Jika sebagian pihak menyatakan Bali menemukan
diri pada Trunyan, sebuah kata yang teriwayat ketika seorang pangeran Solo berkelana dituntun oleh bau harum pohon teru menyan. Maka sesungguhnya tak ada satu pun pihak, tak satu pun bangsa, satu pun etnik, bahkan subetnik apa pun di negeri ini yang dapat mengklaim dirinya sebagai satu entitas yang unik, genuine
atau asli. Tak satu pun. Yang ternyata bisa
kita sadari
dan akui: aku atau kita adalah sesutau yang tersusun
dari pecahan-pecahan identitas orang lain; sebuah
mosaik yang kemudian kita sebut sebagai tradisi, sebagai kebudayaan, sebuah peradaban.
Benarkah kemerdekaan politik kita secara langsung juga berarti kemerdekaan kita pada masa lalu, pada adat dan tradisi yang beku membelenggu, pada karakter dan sifat kita yang membatu? Jawaban pasti dari pertanyaan—yang masih dapat dideretkan panjang itu—sesungguhnya hanya akan mengafirmasi kenyataan bangsa ini ternyata belum beranjak banyak dari sebelum dan sesudah adanya nama yang bernama: Indonesia.
Karena ia semata hanyalah mosaik yang disusun dari kepingan-kepingan masa lalu, masa depan, harapan, jati diri-jati diri, pengaruh-pengaruh, kelebihan, kekurangan, dan berbagai hal, yang semestinya dapat segera kita identifikasi (apa semua itu). Melalui prosedur akseptasi seperti ini, kita akan mulai segalanya
dengan rendah hati, dengan daya terima yang lapang dan terbuka, dengan kemauan kerja yang lebih kuat. Tak ada satu hal atau satu kekuatan apa pun yang harus diposisikan lebih (kuat) dari yang lainnya.
Setidaknya kita bisa mulai dengan satu usaha sederhana (yang betapa payah sebenarnya) untuk menyusun ulang (merekonstruksi) puing-puing atau kepingan itu ke dalam satu mosaik baru yang lebih memiliki bentuk, lebih dapat kita kenali sebagai diri kita: lebih teridentifikasi (dengan standar dan simbol-simbol kekinian kita). Untuk itu, sebuah kerja kebudayaan yang besar mesti siap kita lakukan dengan keterlibatan langsung dan aktif dari semua unsur (tanpa kecuali) yang menyusun mosaik baru itu.
Karena secara sinergis dan akumulatif semua kerja itu akan melakukan semacam rafinisasi atau penghalusan dari kerja pembentukan mosaik awal kita di atas sehingga bentuk itu pun semakin integral, kuat, komprehensif, dan tegas sebagai sebuah identitas.
Tradisi yang dibangun dari identitas diri yang baru yang sudah disesuaikan atau melakukan adjustment dengan situasi mutakhir kita. Dan pada masa itu, kita boleh jadi menyadari kalau "Indonesia" sebenarnya (mulai) ada. Sementah apa pun. Setidaknya ia tidak lagi sekadar abstraksi atau simbolisme. Persoalannya: siapkah kita? Bisakah kita kerja sama? Kertas lain yang harus menjawabnya.
Ringkasan lain tentang MOSAIK INDONESIA: Mencari Tradisi Dalam Diri