Halaman Utama Shvoong > Ilmu Sosial > Bahasa Indonesia di Sekolah

.

Bahasa Indonesia di Sekolah

Summary rating: 2 stars 2 Tinjauan
Summary by : NasrulAzwar
Kunjungan : 376  kata: 600   Diterbitkan di: Nopember 06, 2007
Terbitan yang meluap, majalah berkilap, koran-koran,
monitor, siaran televisi, iklan, pidato di segala tempat, siaran radio,
lagu-lagu, perjumpaan, pembicaraan, mimpi, rencana, sampai kepada
pikiran yang tersembunyi sekalipun semuanya adalah gelimangan kata,
buah pikiran yang menunjukkan kemanusiaan kita.1. lebih menekankan pengetahuan bahasa (seperti kalimat tanya, tanda baca, imbuhan) daripada keterampilan berbahasa;

2.
pada umumnya menggunakan teks-teks kosong "dengan perubahan atau
pengubahan seperlunya" atau "dengan mengubahsuaikan" (ungkapan ini
ditemukan di buku Pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia untuk kelas 1
SLTP terbitan Yudhistira, 1994) yang amat steril dan membosankan
dipakai sebagai sumber dan landasan pembelajaran;

3.
mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang tidak merangsang pikiran apalagi
perasaan dan menutup hampir semua cerita dengan pertanyaan "apakah yang
patut kita tiru dari cerita itu?" (pada buku
Aku Cinta Bahasa Indonesia 3A oleh Surono terbitan Tiga Serangkai,
1998) , hal yang sekaligus menunjukkan pelajaran Bahasa Indonesia
sebagai pelajaran Budi Pekerti dengan tokoh-tokoh yang dipajang dan
tidak pernah beraksi, yang selalu suka menolong, gemar mengalah, dan
pasti patuh;
4. mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang tidak beralasan. Misalnya,
"Bacalah dengan suara lantang, kemudian resapilah isi ceritanya dan
katakan kembali dengan kata-kata kalian sendiri" (dalam buku Bahasaku,
Bahasamu, Bahasa Kita Bersama 6B oleh G Sukadi dan Th M Issri
Windarjati terbitan Gramedia, 1990).
5. yang mengusahakan bahan bacaan yang menarik dan
baik, seperti pada judul Mencari Bentuk Diskursus Kesenian Indonesia,
masih saja penulis buku hanya mengutamakan tugas membaca dan memahami
teks, tidak menanyakan hal-hal yang mendasar perihal kesenian,
perubahan masyarakat, tetapi hanya berkutat pada kehendak memamerkan
kata-kata yang hebat dengan mencari maknanya. Bila kita simak kurikulum Sekolah Dasar, pelajaran
Bahasa Indonesia itu melulu pelajaran dan pengetahuan bahasa, bukan
ajang berpikir tempat siswa berlatih dan berkenalan dengan kemungkinan
dan kebolehan berpikir kritis, kreatif, inovatif, apalagi mengenal diri
dan kehidupan.
Kita selalu mengatakan bahasa sebagai alat menyampaikan pikiran dan
pikiran yang jernih akan membuahkan bahasa yang jelas, tepat, sesuai,
dan indah.
Definisi itu tanpa malu-malu menunjukkan sudut pandang kependidikan
kita: orang dewasa yang dengan sikap mengancam sekaligus menunjukkan
kekuasaan berkata pada siswa bahwa yang utama adalah pikiran yang
jernih.Ketika berbicara mengenai Malin Kundang, kita hanya
bertanya tentang perilaku yang harus dihindari dan bukan
membicarakannya serta memperkenalkannya sebagai kisah kemanusiaan,
keserakahan dan kelemahan universal yang justru harus dikenali sebagai
bagian dari diri.
Pantun-pantun lama dikutip dan dihafalkan, namun tidak pernah
dipertanyakan keindahan kesamaan bunyinya, kesan yang diberikannya, dan
bagaimana orang Indonesia secara turun-temurun sesungguhnya telah
dididik dan dibesarkan dengan moralitas yang khas justru bukan dengan
hardikan atau pukulan, tetapi sindiran dan lelucon.

Diskusi spontan, kisah-kisah siswa yang didengarkan di
kelas, yang dapat dihubungkan dengan keadaan masyarakat bahkan karya,
semuanya,-dengan bimbingan yang mempercayai kelebihan dan kemampuan
siswa sehingga merangsang kreativitas dan orisinalitas-dapat membangun
pribadi dan kepercayaan diri.
Dengan membaca, menulis, dan berbicara, siswa dapat dan harus didorong
untuk menemukan dan mengembangkan pikiran dan suaranya, mulai menata
dan memberi makna pada kehidupannya, dan mulai belajar mengenai dan
dalam kehidupan.
Ia menjadi hidup dan, dengan begitu, ia menyumbang pada kehidupan.
Ketika siswa dapat mendengarkan pikiran dan suaranya sendiri, ia
menemukan kehendak hidup, tujuan hidup, dan mendapatkan identitasnya.
Orang yang seperti inilah yang sampai pada penemuan nilai hidup, yang
akan bercita-cita, hanyakarena ia sudah mengenal siapa dia dan apa
yang hendak dilakukannya dengan kehidupan dan kesempatannya.Guru yang hanya mengajar tanpa sadar betul akan apa
yang sedang dikerjakannya, bahan yang hanya kaya di permukaan, tetapi
melupakan cara belajar anak dan apa kebutuhan mereka, telah
menghasilkan anak-anak yang hanya kaya akan kata tetapi tak mengenal
dunianya.
Dengan demikian, ketika hantu globalisasi bergentayangan, anak-anak
yang tidak terlalu sadar akan keindonesiaannya, yang juga tidak cukup
memahami moralitasnya yang khas, akan dengan mudah beralih pada segala
sesuatu yang baru, yang mudah, dan yang menyenangkan.

Ringkasan lain tentang Bahasa Indonesia di Sekolah
Mohon ringkasan ini dinilai : 1 2 3 4 5


Tambahkan komentar Anda Tidak ada komentar

Read Free Summaries - Write and Get Paid

Summarize Human Knowledge on Shvoong. Join us!

------