Halaman Utama Shvoong > Ilmu Sosial > Pascakolonialisme dalam Representasi Film Kita

.

Pascakolonialisme dalam Representasi Film Kita

Pengarang : Fajar Junaedi
Summary by : NasrulAzwar
Kunjungan : 80  kata: 300   Diterbitkan di: Nopember 01, 2007
Pergelaran Festival Film Indonesia di tahun 2004 merupakan klimaks dari
kemunculan kembali film-film anak negeri di layar perak. Setelah tahun
tersebut, sineas- sineas muda maupun tua berlomba-lomba untuk menjadi
yang terbaik, baik terbaik dalam memenangkan festival maupun terbaik
dalam menaklukkan pasar.
Namun, agaknya masa bulan madu para sineas film Indonesia tidaklah
berlangsung lama. Mulanya publik masih belum bisa melihat dengan jelas
mengenai apa yang terjadi di dunia film kita. Publik mulai mencium
gelagat ketidakharmonisan para insan film Indonesia ketika pergelaran
Festival Film Indonesia (FFI) 2006 memantik konflik terbuka di antara
para sineas.su yang diembuskan oleh MFI kemudian berkembang bukan
hanya mengenai protes mereka terhadap penganugerahan Piala Citra untuk
film Ekskul, melainkan juga mengenai kritik mereka atas campur tangan
negara dalam dunia perfilman sebagaimana yang diperlihatkan dengan
keberadaan Lembaga Sensor Film (LSF).

Kajian mengenai pascakolonialisme (postcolonialism)
sendiri telah banyak dilakukan oleh para peneliti yang berasal dari
Dunia Timur, baik mereka yang telah berimigrasi ke negara-negara Barat,
yang notabene merupakan eks kolonialis, seperti halnya Salman Rushdie
yang bermigrasi dari India ke Inggris dan Edward W Said yang bermigrasi
dari Palestina ke Amerika Serikat maupun yang tetap berdiam di
negara-negara di belahan Dunia Timur, seperti Pramoedya Ananta Toer
yang tetap tinggal di Indonesia.Misalnya, kelas yang menguasai kekuatan material
(material force) dalam masyarakat, pada saat yang bersamaan akan
menguasai kekuatan intelektual (intellectual force).
Menurut pandangan Marx dan Engels di atas, kelas yang menguasai
alat-alat produksi secara bersamaan juga akan memiliki kuasa atas
produksi mental.
Dalam konsepsi Marxisme klasik, ada dua hal dalam yang memengaruhi
perkembangan masyarakat, yaitu yang pertama adalah basis (base) dan
yang kedua adalah superstruktur. Basis yang dimasudkan oleh Marx
adalah corak produksi dari suatu masyarakat, sedangkan superstruktur
dapat berbentuk ideologi, politik, budaya, dan sebagainya.

Ringkasan lain tentang Pascakolonialisme dalam Representasi Film Kita
Mohon ringkasan ini dinilai : 1 2 3 4 5


Tambahkan komentar Anda Tidak ada komentar

Read Free Summaries - Write and Get Paid

Summarize Human Knowledge on Shvoong. Join us!

------