-cita alumnus HBS ini.
"Sekiranya ia tidak bertugas sebagai penerjemah di Konsulat Belanda di Jeddah dan tidak bertemu kemudian berguru pada pamannya, Syekh Ahmad Khatib, imam dan guru mazhab Syafii di Masjid Haram, barangkali Salim akan menjadi sosok lain sama sekali, seorang vrije denker, yang akan dikutuk oleh lingkungan Kota Gadang dan umat Islam Indonesia," kata Ahmad Syafii Maarif, Ketua Umum PP Muhammadiyah, dalam diskusi Kompas kali ini.
Salim sendiri sudah tidak lagi turut dalam Masyumi, tetapi tampaknya sosok ini tetap tokoh rujukan di samping Hatta, Bapak Demokrasi yang sebenarnya dalam sejarah Indonesia modern. Seperti terbaca dalam surat Kartini tadi, di awal abad ke-20 embrio rasa sebangsa dan senasib tampaknya sudah mulai bersemi. Sekat-sekat antara Kartini yang Jawa dan Salim yang Sumatera seperti rubuh, setidak-tidaknya di kalangan mereka yang sangat terpelajar.
Pada dasawarsa itu tidak ada sosok lain kecuali Salim yang mampu mengajarkan Islam kepada anak-anak muda didikan Barat yang sedang mencari. Salim tidak saja mengisi otak mereka. Secara tidak langsung ia mendorong kelahiran sebuah generasi Muslim moralis-idealis. Tanpa kecuali, idealisme ini bertahan sampai generasi JIB hilang satu per satu dimakan usia. Manusia seperti Natsir, Roem, Kasman, Prawoto, Jusuf Wibisono adalah anak didik Salim yang belajar agama dari tempat yang satu ke tempat lain, bergantung ke mana Salim dan keluarganya harus pindah rumah dari sebuah gang becek ke gang becek lain.
"Saya rasa bukan saja Salim dalam bayangan imajiner saya akan marah begitu, tetapi semua kaum idealis dari dulu sampai sekarang akan sesak napas menyaksikan segala macam kebusukan dan petualangan yang telah merusak sendi-sendi moral bangsa dengan cara yang sangat mendasar," kata Syafii Maarif.
Namun, tujuan yang hendak dicapai masyarakat yang berdasarkan sama rasa sama rata yang bebas dari kemiskinan sudah lebih dahulu dibentangkan dalam Islam, agama Allah yang disampaikan Nabi Muhammad kepada umat manusia. Ia mengeritik gerakan pemuda yang hidup terkurung dalam idea kedaerahan, kepulauan masing-masing, dan lupa akan Tanah Airnya yang sebenarnya, yaitu Hindia.
Kedua, barangkali Salim juga dalam satu segi dapat mengikuti jalan pikiran pihak nasionalis bahwa sebuah deklarasi negara Islam pada saat-saat kritis masa itu dapat memperlambat pencapaian kemerdekaan dan sebagian kelompok minoritas yang dominan di bagian-bagian yang cukup strategis di Tanah Air akan menarik diri dari negara yang bakal lahir. Jika seorang Salim saja ternyata tidak memiliki konsep yang jelas tentang apa yang disebut negara Islam, maka sekarang kita dapat mengatakan bahwa proyek yang telah banyak menguras energi itu dulu adalah sebuah proyek tanpa dasar yang kuat.