Halaman Utama Shvoong > Ilmu Sosial > Belajar Kearifan dari Cubadak Mangkarak

.

Belajar Kearifan dari Cubadak Mangkarak

Pengarang : Sahnan Rangkuti
Summary by : NasrulAzwar
Kunjungan : 97  kata: 600   Diterbitkan di: Nopember 06, 2007
Puluhan becak bermotor keluar masuk di Dusun Pulo Sarak, Desa Rumbio, Kecamatan Kampar, Kabupaten Kampar, Riau. Di atas becak tersusun rapi sedikitnya 10 jeriken putih. Masuk ke dusun, jeriken dalam kondisi kosong, saat keluar dusun, jeriken sudah penuh berisi air. Becak-becak itu baru saja kembali dari sumber mata air Hutan Cubadak Mangkarak, yang terletak di pinggir dusun yang berjarak sekitar tiga kilometer dari jalan raya Pekanbaru-Bangkinang, tepatnya di Kilometer 50.
Air dari mata air di Hutan Cubadak Mangkarak tidak perlu dimasak. Tinggal tampung, langsung diminum. Rasanya maknyes, langsung segar, bahkan lebih segar dari air minum kemasan yang biasa dijual di pasaran. Kepala Dusun Pulo Sarak Baharuddin mengatakan, lima tahun lalu sampel air dari mata air Hutan Cubadak Mangkarak sudah diteliti di laboratorium PT Caltex. Hasilnya ternyata menakjubkan. Air itu sama sekali tidak terkontaminasi unsur kimia atau mikroorganisme yang merugikan kesehatan. 
Setahun terakhir, kabar keunggulan air dari mata air Hutan Cubadak Mangkarak sudah mulai sampai ke Bangkinang yang berjarak sekitar 10 kilometer dari dusun itu. Becak-becak pun mulai berdatangan mengambil air. Namun, kini, air tidak lagi gratis. Tata kelola air sudah dibuat dan disepakati harga per jeriken untuk keperluan komersial Rp 500. Hanya untuk warga dusun yang berjumlah sekitar 900 orang air Hutan Cubadak Mangkarak dibolehkan gratis. Uang penjualan air tidak dinikmati pemilik lahan tempat mata air keluar. Dari harga Rp 500 per jeriken, kas dusun mendapat bagian Rp 100, untuk perbaikan jalan dusun Rp 100, untuk upah pungut (pekerja yang mengelola penjualan air) Rp 100, dan sisanya untuk dua pemilik lokasi mata air.
Jika air di Dusun Pulo Sarak masih jernih, segar, dan sehat, hal itu benar-benar anugerah dari Yang Mahakuasa. Namun, semua itu tidak terlepas dari perjalanan panjang kearifan lokal masyarakat di sekeliling Hutan Cubadak Mangkarak yang terjaga ratusan tahun. Hutan Cubadak Mangkarak adalah wilayah hutan adat yang disebut juga sebagai hutan larangan di bawah pengawasan ninik mamak Rajo Mangkuto, Datuk Gadang, dan Datuk Ulak Semano. 
Kayu di hutan Cubadak, kata Baharuddin, bukan tidak boleh digunakan warganya, tetapi penggunaannya dibatasi, misalnya untuk membangun rumah buat warga yang tidak mampu atau untuk bangunan masjid dan musala. Hanya saja, menebang kayu di hutan itu tidak boleh menggunakan gergaji mesin, melainkan dengan alat-alat tradisional.
Mungkin jika cukong kayu masuk Hutan Cubadak, air liurnya bakal menetes. Kayu Hutan Cubadak tidak terusik karena sebagian besar warga desa memiliki penghasilan dari kebun karet yang berada di pinggir hutan. Masyarakat yang kurang mampu bekerja sebagai buruh sadap dan mengambil hasil hutan. Vegetasi liar hutan lebat di Cubadak diyakini masyarakatnya menjadi penyangga ketersediaan air dan kelangsungan hidup warganya. Untuk mempertahankannya, meski tidak ada hukum positif, hukum adat tetap dipegang teguh sampai sekarang. Itulah kearifan lokal yang sangat indah. Sudah saatnya pemerintah atau para pengambil keputusan di negara ini tidak lagi memandang nilai hutan hanya sebatas harga satu meter kubik kayu. Nilai tidak terhingga Hutan Cubadak Mangkarak adalah warisan yang sudah terbukti benar-benar diturunkan kepada anak cucu.



Ringkasan lain tentang Belajar Kearifan dari Cubadak Mangkarak
Mohon ringkasan ini dinilai : 1 2 3 4 5


Tambahkan komentar Anda Tidak ada komentar

Read Free Summaries - Write and Get Paid

Summarize Human Knowledge on Shvoong. Join us!

------