"Dua jam sebelum meninggal ia masih sempat telepon saya
dan mengatakan sedang latihan menari di Taman Budaya Padang. Katanya, ayah lanjutkan saja mengikuti festival di Amerika," tutur Ery ketika ditemui, Selasa (17/6), sesaat menjelang pementasan beberapa karya tarinya di Gedung Kesenian Jakarta (GKJ).
Saya hanya akan mencipta saja," kata Ery sembari menyedot rokoknya
dalam-dalam. Kelihatan koreografer yang pernah menjadi penata
tari dan musik terbaik se-Sumatera Barat tahun 1984 itu masih terpukul mengingat kejadian itu.
Saat meninggal, Refi Mefri berusia 10 tahun. Pada usia itu, menurut Ery, anaknya selalu berlatih di Taman Budaya Padang, tempat Ery bekerja. "Waktu
dia menelepon saya itu, dia sudah berada di rumah sakit," kata dia terbata.
Dalam keheningan suasana, karena tanpa musik, Angga dan Afrizal terlihat begitu fasih dan padu mengekspresikan setiap gerakan. Mereka seperti dua ekor ular yang licin dan lentur. Kondisi saling mengerti seperti itu, kata Ery, tidak akan tercapai dalam waktu satu atau dua tahun.
"Angga sudah ikut saya lebih dari 10 tahun, sementara Afrizal tujuh tahun. Penyatuan
rasa itu memang membutuhkan waktu. Maka, murid saya tak pernah lebih dari 10 orang," ujar Ery. "Nah, saat istirahat belajar silat itulah kami juga mempraktikkan seni randai. Spontan saja, sembari menyanyikan tembang-tembang tradisi, kami semua membawakan lakon-lakon yang diambil dari mitologi," tutur ayah dari Rio, Gebi, Intan, dan Ririn Mefri ini. (Meski menyebut nama-nama anaknya, Ery tetap menolak memberi tahu nama istrinya).
Karya Ery terbaru yang berjudul Tiang Nagari, yang dipentaskan pula
di GKJ, memang masih jelas berupaya mengadaptasi gerakan-gerakan silat minang ke dalam gagasan terkini. Tari ini juga berangkat dari filosofi orang Minang yang terjemahannya berbunyi, "Menepuk air di dulang, tepercik muka sendiri. Mencabik baju di dada, mempermalukan diri sendiri".
"Musik itu sudah ada di sini," ujar Ery sembari menunjuk dadanya. Dan itu, tambahnya, harus ada dalam setiap penari. "Memadukan ini yang tersulit. Perlu waktu bertahun-tahun untuk memperoleh rasa yang sama sehingga gerakan-gerakan jadi padu," kata dia. Itulah, mengapa dalam setiap pementasan tari karya Ery selalu tercipta suasana hening. Gerakan-gerakan adalah sebuah upaya untuk mencapai tahap meditasi, bukan sebuah atraksi yang mengeksploitasi kekuatan fisik.
Ringkasan lain tentang Ery Mefri, Menyatukan Rasa dalam Tari