SIAPA sangka, penolakan terhadap produk-produk
korporasi global dipraktikkan secara nyata
dalam penyelenggaraan Forum Sosial
Dunia IV
di Mumbay, India. Suatu militansi yang bahkan
tidak ditemui dalam FSD-FSD sebelumnya di Porto Alegre, Brasil. Wujud penolakan itu sudah terasa pada hari pertama Forum Sosial Dunia (FSD) IV pekan lalu ketika beberapa wartawan kebingungan di depan deretan komputer di media center. Para petugas sibuk mondar-mandir membantu karena sistem operasi komputer di media center itu memang tidak biasa, menggunakan Linux. Ini adalah sistem yang disediakan secara gratis oleh para hacker sebagai alternatif penetrasi Windows yang menyebar sampai ke warung Internet di kampung-kampung.
Sitamice, lembaga yang ditunjuk FSD untuk mengurus akomodasi peserta sebagai contoh, memilih menempatkan peserta di hotel-hotel yang dikelola manajemen lokal. Jangan harap pula menemukan aneka merek minuman ringan yang biasanya mudah diperoleh di pedagang asongan pinggir jalan. Air minum dalam kemasan bahkan
dari merek lokal juga tidak ada, apalagi keluaran korporasi internasional.
SEJARAH kelahiran FSD di Porto Alegre, Brasil, tahun 2001 memang berasal dari orang-orang yang percaya bahwa masa depan terletak pada kemampuan membangun keswadayaan dengan manusia sebagai pusatnya, bukan globalisasi sistem kapitalisme neoliberal yang memaksakan keseragaman
dan tidak menghargai pluralisme serta kreativitas.
Di India bahkan ada yang disebut People’s Forum Against Coca-Cola yang selama FSD IV berlangsung menyelenggarakan lokakarya, konferensi pers, serta mengorganisasi lebih dari 100 anggota masyarakat yang terkena dampak untuk rally memprotes kiprah korporasi multinasional itu di India.
Perusahaan pengelola air minum dalam kemasan telah menguasai sumber air terbesar dan terdekat dengan kawasan resapan di pegunungan, sehingga suatu saat nanti sumber air kecil-kecil di sekitarnya-yang notabene memenuhi kebutuhan air masyarakat di sekitarnya-bisa habis tersedot. Tidaklah mengherankan bila kemudian salah satu dari 14 prinsip FSD yang diadopsi lebih dari 2.500 organisasi di 132 negara dengan tegas menyebut FSD melawan semua bentuk totalitarian dan pandangan reduksionis dalam ekonomi dan pembangunan, serta segala bentuk kekerasan yang mengikutinya, termasuk kontrol sosial oleh negara.
Harapan itulah yang dalam hari-hari ini tengah diupayakan untuk diwujudkan dalam Forum Sosial Dunia di Mumbay, di tengah hiruk-pikuknya karnaval lengkap dengan tarian suku Dalit yang menginginkan persamaan di India, penduduk Desa Rajasthani yang menyanyikan hak-hak hutan dan tanah mereka, atau sekelompok remaja Godhra yang meneriakkan perdamaian dan pluralisme, serta masyarakat dari berbagai golongan yang meyakini bisa dihadirkannya dunia baru yang lebih baik. Ketika negara sudah tidak berkutik menghadapi tekanan korporasi global, ketika rakyat sudah tak ada lagi yang melindungi, setiap individu dari seluruh sudut dunia harus menggunakan apa yang dimiliki untuk memberikan perlawanannya yang terakhir.
Ringkasan lain tentang Aksi Lokal Menolak Korporasi Global