Halaman Utama Shvoong > Ilmu Sosial > Globalitas dan Lokalitas dalam "Membayangkan Indonesia"

.

Globalitas dan Lokalitas dalam "Membayangkan Indonesia"

Summary rating: 1 stars 1 Tinjauan
Pengarang : Saut Sitomorang
Summary by : NasrulAzwar
Kunjungan : 90  kata: 600   Diterbitkan di: Nopember 06, 2007
ADALAH studi terkenal Indonesianis asal Universitas
Cornell, Amerika Serikat, Ben(edict) Anderson tentang nasionalisme yang
membuat kita sadar bahwa konsep nasionalisme bukanlah lahir begitu saja
dari langit biru di atas kepala, tetapi merupakan sebuah realitas yang
diciptakan oleh imajinasi di dalam kepala-sesuatu yang dibayangkan,
sebuah konstruksi kultural.Anderson menyatakan bahwa bangsa dibayangkan sebagai
sebuah komunitas karena "tidak persoalan kemungkinan adanya
ketidaksetaraan dan eksploitasi yang aktual di dalamnya, bangsa selalu
dipercayai merupakan sebuah persaudaraan yang mendalam dan horizontal".Dalam pergaulan sehari-hari, kita akan menemukan
justru yang sebaliknyalah yang sering terjadi: yang lokal dianggap jauh
lebih baik daripada yang global, Timur lebih bernilai positif
dibandingkan dengan Barat.
Dalam sejarah pemikiran kebudayaan kita, perdebatan penting tentang isu
globalitas dan lokalitas, tentang Barat dan Timur, pernah terjadi di
tahun 1930-an, 1960-an, dan 1980-an, yang kita kenal sekarang sebagai
Polemik Kebudayaan, Polemik Lekra/Manikebu (Prahara Budaya?), dan
Perdebatan Sastra Kontekstual.
Saya melihat terdapat seutas benang merah pemikiran yang menghubungkan
ketiga peristiwa, yaitu bagaimana sekelompok elite intelektual berusaha
membayangkan apa yang mereka representasikan sebagai Indonesia itu
sebagai sebuah realitas sesungguhnya, paling tidak sebuah realitas
paling ideal.Dalam esei berjudul "Menuju Masyarakat dan Kebudayaan
Baru" yang akhirnya menimbulkan apa yang oleh Achdiat K Mihardja
disebut sebagai Polemik Kebudayaan (yang melibatkan tokoh penting saat
itu: Sanusi Pane, Dr Poerbatjaraka, Dr Sutomo, Tjindarbumi, Adinegoro,
Dr M Amir, dan Ki Hajar Dewantara), STA memajukan tesis bahwa sejarah
sesuatu yang bernama "Indonesia" itu harus dibedakan atas dua zaman:
zaman "Indonesia" kontemporer abad XX-yang dikarakterisasikannya
sebagai "ketika lahir suatu generasi yang baru di lingkungan Nusantara
ini, yang dengan insaf hendak menempuh suatu jalan yang baru bagi
bangsa dan negerinya"-dan zaman sebelum itu, zaman hingga penutup abad
XIX, "zaman prae-Indonesia, zaman jahiliah keindonesiaan, yang hanya
mengenal sejarah Oost Indische Compagnie, sejarah Mataram, sejarah
Aceh, sejarah Banjarmasin, dan lain-lain".Sebabnya, hanya suatu masyarakat yang dynamisch yang dapat berlomba-lomba di lautan dunia yang luas.
Maka, telah sepatutnya pula alat untuk menimbulkan masyarakat yang
dynamisch yang teristimewa sekali kita cahari di negeri yang dynamisch
pula susunan masyarakatnya. Bangsa kita perlu
alat-alat yang menjadikan negeri-negeri yang berkuasa di dunia yang
dewasa ini mencapai kebudayaannya yang tinggi seperti sekarang: Eropa,
Amerika, Jepang. Kritik STA yang diberi judul "Semboyan yang Tegas" itu
ditujukan kepada kecenderungan sikap "anti-intelektualisme,
anti-individualisme, anti-egoisme, anti- materialisme"-atau anti-Barat
secara umum karena isme-isme inilah yang dianggap sebagai dasar budaya
Barat oleh kalangan elite intelektual kita saat itu, seperti juga
sekarang-pada pidato sejumlah besar pembicara dalam kongres tersebut. Dalam eseinya yang pertama, "Menuju Masyarakat dan
Kebudayaan Baru", yang jadi pemicu terjadinya perdebatan intelektual
penting pertama dalam sejarah pemikiran modern Indonesia itu, STA
sebenarnya sudah menyinggung soal-soal yang saat ini dikenal sebagai
isu-isu penting masyarakat pascakolonial, seperti mimikri dan
hibriditas identitas, tapi satu hal pokok yang justru jadi sebab dari
kondisi pascakolonial tersebut anehnya luput dari pembicaraannya, yaitu
realitas kolonialisme yang sedang dialami "Indonesia" yang sedang
dibayangkan itu.

Ringkasan lain tentang Globalitas dan Lokalitas dalam "Membayangkan Indonesia"
Mohon ringkasan ini dinilai : 1 2 3 4 5


Tambahkan komentar Anda Tidak ada komentar

Read Free Summaries - Write and Get Paid

Summarize Human Knowledge on Shvoong. Join us!

------