DARI sekian ceramah Haji Agus Salim
di Universitas Cornell, Direktur Center for Spirituality and Leadership Jakarta Budhy Munawar-Rachman dalam diskusi Kompas kali ini menggali pandangan Agus Salim antara lain mengenai
pluralisme di
kalangan Islam
dan Barat.
Jawabannya, menurut Budhy, karena
orang Islam waktu itu membawa ideologi pembebasan yang membuat orang
lebih bahagia. Waktu itu dan masa-masa sebelumnya kecenderungan yang terjadi: semua bangsa mau memaksakan hanya satu agama. Namun, Islam memelihara kehidupan bersama agama-agama lain yang dilambangkan, katakanlah, dalam Yerusalem.
Misalnya, "untunglah Islam di Indonesia tidak melalui penaklukan tapi melalui perdagangan, oleh karena itu Islam di Indonesia adalah Islam yang rukun, toleran". Ini asumsi yang salah sebab apabila logika seperti itu dibalik, kita akan mengatakan bahwa Islam di Mesir dan Suriah adalah melalui proses penaklukan. Benar bahwa Islam di Indonesia melalui pedagang, tetapi itu tak otomatis membuat orang Islam di Indonesia lebih toleran ketimbang orang Arab.
Iran menjadi Syiah, tapi terutama lantaran dinasti Savawid memutuskan untuk berbeda dengan musuhnya di Timur, Kerajaan Mogul di India yang Sunni, dan musuhnya di Barat, Kerajaan Turki Ustmani yang juga Sunni. Untuk memberikan ciri khas, pilihan jatuh kepada Syiah. Jadi, ini keputusan politik. Contoh lain adalah perang antara Ali dan Muawiyah. Ribuan orang yang terlibat terbunuh. Yang menarik, Ali tidak pernah mengafirkan Muawiyah, demikian pula Muawiyah tidak pernah mengafirkan Ali. Bisa begitu karena ini adalah urusan politik. Dalam urusan agama, baik di lingkungan internal maupun eksternal, orang Islam terlatih dengan pluralisme.
Di Perancis yang terjadi adalah faham keawaman, antiklerikalisme: yang memerintah harus orang-orang awam, jangan tokoh-tokoh agama. Sejak itu etos tentang toleransi beragama dan pluralisme
agama dibesar-besarkan. Dalam ceramah Agus Salim, menurut Budhy, ditekankan bahwa ajaran Islam sangat kuat menekankan pluralisme. Jauh sebelum Barat. Pengalaman di Barat itu dalam pandangan Agus Salim masih terbatas di kalangan internal Kristen.
Sampai-sampai, menurut seorang ahli Islam, John L Asposito, dalam percakapan dengan Nurcholish Madjid, seandainya orang Amerika dibiarkan berbuat apa saja menurut maunya, barangkali yang pertama kali dilakukan adalah membunuhi orang Yahudi," kata Budhy Munawar-Rachman.
Ringkasan lain tentang Pluralisme Lebih Dulu di Kalangan Islam