Mereka mengenakan "busana nasional" yang umumnya
merupakan kain sarung dari berbagai daerah dengan kebaya beragam bentuk walaupun ada juga yang berkain panjang dengan wiru serta kebaya. Mereka berhenti sejenak dari rutinitas kerja
dan mengeluarkan energi khusus untuk mengenakan
busana daerah, yang bukan merupakan busana sehari-hari, baik untuk hadir
sebagai tamu atau ikut memeragakan
di atas pentas.
Wajah-wajah yang sudah dikenal publik hadir dalam acara ini dan di antara mereka selain menjadi tamu, juga menjadi peraga busana Nusantara yang memadukan antara kain-kain tua dengan atasan yang masih mengikuti bentuk asli atau merupakan hasil modifikasi. Ada Mirtha Kartohadiprodjo dari Femina Group, Miranda Gultom yang mantan deputi Gubernur Bank Indonesia, Niniek L Karim yang pengajar psikologi di Universitas Indonesia, Titik Prabowo yang
pengusaha dan ditemani adiknya Mamiek Soeharto, Paula Agustina Saroinsong dan Tri Sudwikatmono yang pengusaha, pengusaha dan perancang busana Poppy Dharsono yang mengatakan telah membuat jas gaya beskap untuk perempuan lebih 10 tahun lalu di Paris, hingga perupa Astari Rasjid dan pekerja film Rima Melati.
Beberapa berusia 20-an dan 30-an tahun, termasuk Renjani, perupa yang adalah putri Asmoro Damais, pengusaha batik dan busana daerah yang datang dengan kebaya serta berkemben khas perempuan Jawa.
Kebaya yang
dipadukan dengan celana panjang, selendang tenun buatan perajin lokal dengan motif lokal yang dipadukan dengan gaun malam berpundak terbuka, ikat pinggang lebar meniru obi yang dipadukan dengan gaun pendek, atau kebaya yang dibentuk dengan konstruksi korset merupakan beberapa upaya Asia mengadopsi Barat dalam kehidupan sehari-hari.
Sebagai Yang Lain, mode Asia tetap dianggap berbeda dari Barat yang saat ini cara berpakaiannya menjadi norma di banyak tempat di dunia ekonomi, politik, dan sosial modern. Sebagai Yang Lain, Barat cenderung mereduksi warisan budaya serta keberagaman Asia ke dalam busana yang difemininkan dan dengan keeksotisan yang tidak mengancam.
Ringkasan lain tentang Lokalitas di Tengah Globalisasi