"Indonesia adalah Brasil-nya Asia. Pesepak
bola Indonesia bermain
dengan intelegensia dan bakat unik yang tak ada duanya di dunia. Bakat-bakat mereka lebih baik dibandingkan dengan pemain Korea atau Jepang. Pada era 1950 dan 1960-an, tim-tim Asia jangan bermimpi mampu menaklukan tim Asia Tenggara."
Bersama latar
dunia yang tengah berkabung karena meninggalnya penyanyi Frank Sinatra, Galeano mencatat Indonesia
dalam adegan runtuhnya kediktatoran Soeharto, Mei 1998. Indonesia disebut Eduardo lagi saat terselenggaranya Piala Dunia 1966 di Inggris. Dengan latar, antara lain, naik daunnya Che Guevara di Bolivia dan The Beatles menguasai dunia, 16 tim ambil bagian di ajang global itu.
ndonesia yang
masih bernama Hindia Belanda hadir di Paris sebagai satu-satunya tim yang mewakili sisa negara di dunia lainnya. Dalam pertandingan pertama di Reims, Indonesia alias Hindia Belanda ditekuk Hongaria, 0-6. Itulah pengalaman pertama dan satu-satunya bagi negara dengan lebih dari 228 juta jiwa
ini berkiprah dalam perhelatan paling akbar di dunia itu. Terpuruk karena budaya Setelah hampir 70 tahun terpuruk, kenapa sepak bola Indonesia tetap juga tak mampu berprestasi di tingkat yang lebih tinggi ketimbang di kandangnya sendiri? Freek Colombijn, antropolog lulusan Leiden, mantan pemain Harlemsche Football Club Belanda, menuliskan pandangannya yang menarik dalam artikel "View from the Periphery: Football in Indonesia" (dalam Garry Armstrong & Richard Giulianotti (ed), Football Cultures and Identities, 1999).
Reaksi tipikal orang Jawa di bawah tekanan seperti itu adalah sebuah "ledakan" atau amuk yang keras. Pemikiran ini secara hipotetis mungkin masih sumir. Karena argumen yang sama, kurang meyakinkan bisa diterapkan pada kelompok etnis yang lain, yang juga menampilkan kekerasan serupa di lapangan hijau. Tetapi, penjelasan kultural di atas dapat mencakup keseluruhan pemain dan suporter sepak bola Indonesia bila dikaitkan dengan—khususnya—budaya politik yang berlaku di negeri ini. Pelecehan sportivitas Dalam kultur demokrasi, kalah atau menang dalam satu fair play merupakan sebuah kewajaran, termasuk dalam sepak bola. Namun, di pentas sepak bola Indonesia, kerusuhan suporter masih mudah meruyak ketika suatu tim mengalami kekalahan.
PSSI dalam "Thin Slice" Di tengah ancaman meruyaknya kekerasan suporter dan menguatnya akar korupsi dalam persepakbolaan Indonesia, Juli 2007, timnas Indonesia terjun dalam final Piala Asia. Hasilnya, walau sebagian merasa "tidak kecewa", prestasi signifikan setidaknya seperti yang diraih masih belum bisa ditorehkan. Saya mendapat cermin atas miskinnya prestasi Indonesia ini dari buku kedua Malcolm Gladwell, Blink: The Power of Thinking without Thinking (2005), yang saya beli seusai mendukung timnas di leg ke-2 Piala Tiger di Singapura.
Ringkasan lain tentang Cermin Korup dan Ambivalensi Kita