Hidup Mati Penulis & Karyanya (4) :
Pramoedya Ananta Toer & Sikap-Pendirian Mendasar
Oleh : A.Kohar Ibrahim
JIKA diingat segala prilaku, aktivitas dan kreativitas manusia
itu dikomando oleh perasaan dan pikirannya – sikap-pendriannya – maka demikianlah
dalam melakukan evaluasi atau penilaian atas sesosok makhluk manusia macam Pramoedya Ananta Toer.
Dengan ciri utama yang amat menonjol adalah ke-integritas-annya dan kekonsistenannya selaku pejuang Kemerdekaan rakyat dan bangsa Indonesia. Kemerdekaan yang tak lain secara hakiki untuk membina hidup kehidupan manusia yang beradab. Kemerdekaan yang bermakna selaras dengan ajaran Multatuli : memanusiakan manusia.
Untuk itu, seorang putera terbaik Indonesia bernama Pramoedya Ananta Toer telah membuktikan dirinya, dengan segala aktivitas-kreativitasnya. Dengan segala pengorbanan jiwa-raganya ; dengan pengalamannya yang pahit-getir, siksa dan derita ; dan tentu saja, semasa hidupnya, diapun pernah mengenyam kemanisan hidup dan penghargaan sebagai manusia yang telah berjasa dalam pembinaan peradaban lokal, nasional maupun internasional. Yang kesemuanya didasarkan, justeru berkat ke-integritas-annya kekonsistenannya dalam merebut dan membela Kemerdekaan.
« Hanya dengan memahami sikap-pendirian Pram yang mendasar itulah kita bisa mudah memahami kenapa dalam pernyataan-pernyataannya, lisan maupun tulisan, dia bersikap lugas, tegas, bahkan kedengaran keras – terutama terhadap lawan-lawan atau orang-orang yang memusuhinya. Termasuk yang mengecamnya masuk LEKRA.»
« Karena Lekra itu dikecam sebagai organisasi kebudayaan komunis -- onderbownya PKI ».
« Asbun aja ! »
« Karena Lekra dan Pram penganut ideologi Marxisme-Leninisme, pengimpor faham Realisme-Sosialis ».
“Asbun aja! Yang pasti adalah sikap-pendirian Pram memang selaras dengan sikap-pendirian Lekra – seperti yang terkandung dalam Mukadimahnya. Sikap-pendirian kaum pekerja kebudayaan, seniman dan sastrawan serta penyair yang engagée, yang berpihak. Yakni memihak Rakyat, memihak kebenaran dan keadilan. Ringkasnya memihak Kemerdekaan demi terwujudnya kehidupan manusia yang beradab. Kehidupan manusia yang manusiawi.”
“Kenapa memihak Rakyat? Karena Rakyatlah pencipta sejarah. Seperti terbuktikan dalam
Revolusi Agustus 1945, yang dipertegas dalam Mukadimah Lekra. ‘Bahwa pahlawan dalam peristiwa bersejarah ini, seperti halnya dalam seluruh sejarah bangsa kita, tiada lain adalah Rakyat. Rakyat Indonesia dewasa ini adalah semua golongan di dalam masyarakat yang menentang penjajahan. Revolusi Agustus adalah usaha pembebasan diri Rakyat Indonesia
dari penjajahan dan peperangan, penindasan dan penghisapan feodal. Hanya jika panggilan sejarah Revolusi Agustus terlaksana, jika tercipta kemerdekaan dan perdamaian serta demokrasi, kebudayaan Rakyat bisa berkembang bebas. Keyakinan tentang kebenaran ini membuat Lekra ikut serta aktif dalam pergulatan untuk kemerdekaan tanah-air dan untuk perdamaian di antara bangsa-bangsa, di mana terdapat kebebasan bagi perkembangan kepribadian berjuta-juta Rakyat.’ Begitulah, antara lain isi dari Mukadimah Lekra. Lekra yang didirikan pada tanggal 17 Agustus 1950.”
“Maka dari itu Pram tak suka orang yang memusuhi Lekra, yah? Seperti yang disebut Manikebuis?”
“Pram tak suka pada musuh-musuh Revolusi Agustus, terang-terangan atau pura-pura, juga pengejek para pejuang kemerdekaan.”
“Yang dimaksudkan sebagai pengejek itu pengarang macam Idrus, yah?”
“Bukan hanya itu. Juga mereka yang dengan satu atau lain cara memposisikan diri sebagai lawan – baik di zaman Sukarno maupun sesudahnya. Terutama sekali kaum manikebuis yang nggak ketulungan.”
“Persisnya?”
“Persisnya? Orang-orang yang punya sikap-pendirian berbeda dengan dia. Orang-orang yangterus-terusan memusuhinya. Seperti penjelasannya pada SAS tahun 1994. Kaum Manikebuis, tidak ikut berjuang melawan agresi Inggris, tidak ikut dalam perjuangan pembebasan Irian Barat, juga dalam menumpas pemberontakan PRRI.“
„Persisnya lagi?“
„Kaum manikebuis, kalau nggak lagi terang-terangan, bersikap hipokrit terhadap Presiden Sukarno dan ajarannya. Sedangkan Pram jelas-jemelas mendukung garis politik Bung Karno. ‚Perbedaan paling mendasar di situ,’ Pram lebih lanjut mengaku terus terang. ‚Makanya Sukarno saya benarkan waktu dia bilang bahwa revolusi belum selesai. Karena memang tujuan revolusi belum tercapai… Orang-orang Manikebu itu 10 tahun lebih muda dari saya. Kalau lebih tua dari saya biasanya bekerja sama dengan Belanda. Kalau seumur dengan saya umumnya pelarian dari Jogya ikut konvoi Belanda ke Jakarta. Sekitar 10 tahun di bawah saya tidak ikut revolusi, kalau lebih tua dari saya jadi pegawai Belanda, zaman revolusi. Itu petanya Manikebu. Lantas apa yang bisa diharapkan. Jadi nggak pernah ngomong mereka dalam keadaan negara kita dikepung negara-negara imperialis, bahkan diserang, pemberontak-pemberontak dipersenjatai, masak diam saja! Karena saya ikut pahit getirnya revolusi, saya harus bantu. Teman-teman Lekra juga membantu karena sadar politik. Itulah penjelasan dasarnya. Mengenai inilah yang mereka tidak pernah mau ngomong. H.B. Yassin itu kan pegawai Belanda. Achdiat Kartamihardja pegawai Belanda, Tresno Soemardjo ikut konvoi Belanda lari dari Jogya ke Jakarta. Begitu juga Usmar Ismail, Rosihan Anwar saya kira juga begitu. Lantas bagaimana. Itu sebabnya begitu penyerahan kedaulatan, Usmar Ismail membuat film Enam Jam Di Jogya untuk menebus … Jadi dibesar-besarkan sehingga menjadi peristiwa besar. Sebab Enam Jam Di Jogya itu, Jogya kosong ndak ada apa-apanya. Perintah gencatan senjata dari PBB, kosongkan Jogya itu. Masak Peristiwa Jogya dibesar-besarkan sampai tidak proporsional. Persoalannya, hari itu Kolonel Van Langen dari Belanda datang ke Hamengkubuwono IX, bahwa sekian jam lagi pasukan Belanda akan masuk Jogya. Lantas Hamengkubuwono IX menghubungi Jenderal Soedirman: „Penggunaan waktu kosong untuk move internasional, bahwa kita masih mempunyai kekuatan“. Tapi tinggal sekian jam lagi, pakai kesempatan itu. Nah, kemudian dipakai masuk Jogya. Sampai sekarang dibesar-besarkan tanpa menyebut Hamengkubuwono IX sebagai otaknya. Dikira hebat kan masuk ke Jogya untuk generasi yang nggak tahu. Nggak tahu apa-apa itu… ha ha ha. Itu daerah kosong yang dimasuki. Boleh tulis itu.’
„Dan pernyataan Pram itu lantas ditulis, yah? Tapi nggak ada di pers nasional…“
„Ketika itu? Mana ada. Pan zamannya Jurnalisme Kepiting! Pernyataan sikap-pendirian Pram yang cukup penting itu disiar Tabloid Mahasiswa Fakultas Sastra Universitas Jember, SAS, Edisi 42, Tahun Ke-V, 1994. Di luar negeri, disiar ulang Majalah Kreasi nomor 24 1989-1995, Amsterdam.“ *** (2.11.07)
Ringkasan lain tentang Hidup Mati Penulis & Karyanya (4): Pramoedya Ananta Toer & Sikap-Pendirian Mendasar