ntuk menerampilkan siswa berbahasa Indonesia, para
guru hendaknya mengubah metode
pengajaran bahasa Indonesia dari monolog
menjadi dialog. Siswa sebaiknya dilibatkan
dalam proses membaca, menulis,
dan berbicara, sehingga daya imajinasi
mereka tergugah dalam mengartikulasi kata-kata bahasa Indonesia.
Sejalan
dengan itu, politik bahasa harus mempertegas peniadaan kata
serapan asing selama kata yang bersangkutan ada dalam bahasa Indonesia
atau bahasa daerah.
Demikian wacana pada diskusi panel "Bahasa Indonesia dalam Bahaya" di Jakarta, Senin (6/10).
Diskusi yang digelar harian Kompas tersebut menampilkan sejumlah pakar
dan pemerhati bahasa, yakni Riris K Toha-Sarumpaet, Prof Sudjoko, Ayat
Rohaedi, Hasan Alwi, dan Nirwan A Arsuka. Hadir dan ikut berbicara Prof Liek Wilardjo, Bambang Kaswanti, serta Kepala Pusat Bahasa Dendy Sugono.
Bagian proses berpikir
Riris mengingatkan, belajar bahasa, kegiatan membaca, menulis, dan berbicara adalah bagian dari proses berpikir. Selama ini, guru tidak menempatkan siswa sebagai manusia yang berpikir.Mengacu pada kurikulum sekolah dasar, Riris menilai, pelajaran bahasa Indonesia melulu berupa pelajaran dan pengetahuan bahasa.
"Siswa tidak diarahkan berpikir, berlatih secara kritis dan inovatif mengenal diri dan kehidupan. Situasi demikian yang menempatkan guru sebagai penguasa sulit melahirkan pikiran yang jernih," katanya.
Muaranya, para siswa bisa berartikulasi dan terampil memilih kata untuk menguraikan konsep.
Melalui
dialog dalam pengajaran bahasa Indonesia, sesungguhnya keindonesiaan dapat ditanamkan. Ketika berbicara mengenai lokalitas, bacaan Indonesialah yang akan menentukan.
Tatkala berhadapan dengan globalisasi, di mana keadaan dan istilah yang
sering dimanfaatkan sebagai alasan, sebenarnya keindonesiaanlah yang
tertantang.
Masalahnya, mana mungkin ada kemantapan bila bacaan yang disodorkan pada siswa di kelas adalah teks kosong dan kering?" papar Riris.
Saling melengkapi
Para pembicara lainnya sepakat bahwa bahasa Indonesia dan bahasa asing, terutama bahasa Inggris, tidak perlu saling dibenturkan. Kedua bahasa tersebut saling melengkapi. Bagaimanapun, bahasa asing diperlukan sebagai modal pergaulan antarbangsa. Hanya saja penggunaan istilah dari bahasa asing harus memenuhi kaidah agar kata yang dimaksudkan tidak menjadi rancu.
Sudjoko menilai, selama ini kalangan media massa cenderung menggunakan
bahasa Ingris untuk istilah tertentu dengan dalih istilah yang dimaksud
tidak ada dalam bahasa Indonesia. Padahal, kalau saja wartawan rajin membuka kamus, pastilah kata yang dimaksud ada dalam bahasa Indonesia.
Ringkasan lain tentang Selamatkan Bahasa Indonesia dengan Dialog dalam Pengajaran Bahasa Indonesia