Dikatakan, kedua
negara itu "mampu membangun kembali kekuatan ekonominya
dengan mengandalkan semangat bangsa, pendidikan, dan beberapa aspek pokok lain". Jika melihat film-film dokumenter yang menunjukkan kehancuran Jerman dan Jepang seusai Perang Dunia II, orang terharu melihat semua warga negara-tua-muda, laki-laki, perempuan-saling membahu membersihkan puing dan reruntuhan.
Jelas dia memakai kerangka sejarawan terkenal, Arnold Toynbee, tentang challenge-response. Jerman pada abad ke-19 menghadapi
tantangan besar
untuk bersaing dengan negara sekitarnya sehingga mampu memacu pembangunan, bahkan
dalam waktu singkat mengungguli Inggris yang sudah memulai pembangunan sejak lama.
antangan bagi kedua negara amat jelas dan tanggapan dari dua negara juga amat tepat. Kerangka Gerschenkron ini terbukti benar untuk Korea Selatan (yang bermusuhan dengan Korea Utara), untuk Taiwan (yang terancam oleh China), untuk Hongkong (yang terancam oleh China) dan untuk Singapura (yang terancam oleh Malaysia). Empat negara yang sering disebut four little dragons ini berhasil menghadapi tantangan di depannya dan menghasilkan negara maju.
Pada awal Perang Dingin, AS memandang posisi Indonesia tak terlalu strategis dalam rangka membendung komunisme. Indonesia tak mendapat bantuan besar keuangan,
tidak mendapat fasilitas perdagangan dari AS, tidak mendapat payung pertahanan. Soekarno sendiri sejak awal menyatakan tak mau terlibat dalam Perang Dingin dan ini tampak dalam inisiatifnya mengadakan Konferensi Asia Afrika (1955). "Orde Baru" (1967) sebenarnya kesempatan emas bagi Indonesia untuk membangun. AS (juga negara-negara Eropa) saat itu yakin, Indonesia tak boleh jatuh ke tangan komunisme sehingga memberikan dukungan finansial kepada Indonesia.
Namun, Indonesia selama Orde Baru (32 tahun) tidak mampu "menggenjot" pembangunannya karena, kecuali suntikan dana, Indonesia tidak memperoleh kemudahan perdagangan dengan AS, juga harus mengeluarkan biaya pertahanan. Yang jelas, Indonesia tidak menghadapi tantangan.
Jika Indonesia dapat menanggapi dengan positif tantangan itu, mengerahkan semua kelompok sosial, Indonesia akan menjadi bangsa besar yang disegani. Namun, jika Indonesia jatuh dan menyerah atas tantangan itu, dikhawatirkan akan kehilangan kesempatan ketiga kali (pertama masa Orde Lama, kedua masa Orde Baru). Kegagalan itu, pada gilirannya, akan membuat Indonesia menjadi Afrika yang terus dilanda kemiskinan dan pertikaian suku dan agama.
Ringkasan lain tentang Membangun dengan Kekuatan Sendiri