PERAN Partai Baath
sebagai mesin kekuasaan, ditambah
dengan fantasi tinggi tentang keperkasaan kepemimpinan masa lalu Irak,
membuat pemerintahan Presiden Saddam Hussein tidak tergoyahkan dari dalam. Mitos tentang kejayaan Mesopotamia dan Babylonia dihidupkan kembali antara lain melalui festival sejak tahun 1988. Indonesia pernahberpartisipasi tahun 1989. PRESIDEN Sadam membangun citra kekuasaan dengan mengidentifikasi diri dengan penguasa yang sangat berpengaruh di masa silam, seperti Raja Hamurabi (1792-1750 SM) yang terkenal dengan sistem hukumnya, dan Nebuchadnezzar II (605-562 SM), yang pernah merepresi kaum Israel.
Bahkan, muncul sebutan "Arab Saddam" untuk Irak, yang sering dianggap
sebagai tandingan sebutan "Arab Saudi" yang diambil dari nama Dinasti Saud, meski Saddam sendiri membenci penamaan
negara berdasarkan orang atau dinasti yang berkuasa. Maka, dalam menyebut Arab Saudi, Saddam lebih suka menyebutnya sebagai Hijaz-Jazair.
addam telah menggunakan Partai Baath (Kebangkitan) sebagai mesin kekuasaan yang sangat efektif. PARTAI Baath sengaja mengeksploitasi sentimen nasionalisme, sosialisme Arab dan agama. Semula ada kecurigaan, lebih-lebih pada era Perang Dingin, Partai Baath sealiran dengan partai-partai sosialis, bahkan Marxis, di negara-negara Eropa Timur. Kecurigaan itu didasarkan pada kenyataan, orientasi pergaulan dan perdagangan Irak di bawah Partai Baath lebih ke negara-negara sosialis.
Konsep dasar Partai Baath ialah konsolidasi antara sosialisme, nasionalisme, dan agama (Islam). Dalam pertarungan perebutan kekuasaan, Partai Baath bertentangan dan berseteru dengan Partai Komunis Irak, yang kemudian dikalahkan dan dihancurkan. Para pemimpin dan pendukung Partai Komunis dikejar-kejar, ditangkap, dihukum, dan dibunuh. Setelah Saddam berkuasa Juli 1979, Partai Komunis dinyatakan sebagai partai terlarang.
Dalam penilaian para pendiri Partai Baath seperti Michel Aflag, masyarakat Arab di mana pun di Timur Tengah terkesan lebih merasa diri sebagai Arab dan Islam ketimbang merasa sebagai bangsa Irak, Kuwait, atau Yordania misalnya. Masyarakat Arab mengecam peta negara-negara Timur Tengah sekarang ini, yang dianggap sebagai hasil politik memecah belah, divide et impera, yang dilakukan Barat terutama Inggris pada era kolonial. Namun ironinya pula, Arab sendiri juga sulit dipersatukan dalam menghadapi tantangan bersama. Akar Partai Baath Irak sebenarnya terletak di Suriah. Gagasan pembentukan Partai Baath pertama lahir di Suriah ketika muncul kesadaran tentang kemerdekaan bangsa-bangsa Arab pada tahun 1940-an dari cengkeraman imperialisme dan kolonialisme Barat.
Namun, faham nasionalisme dan kesatuan Arab ditentang oleh dua partai yang sudah ada di Suriah, yaitu Partai Komunis dan Partai Nasional Suriah. Meski demikian, gerakan Partai Baath segera mendapat angin. Bahkan, antara tahun 1943 dan 1945 muncul keinginan untuk mengubah gerakan sosialisme khas Arab menjadi partai resmi, yang bisa diandalkan sebagai ujung tombak perlawanan terhadap penjajahan Perancis di Suriah dan Lebanon. Namun, seperti diungkapkan dalam buku, Saddam Hussein, A Biography, 1990, Partai Baath terdaftar sebagai partai resmi bulan April 1947 dengan ketua Michel Aflag. Akan tetapi, perpecahan langsung terjadi di tubuh partai, bahkan Aflag tersingkir dan terpaksa melarikan diri ke Irak. Gerakan Aflag dilanjutkan di Irak. Semula dilakukan secara diam-diam untuk menghindari benturan langsung dengan Partai Komunis Irak yang sudah kokoh.