Pemilihan umum itu musim iklan. Tiba-tiba hampir setiap hari
kontestan berpakaian daerah sambil mengoceh bahwa mereka dekat dengan warga
lokal. Mendadak dunia
di luar seperti berhenti. Yang tampak sejarah
lokal. Litani janji juga dicocokkan dengan keprihatinan lokal, meskipun
warga berbondong
untuk melihat penyanyi dangdut daripada mendengarkan
pidato.Di lain pihak, program kebijakan publik untuk
melakukan agenda itu ada dalam jaring-jaring kondisi historis dewasa
ini yang disebut globalisasi.
Bisa dikatakan, sukses-gagalnya
para kontestan menerjemahkan mimpi
kampanye sangat bergantung pada sejauh mana program mereka
mengungkapkan strategi untuk berjalan pada tegangan
lokal global
tersebut. Soalnya adalah tegangan itu bukanlah fakta yang bisa dihindari, melainkan hanya bisa dihidupi dengan kebijakan. Inilah daftar yang rupanya diajukan oleh hampir setiap
kontestan: ramah pasar, ramah investor,
dan pengembangan usaha kecil
menengah. Semua bagus. Di mana letak tegangan lokal global? Seandainya saya seorang ekonom mazhab Reaganomics, saya tempuh jalan pintas.
Isinya karena soal mendesak adalah tingginya pertumbuhan, dan
pertumbuhan itu akan menyerap para penganggur, dan lalu membangkitkan
daya beli, jalan pintasnya adalah investasi besar-besaran.Ada yang mulia dalam janji itu, yaitu kejujuran pada
fakta dan logika bahwa para investor datang ke Indonesia memang bukan
bertujuan menciptakan lapangan kerja, apalagi mengurangi pengangguran,
tetapi untuk mengeruk laba. Lapangan kerja hanya efek sampingan dari tujuan itu.
Akan tetapi, tanyakan kepada para kontestan bagaimana mereka mau mengamankan jalur kredit rintisan UKM? Policy apa yang mesti diberlakukan pada sektor perbankan yang kinerjanya berada di bawah dalil sektor finansial global?Kebijakan ekonomi apa pun, targetnya bukan untuk
membuat sumber pendapatan mayoritas warga kian tergantung pada kinerja
modal yang datang dan pergi bagai kilat, melainkan pada modal yang
"tertanam", besar atau kecil, dengan atau tanpa istilah "globalisasi".
Kedua, masalah psikokultural kohesi bangsa. Di mana tegangan nasional
global dalam soal itu? Mungkin terdengar nyinyir, tetapi agar lugas,
bolehlah saya mengajukan pokok berikut ini. Kohesi bangsa merupakan cita-cita yang mengandaikan penjagaan dan pemupukan ranah yang disebut the social. Inilah ranah interaksi yang bukan terutama digerakkan oleh tuntutan administratif dan ekonomi.tu persis yang dilakukan program televisi seperti Indonesian Idol dan Akademi Fantasi Indosiar (AFI).
Daripada bekerja keras untuk kualitas substansi dan program membangun
kohesi bangsa, kita cuma dididik menjadi kerumunan massa yang dibuat
kesurupan oleh mimpi instan menjadi selebriti.
Mungkin kita memang sebuah bangsa yang cuma pintar berfantasi.
Setelah siuman, kita dapati presiden baru yang bahkan tidak paham bahwa
kebijakan publiknya adalah kunci memimpin Indonesia berjalan pada
tegangan antara lokalitas dan globalitas.*
Ringkasan lain tentang Paradoks Globalisasi untuk Para Kontestan