BUSINESS Week, mingguan bisnis
AS, punya judul bagi laporannya tentang teknologi pada edisi 22 September 2003, "Batas
negara adalah soal khas abad ke-20". Maksudnya, abad ke-21 adalah urusan melampaui batas-batas itu.
Kita tahu, badan-badan internasional, seperti Organisasi Perdagangan Dunia (WTO)
dan Dana Moneter Internasioanal (IMF) merupakan lembaga yang menopang agenda itu. Bila
di layar televisi kita dipandu
globalisasi para selebriti, pada tataran ini kita bertemu dengan kepentingan para praktisi ekonomi.
Ia hanya perlu mengulang pidato Ulysses Grant, pahlawan perang dan presiden suatu negara (1869-1877) yang waktu itu masih merupakan negara sedang berkembang. Itulah Amerika Serikat.
Baiklah, saudara-saudara, apa yang saya ketahui tentang negeri kita membawa saya pada keyakinan bahwa dalam 200 tahun ke depan, ketika kita telah mendapatkan semua keuntungan yang diperoleh dari sistem proteksi, Amerika juga akan mengadopsi perdagangan bebas".>kern 200m<>h 8333m,0<>w 8333m< Bukan 200, melainkan 100 tahun kemudian, agenda itu secara sistematis dilancarkan. Bagi kita yang belajar ekonomi tanpa konteks sejarah, nama Friedrich List, ekonom-politik Jerman, dikenal sebagai bapak "industri proteksi" (infant industry). Anggapan itu keliru. Perintis fanatik "industri proteksi" adalah menteri keuangan pertama AS, Alexander Hamilton. Tanpa mengikuti petuah Adam Smith, para politisi dan pemimpin AS abad ke-19 yakin bahwa perdagangan bebas tidak cocok untuk negara yang sedang berkembang seperti AS masa itu.
Kemudian, di tahun 1885, List menuangkan diagnosis yang masyhur tentang apa yang telah dibuat AS dan Inggris. "Adalah siasat yang sangat umum dipakai, ketika seorang telah mencapai puncak kejayaan, ia tendang tangga yang ia pakai untuk memanjat. Ia lenyapkan tangga itu agar pihak lain tidak bisa mengejarnya. Bangsa yang dengan proteksi dan navigasi telah menghasilkan industri amat digdaya, sampai tak ada bangsa lain yang bisa bersaing lewat kompetisi bebas, selalu melakukan siasat culas dengan melenyapkan tangga yang dipakainya mencapai kebesaran.
Itu karena negara-negara maju dalam globalisasi dewasa ini memaksakan "berbagai aturan dan prinsip yang persis bertentangan dengan apa yang dahulu menjadi prasyarat mutlak pembangunan ekonomi mereka sendiri".
Jika data sejarah tidak juga mendukung doktrin yang diajarkan dalam globalisasi, sebaiknya kita mencari alasan lain bagi khotbah kita tentang perlunya perdagangan bebas. Di sinilah kita tidak-bisa-tidak menyentuh basic instinct yang menjadi jantung globalisasi dewasa ini.
Sebagaimana sering kita dengar dari para budayawan, runtuhnya Tembok Berlin tahun 1989 menandai berakhirnya narasi besar (grand narrative) yang berkisar pada rivalitas ideologi dan Perang Dingin. Lalu kita menyangka bahwa yang terhampar adalah perayaan narasi-narasi kecil dan keberagaman kultur lokal yang akan tumbuh berbunga-bunga. Di tengah keyakinan itu, pemikir kultural Terry Eagleton menerbitkan karyanya yang terbaru, After Theory (2003). Ia melancarkan sengat kepada para pemikir kultural yang, bagai Narcissus, bersolek di permukaan kolam dan terpana oleh beragam gagasan, semua bisa diberi judul "posmo"’.
Itulah mengapa ekonom James Galbraith (2003), putra ekonom John Galbraith, mendesak agar globalisasi "tidak diserahkan kepada orang-orang yang punya kekuasaan dan mentalitas bankir". Ketiga, sudah saatnya gagasan dan gerakan kultural, sosial, hukum, maupun politik berfokus pada soal akuntabilitas publik para pelaku, praktik, dan lembaga yang membuat globalisasi dikuasai oligarki modal.
Ringkasan lain tentang Merawat Mimpi Globalisasi