Geliat Kesenian Tradisi Minangkabau, Sungguh Penuh Pesona...
Summary rating: 3 stars
2 Tinjauan
Kunjungan:
233
kata:
600
Diterbitkan di: Nopember 07, 2007
KEBERADAAN Ranah Minangkabau atau Sumatera Barat dalam dunia kesenian secara umum di Tanah Air, setidaknya punya sejarah yang mengagumkan dan sampai kini terus berlanjut. Sebutlah, misalnya, di bidang kesusasteraan, ada Chairil Anwar, Mochtar Lubis, Asrul Sani, Nur Sutan Iskandar, Hamka, Muhammad Yamin, AA Navis sampai Taufiq Ismail, Wisran Hadi, Leon Agusta, dan Hamid Jabar serta sederetan panjang nama lainnya.
Di bidang seni keramik, ada nama Body Dharma, yang karya keramik seninya, tercatat sebagai termahal di Indonesia. Di bidang teater ada Wisran Hadi, yang terakhir meraih SEA Write Award. Atau, di bidang tari ada nama Huriah Adam, Gusmiati Suid, Boy G Sakti, Tom Ibnur, Ery Mefri, Deslendra, dan Indra Yudha, yang sudah malang melintang di pentas nasional dan internasional.
Yang ingin dikemukakan sebenarnya adalah, bahwa proses regenerasi senimannya, proses revitalisasi dan restorasi keseniannya, terus saja berlangsung sampai sekarang. Meski dunia kesenian itu sendiri kurang mendapat dukungan dari pemerintah, atau dukungan ada tapi setengah hati, masing-masing seniman tak mempersoalkan hal tersebut.
Kemudian berlanjut, mulai 1 September 2001 di Sekolah Tinggi Seni (STSI) Padang Panjang, digelar pula Festival Kesenian Internasional, yang melibatkan sekolah tinggi seni di Indonesia dan Malaysia.
Bahkan, setiap malam minggu, Dewan Kesenian Padang (DKP), menggelar Festival Randai, sampai akhir tahun 2001, di kawasan obyek wisata Pantai Padang. Di Payakumbuh (sekitar 125 kilometer utara Padang, Kabupaten 50 Kota) dewan kesenian setempat juga rutin menggelar pertunjukan kesenian.
Perubahan dan perkembangan tersebut menyentuh berbagai aspek, mulai dari bentuk penampilan, fungsi, idiom, serta sikap budaya yang mendasari masyarakat pendukungnya.
"Dalam masyarakat Minangkabau, baik yang tradisional maupun yang kontemporer, selalu ada keyakinan yang bersifat kontradiktif terhadap warisan budaya dan perubahan yang terjadi di dalamnya," katanya.
Namun, pada sisi lain, juga ada pandangan yang melihat gejala sesuatunya harus dipertahankan, karena ada keyakinan bahwa mereka harus memelihara dan menjaga "warisan budaya" yang diterima dari nenek moyang mereka.
Dengan kata lain, walaupun "warisan budaya" tersebut harus dipertahankan, namun secara filosofis mereka juga menyadari bahwa dalam kebudayaan Minangkabau, perubahan adalah sesuatu yang tak mungkin ditolak, karena merupakan nilai dasar dari kebudayaan itu sendiri.
Diskursus inilah tampaknya yang menjadi dasar bagi dimamika perubahan dan perkembangan kebudayaan Minangkabau. Namun, yang menjadi masalah sekarang sebetulnya adalah, apakah perubahan dan perkembangan yang terjadi tersebut sudah cukup akomodatif bagi pertumbuhan dan perkembangan budaya serta seni pertunjukan rakyat Minangkabau.