Di Balik Aneka Permainan Peringatan HUT RI
Summary ratings: 3 stars
(xx voters)
Kunjungan:
219
kata:
900
Diterbitkan di: Nopember 07, 2007
Di Balik Aneka Permainan Peringatan HUT RI
Peringatan HUT Kemerdekaan Republik Indonesia setiap tanggal 17 Agustus adalah salah satu bentuk mensyukuri nikmat sebagai bangsa yang merdeka dan berdaulat. Rentang waktu masa penjajahan yang ratusan tahun sirna setelah duet proklamator, Soekarno - Hatta memproklamasikan kemerdekaan RI setelah keduanya sempat dibawa para pemuda ke Rengasdengklok, Karawang. Sebagai bagian dari peringatan HUT Kemerdekaan RI adalah partisipasi aktif masyarakat mengadakan aneka perlombaan. Masyarakat secara swadaya melakui berbagai upaya mengumpulkan dana untuk menggelar hiburan permainan baik untuk kelompok anak, remaja hingga dewasa. Masyarakat membentuk kepanitiaan di lingkungan masing-masing untuk memeriahkan kemerdekaan dengan caranya masing-masing. Pada akhir acara, biasanya digelar panggung hiburan rakyat untuk menampilkan aneka bentuk seni budaya sekaligus pemberian hadiah kepada pemenang aneka perlombaan yang diadakan. Beragam permainan yang biasa diadakan pada tanggal 17 Agustus adalah balap karung, makan kerupuk yang digantungkan, berebut koin pada buah jeruk bali yang dilumuri jelaga, panjat pinang, balap enggrang, tarik tambang, memasukkan pensil dalam botol, gebuk bantal di atas titian, memindahkan belut, menggiring kelereng dalam sendok yang digigit, sepak bola bersarung dan bermacam permainan lain. Unsur hiburan mencuat pada pesta rakyat tersebut. Gelak tawa kerap terdengar melihat kekonyolan peserta perlombaan. Muka belepotan jelaga berebut koin, pemanjat pinang selalu melorot sebelum menyentuh aneka hadiah diujung gantungan, pesepak bola bersarung jatuh terjerambab, belut terlepas sebelum sempat dipindahkan. Namun di balik aneka permainan tersebut menyimpan satu pendidikan dan filosofi tersendiri. Permainan-permainan yang kerap ditampilkan pada peringatan kemerdekaan RI menyimpan kedalaman makna. Permainan balap karung memiliki makna tersendiri. Saat penjajahan, sebagian besar rakyat mengalami penderitaan sangat berat. Bahan pakaian diambil kaum penjajah, yang tertinggal adalah plastik, karet, dan karung. Mau tidak mau, rakyat hanya mengenakan pakaian berasal dari karung goni. Kain yang berserat kasar tersebut menimbulkan gatal-gatal di kulit sehingga saat tibanya kemerdekaan disambut rakyat dapat berpakaian layak kembali. Sebagai bentuk pelampiasan kekesalan terhadap penggunaan kain berbahan karung, maka rakyat menginjak-injak karung. Namun makna lain dari balap karung adalah, betapa sulitnya berlari ketika kedua kaki terkungkung. Sejauh apapun "melompat" tetap akan mengalami kesulitan akibat dihalang-halangi. Terkadang bisa saja terjerambab. Hal itu pula yang menyulitkan kemajuan bangsa Indonesia dalam kungkungan penjajah. Belut pembangunan Sementara permainan tarik tambang memiliki makna, persatuan dapat membantu mengalahkan lawan. Makna lain tarik tambang adalah bagaimana upaya menggapai suatu tujuan harus melalui tarik ulur secara keras. Terkadang tambang bergeser ke kiri-kanan untuk menuju satu tujuan kemenangan. Tim yang kompak dan strategi yang tepat akan mampu menarik tambang dengan mantap. Hal itu ang ditunjukkan dalam persatuan bangsa untuk menarik "tambang" kemerdekaan secara bersama-sama dari tarikan tambang penjajah. Beralih ke lomba makan kerupuk yang terikat pada seutas tali. Tingkat kesulitan pada lomba ini adalah kedua lengan tidak boleh memegang alias disembunyikan di belakang pinggang. Kesulitan lain adalah tali gantungan kerap berayun akibat tarikan dari peserta lain. Permainan tersebut mengajarkan, betapa masyarakat saat penjajahan didera kesulitan sandang, pangan dan papan. Untuk makan yang paling sederhana sekalipun dibayangi kesulitan, akibat hasil panenan pangan utama diambil kaum penjajah. Rakyat kesulitan pangan mengalami penderitaan kekurangan gizi dan badan menjadi kurus kering, sedangkan akibat terparah adalah perut membuncit meski kelaparan (busung lapar). Oleh karena itu, kesulitan mendapatkan pangan diperparah dengan kondisi fisik yang lemah untuk mendapatkan makanan. Lantas lomba panjat pinang kerap memancing tawa geli penonton. Pemanjat yang sudah mencapai ketinggian tertentu harus kembali merosot ke bawah. Mereka berupaya berkali-kali menggapai hadiah di ujung tiang batang pinang berlumur oli dan minyak. Tim pemenang baru berhasil setelah mereka bahu-membahu dalam pengertian rekan di atas berdiri pada bahu rekannya yang lain untuk menjangkau puncak batang pinang. Rekan yang bahunya dipijak sesama rekan lain harus berupaya menjaga badannya merapat pada batang pinang dan mengatasi betapa licinnya sekalipun. Permainan tersebut menyiratkan makna, kebersamaan dalam satu tim untuk meraih "kemerdekaan" di ujung batang pinang. Jalan menuju kemerdekaan melalui perjuangan berat dan sulit. Banyak rintangan menghadang di perjalanan. Kebersamaan dijalin untuk mencapai satu tujuan dan pihak yang berhasil tiba di puncak kemerdekaan tidak serta-merta melupakan buah dari perjuangan sesama timnya. Hadiah "kemerdekaan" pada puncak dibagikan secara merata kepada seluruh rakyat yang turut berjuang bersama. Tidak pernah ada kejadian orang yang berhasil mencapai puncak batang pinang mengambil seluruh hadiah yang diganyungkan untuk dirinya sendiri kan? Sementara permainan memindahkan belut ke tempat lain memiliki makna tersendiri. Betapapun sulit dan licinnya belut "penjajah" tetap harus diusir keluar dari Indonesia. Seperti dicantumkan dalam pembukaan UUD 1945, "Kemerdekaaan adalah hak setiap bangsa, sehingga penjajahan di muka bumi harus dihapuskan". Dalam konteks kekinian, "belut-belut" yang mengganggu proses pembangunan bangsa harus dipindahkan. Mereka kerap berkelit dari hukum meski putusan hukum sudah jelas, namun hukum seakan belum menjamah mereka yang pintar berkelit dengan kekuasaannya. Sebenarnya permainan dalam peringatan kemerdekaan RI selain memiliki kedalaman makna, juga memiliki fungsi melestarikan aneka permainan khas nusantara. Bisakah aneka permainan tersebut menjadi ajang pertunjukan bertaraf internasional, semacam highland gathering pada masyarakat Skotlandia, berlari di depan banteng pada perayaan San Fermin masyarakat Pamplona Spanyol?