Marxisme-Komunisme Itu Sudah "Finish"
Summary ratings: 3 stars
(xx voters)
Kunjungan:
110
kata:
600
Diterbitkan di: Nopember 06, 2007
Pandangan doktor filsafat alumnus Universitas Muenchen (1973) dengan
disertasi Normative Vorausstzungen im Denken des jungen Marx
(Pemikiran-pemikiran Normatif Marx Muda) ini masih tetap kritis.
Bahkan, ia siap menelanjangi ideologi itu habis-habisan. Menurut ahli
filsafat politik, etika ini; ideologi itu telah usang.Akan tetapi, sistem kekuasaan yang didirikannya adalah
sistem politik sangat tak manusiawi, ateis, dan totaliter, hingga
akhirnya tak didukung masyarakat dan kemudian ambruk. Maka harus dikatakan, marxisme-leninisme sebagai ideologi berarti juga telah gagal.
Lalu apa jasa Marx sebagai filosof sosial?
Harus dikatakan, banyak pandangan Marx sekarang ini sudah ketinggalan zaman. Misalnya, Marx begitu yakin kaum buruh akan semakin
tertindas dalam sistem perekonomian kapitalis dan karena itu mereka
juga cenderung makin revolusioner hingga suatu saat pasti akan meletus
revolusi sosial.
Lenin tak melihat itu. Apalagi buruh bisa kurang revolusioner karena
puas mendapatkan upah lebih tinggi dan bisa mengungkapkan harapannya
lewat Serikat Buruh. Lenin mengkonsepsikan hal lain, sesuatu yang pada
Marx tak ada.
Hal baru itu adalah paham perlu adanya sebuah partai revolusioner, yang
terutama terdiri dari kaum intelektual, yang menjaga dan menyebarkan
kesadaran sosialis sebenarnya. Sesudah kaum Bolshevik merebut kekuasaan di Rusia,
yang muncul bukan demokrasi dewan kaum buruh -inilah arti sebenarnya
"Soviet"-tetapi kediktatoran Partai Komunis yang mengatasnamakan
kepentingan kaum proletar.
Rezim diktator itu semata-mata karena ambisi pribadi Lenin?
Jelas tidak.
Tentang Lenin harus dikatakan, ia termasuk tipe orang yang sangat
membenci sistem sosial politik di Rusia waktu itu dan berambisi ingin
membuat sebuah revolusi.Maka fokus utama Lenin-bahkan sebelum Revolusi
Oktober-adalah bagaimana bisa membentuk Partai Komunis yang
terorganisir secara rapi, solid, dan militeristik-atau menurut istilah
Lenin, yakni sentralisme demokratis-dengan tekanan pada sentralisme
kekuasaan Komite Sentral Partai.
Semula, kata itu merupakan nama untuk hasrat dan
gerakan yang ingin membangun masyarakat yang adil dan bebas dari
pengisapan orang kecil. Itu dengan keyakinan, sumber se-gala
ketidakadilan adalah hak milik pribadi. Demi motivasi etis, gerakan
sosialisme ingin menghapus hak milik pribadi dan itu ada banyak cara.
Salah satu cabang sosialisme itu adalah sosialisme Marx atau marxisme.
Maka marxisme adalah sosialisme, tetapi tidak setiap sosialisme adalah
marxisme. Abad XX, kata "sosialisme" mendapat makna lebih luas.Pertama, tentu saja sebuah ideologi yang agresif
dengan segala klaimnya seperti marxisme-leninisme itu mendapat pukulan
maut, kalau negara-negara yang berdiri dengan dasar ideologi itu
ternyata malah ketinggalan zaman. Tahun
1950-an, sistem komunisme masih bermimpi-waktu itu Kruschev mengklaim
Soviet paling maju di dunia dan akan meninggalkan AS jauh di
belakangnya-namun yang terjadi malah sebaliknya. Uni Soviet ibarat bangunan besi berkarat dan sebuah ideologi atau sistem politik yang berkarat, tidak akan bisa survive. Karena dilarang dan ditabukan, orang mengira ajaran itu pasti sangat ampuh dan sakti. Padahal, senjatanya itu sudah usang.
Marxisme sudah 150 tahun umurnya, sementara marxisme-leninisme itu
sudah 100 tahun dan itu pun sudah banyak cacatnya, dan kita semua sudah
tahu hasil akhirnya hingga tak sulit mengkritiknya.
Daripada ditabukan, hendaknya dibuka peluang mempelajari ideologi itu,
karena pada akhirnya pasti akan datang juga pengkritiknya, karena saya
sendiri seorang pengkritik.
Marxisme-leninisme identik dengan komunisme?
Persis. Sejak tahun 1946, marxisme-leninisme menjadi nama resmi
ideologi komunisme. Sementara komunisme berarti dua-duanya; gerakan dan sistem komunisme di satu pihak dan ajaran di lain pihak.