Hidup Mati Penulis & Karyanya (3) :
Pramoedya Ananta Toer Yang Teguh Tertuduh
Oleh : A.Kohar Ibrahim
NASKAH « Pramoedya Ananta Toer : Tahun 1965 Tahun Pembabatan Total » yang disiar Ruang Budaya Bintang Timur LENTERA tanggal 9 Mai 1965 mendapat perhatian besar. Sebuah naskah
dari sekian banyak naskah-naskah di bidang kebudayaan, khususnya kesusastraan, yang disiar-sinar Lentera sejak 1962 sampai diberangusnya Bintang Timur oleh penguasa militer Orde Baru
dalam bulan Oktober 1965.
« Anda menyatakannya itu hanyalah sebagai naskah retorik ? »
« Iya. Memang, naskah itu sendiri, seperti telah saya konstatasi adalah hanya salah satu bukti dari rhétorique seorang pengarang yang memiliki keberanian dan keteguhan luarbiasa ; yang secara konsisten membela kebudayaan nasional yang berkepribadian Indonesia. Kebudayaan nasional yang demokratis, anti-kolonialis, neo-kolonialis dan imperialis serta feodalis.
Perjuangan di bidang kebudayaan ini saling seling-berkaitan
dengan perjuangan di bidang politik -- politik untuk mencapai Kemerdekaan penuh. Serempak dengan perjuangan di bidang ekonomi – yakni dengan garis Berdikari – berdiri di atas kakai sendiri – sebagai pernyataan menentang hegemoni dan ketergantungan pada kekuatan kapitalisme Internasional. Perjuangan dalam skala nasional yang berkaitan erat dengan berkobarnya Perang Pembebeasa Rakyat Asia-Afrika dan Perang Dingin yang panas antara dua « blok ». Blok yang disebut-sebut sebagai « Timur » (« Sosialis/Komunis ») dibawah komando Uni Soviet versus Blok « Barat » (Kapitalis) di bawah pimpinan Amerika Serikat. »
Dengan kata lain, aktivitas-kreativitas Pramoedya Ananta Toer, istimewa sekali dengan Lentera yang dipimpinnya, memang tidak bisa tidak harus disimak dalam konteks sikon (situasi-kondisi) pada masanya. Dalam periode perjuangan hidup-mati yang marak – antara kekuatan kaum progresip revolusioner di bawah Pemimpin Besar Revolusi/Pangti ABRI/Presiden Sukarno di satu pihak, dengan pihak yang jadi lawannya. Yakni, kekuatan reaksioner dalam negeri yang dibeking oleh kekuatan nekolim dan kaum feodal yang jahat. Dan Pramoedya dangat jelas-tegas berada di pihak yang pertama. Maka, ketika kekuatan kedua, yakni kaum kontra-revolusi, berhasil menumpasan kekuatan progresip revolusioner dan kepemimpinan Bung Karno, tak bisa tidak Pramoedya pun sebagai salah seorang dari kaum yang terkalahkan.
Itu begitulah duduk persoalannya yang mendasar, yang mendasari sikap-pendiriannya, dan bagaimana di menjaga keteguhan dan keyakinanannya dalam perjuangan mewujudkan aspirasi Kemerdekaan rakyat dan bangsa Indonesia. Kenapa pula dia bersikap tegas terhadap kekuatan-kekuasaan kaum kontra-revolusi sekalian mereka yang (menurut istilah Pram) : masuk « kantong kekuasaan » yang menang.
Yang membikin saya kagum terhadap Pramoedya Ananta Toer, bukan semata-mata karena hasil karyanya yang monumental, melainkan juga pada ke-integritas-annya yang konsisten – sejak awal mulanya sampai akhir hidupnya. Seperti yang pernah saya utarakan pada saat turut berduka-cita atas ke-mati-annya. Dengan menggaris-bawahi baris-baris puitis Hersri Setiawan (Renungan – untuk Mas Pram). Antara lain :
« orang-orang yang bakal mati / hadir di sini / di depan jasadmu / orang-orang yang sudah mati / dalam membela harga-diri / hadir di sini / di depan jasadmu / menyanyikan kidung kesunyian / hati dan hati saling bertaut / »
Baris baris puitis Hersri yang bersahaja namun dalam maknanya itu, mencerminkan kehidupan manusia sebangsa Pramoedya, dengan kesinambungan nada irama lagu manusia dari zaman ke zaman. Lagu kemanusiaan yang hakiki akan hidup-mati, dalam membela harga-diriyang azasi. Itu saja. Sederhana. Jelas.
Iya. Lagu yang dinyanyikan Pramoedya dan sebangsanya memang senantiasa merupakan lagu manusia yang membela harga-diri. Membela: marwah. Membela: human dignity. Sepatah dua-patah kata yang sederhana namun jelas mendasar. Meski dalam makna memaknainya, dalam pemahaman dan penghayatannya tak selalu menjumpai kesederhanaan dan keterjelasan, melainkan kerumitan dan ketidak-jelasan bahkan kegelap-suraman. Oleh karenanya mengundang keberanian terhadap tantangan kenyataan suasana kehidupan – terutama setkali terhadap penguasa dan kekuasaannya.
Betapa tidak. Bukankah di atas dasar dan seputar harga-diri atau marwah itu tumbuh-tumpas-nya, kukuh-rapuh-nya, tinggi-rendah-nya martabat hidup kehidupan manusia? Dari yang seorang perorangan sampai yang sekawanan, sekelompokan, segolongan, sekolektipan, separtaian, sekoalisian dan bahkan ke-se-bangsa-an?
Dan dalam hal makna memaknai marwah atau harga-diri ini, seorang Pramoedya adalah teladan yang paling cemerlang dalam kekonistenan dan kekonsekwenannya. Yang terbuktikan dalam aktivitas maupun kreativitasnya sepanjang kehidupannya. Orang-orang terdekatnya, seputarnya, teman-temannya, murid-muridnya atau para pembacanya yang cerah tentulah mampu menampak akan pertanda yang kardinal sekaligus mendasar tersebut.
“Maksud dari uraian Anda itu, segala aktivitas-kreativitas Pram sepanjang hidupnya semata-mata sebagai terjemahan yang nyata dari ideologi humanismenya?”
“Iya. Semua itu tak lain kecuali cara-gaya-nya menerjemahkan makna ajaran gurunya, Multatuli, bahwa tujuan hidup adalah untuk memanusiakan manusia. Untuk itu, Pram sejak mulanya sudah berpihak dalam perjuangan untuk Kemerdekaan. Kemerdekaan, baginya, tak lain bertujuan untuk mencapai kehidupan manusia yang beradab. Menjadi manusia yang hakiki manusiawi.”
“Tapi janganlah berlebih-lebihan menilai Pram. Karena ada
orang yang justeru berpendapat sebaliknya: Humanismenya Pram itu dikategorikan sebagai „anti humanisme“ – sudah sejak dulunya.“
„Boleh-boleh saja ada yang berpendapat begitu. Saya pernah dengar-dengar juga. Kalau tak keliru, orangnya yang itu-itu juga. Macam orang-orang yang menandatangani pernyataan protes atas Anugerah Magsaysay untuk Pramoedya, kan?“
„Iya. Mereka punya senjata ampuh, bahwa Pram adalah pengimpor ideologi asing yang diharamkan. Yaitu: reaslime sosialis.“
„Hahaha…!“
„Kenapa Anda tawa sinis gitu? Sembari angkat alis, geleng-geleng pala, merogo-rogo kantong celana segala.“
Batinku ! Jadi teringat kata-kata Pramoedya Ananta Toer dalam gambarannya yang mengkarikaturkan kawanan ragam macam orang yang memusuhinya. Tapi semuanya tak lain kecuali kaum yang « masuk kantong kekuasaan ». Kekuasaan yang menyebut diri Orde Baru dengan segala kejahatannya, baik sebagai maling kekuasaan politik dan kekayaan negara maupun kejahatan kemanusiaan yang belum pernah terjadi dalam sejarah politik modern Indonesia. *** (1 Nopember 2007).
Ringkasan lain tentang Hidup Mati Penulis & Karyanya (3): Pramoedya Ananta Toer Yang Teguh Tertuduh