PERDEBATAN mengenai perlu-tidaknya Ketetapan (Tap) Nomor XXV/MPRS/1996 dipertahankan boleh saja memanas. Namun, perbincangan, ceramah, diskusi, maupun penerbitan
dan peredaran buku-buku
marxisme dan komunisme jalan terus. Sekarang ini, marxisme dan komunisme tidak lagi didiskusikan sembunyi-sembunyi dalam kelompok kecil yang terdiri dari empat sampai tujuh orang. Marxisme dan komunisme, kini, didiskusikan
di ruang terbuka di luar kampus, dan dihadiri puluhan orang. Inilah trend di kalangan muda terpelajar Jakarta dan Yogyakarta, termasuk mereka yang berada di dalam wadah keagamaan.
Itulah yang terjadi pada aktivis
mahasiswa Yogya belasan tahun lalu, yakni Bonar Tigor Naipospos, Bambang Subono, dan Bambang Isti Nugroho, yang mengedarkan diktat kuliah pemikiran Karl
marx dari Dr Franz Magnis-Suseno, serta novel-novel bagus Pramoedya Ananta Toer.
Pertemuan itu merupakan salah satu simpul dari pergulatan mereka dengan marxisme dan kajian kiri lain yang telah belasan tahun tumbuh di Yogya, termasuk di kalangan sejumlah mahasiswa Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Sunan Kalijaga. Kantor redaksi majalah kampus Bulak Sumur dan Balairung, yang dikenal sebagai Markas B-21, merupakan salah satu sarang kajian pemikiran kiri. Para pemula biasanya menuntaskan dulu diktat kuliah Sejarah Filsafat Sosial Jerman Abad XIX tulisan Franz Magnis-Suseno yang dulu dilakukan sembunyi-sembunyi.
Kajian kiri juga laku keras di rumah-rumah sewa mahasiswa sekitar IAIN Syarif Hidayatullah di Ciputat, Jakarta Selatan. Kelompok studi Piramida Circle yang bermarkas di
rumah sewa sebelah barat kampus IAIN Ciputat merupakan salah satu penggiat marxisme dan studi-studi pembebasan. Secara periodik, menurut Edi Hayat-aktivis kelompok studi itu-mereka mengadakan kursus-kursus marxisme, pemikiran tokoh kiri di kalangan Islam, maupun teori-teori sosiologi pada umumnya untuk mahasiswa angkatan awal.
Bermarkas di rumah
kontrakan yang dikenal sebagai Red House, mereka membahas Das Kapital asli dalam bahasa Jerman. Red House sempat menjadi tangki gagasan bagi Keluarga Besar Universitas Indonesia (KBUI). "Teman-teman kos di sana sudah bubar, tetapi kami sempat tinggal bersama kaum buruh untuk mengaitkan teori dengan kejadian sehari-hari di lapangan," kata Mundo, mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Politik UI, juga aktivis Liga Mahasiswa Nasional untuk Demokrasi (LMND). Di Yogya, diskusi kiri tidak hanya monopoli kaum intelektual. Pengamen yang bergabung di Serikat Pengamen Indonesia (SPI) menggelar diskusi kiri minimal sekali seminggu. "Ini bagian dari kurpol alias kursus politik untuk membantu rekan-rekan sesama pengamen dalam mengorganisasi kaum miskin kota menyalurkan aspirasi mereka," kata Gendon, Ketua Divisi Perpustakaan SPI.
Ringkasan lain tentang Marx dan Che di Rumah Kontrakan