Cari
×

Daftarkan diri

Use your Facebook account for quick registration

OR

Create a Shvoong account from scratch

Already a Member? Masuk!
×

Masuk

Sign in using your Facebook account

OR

Not a Member? Daftarkan diri!
×

Daftarkan diri

Use your Facebook account for quick registration

OR

Masuk

Sign in using your Facebook account

Halaman Utama Shvoong>Ilmu Sosial>"Indonesia" dalam Kacamata Post-struktural

"Indonesia" dalam Kacamata Post-struktural

oleh: NasrulAzwar     Pengarang : Samuel Hanneman
ª
 
Ketika kuliah post-kolonial baru saja dimulai, seorang mahasiswa mengajukan pandangan. Menurut dia, melakukan kajian post-kolonial bagai anak kecil dan mainannya. Dia bisa membongkar mainannya, tetapi tidak bisa merakitnya kembali.
Ini sesuai dengan janji para tokoh pemikir ilmu sosial klasik itu sendiri yang sayangnya nyaris terlupakan, seakan-akan menjadi bagian masa silam ilmu sosial. Dalam artian semacam inilah buku State Terrorism and Political Identity in Indonesia tampil. Ariel Heryanto, penulis buku ini, berusaha membongkar amnesia sosial bahwa bangunan kolonial serta merta runtuh dengan dicapainya kemerdekaan.
Dia menyadarkan pembaca bagaimana warisan kolonial telah membelenggu orang Indonesia pada masa Orde Baru dan seterusnya (colonial aftermath). Dan, sesuai dengan silent partner yang mengilhami pemikiran post-kolonial pada umumnya, adalah tugas berbagai kalangan untuk memerdekakan orang Indonesia. Tulisan dalam buku ini cukup langka saat ini. Lagi pula, tidak banyak karya orang Indonesia yang dihargai oleh penerbit asing bereputasi baik.
Ini pula yang memungkinkannya untuk sampai pada perumusan sejumlah hipotesa sosiologis tentang terorisme negara berdasarkan sudut pandang post-struktural. Hasilnya, sebuah analisis yang relatif mendalam dan meluas sekaligus kritik atas relevansi berbagai pemikiran post-struktural. Ini sesuai dengan premis dasar sosiologi, ilmu pengetahuan yang dikembangkan oleh Knorr-Cetina dan berbagai tokoh new sosiology of scientific knowledge, bahwa metodologi ilmiah hanyalah satu persyaratan scientific theory building.
Ini kita perlukan untuk memahami lebih mendalam nilai temuan kajian ini dan nilai gagasan post-kolonial itu sendiri. Menurut saya, selain marginalisasi dan memberlakukan UU Subversif, upaya penting mempertahankan bangunan Orde Baru dilakukan dengan menolak implementasi hak asasi manusia (HAM) melalui pabrikasi apa yang disebut sebagai "nilai-nilai Timur".
ni berlanjut pada apa yang dikenal sebagai "kemunculan naga-naga kecil baru di Asia" di seputar pertengahan tahun 1990-an. Termasuk dalam kategori ini adalah Indonesia, Thailand, Singapura, Malaysia, dan Taiwan. Sepanjang tentang Indonesia, kemajuan ekonomi pada waktu itu menarik. Upaya keluar dari belenggu keterbelakangan ekonomi yang terjadi dalam sebuah konteks fragmentasi kultural yang dibarengi dengan format negara kolonial dan masyarakat yang lemah tidak serta merta menghasilkan pembebasan dari belenggu warisan kolonial. Yang terjadi justru reproduksi warisan kolonial dalam bentuk yang lebih tersamar. Warisan kolonial tidak punah, hanya mengalami proses pengendapan. Hal ini tentunya tidak lepas dari berbagai upaya yang dilakukan untuk memelihara konteks budaya dan politik pembangunan ekonomi.
Nativisme mengandaikan adanya benda yang bernama "struktur", yang bersifat murni dan deterministik terhadap perilaku individu. Keberhasilan Heryanto dalam hal ini, menurut saya, terletak pada upayanya untuk turut serta melakukan reshaping atas konfigurasi ilmu sosial selama ini di Indonesia, di mana area studi dipisah-pisahkan dari disciplinary studies.
Diterbitkan di: 06 Nopember, 2007   
Mohon dinilai : 1 2 3 4 5
Terjemahkan Kirim Link Cetak
X

5 Teratas

.