BERSAMAAN
dengan pertemuan puncak forum Kerja Sama
Ekonomi Asia Pasifik
atau APEC muncul wacana kemungkinan terpecahnya
kawasan Pasifik karena maraknya kawasan
perdagangan bebas atau FTA
bilateral dan kawasan perdagangan bebas regional atau RTA.Selain itu, berbeda dengan pasar barang dan jasa, jika
hal ini kemudian merambah ke sektor keuangan, niscaya keadaan menjadi
sarat dengan potensi kegagalan karena adanya informasi yang tidak
simetris, pasar yang tidak sempurna, dan rasionalitas yang terbatas
(bounded rationality). Ada semacam logika dua langkah di mana institusi
memfasilitasi kerja sama
internasional (langkah pertama) dan kerja sama
menghasilkan peningkatan kepuasan atas hasil yang dicapai (utility
gains) untuk setiap
negara atau pemerintah yang berpartisipasi (langkah
kedua) (Gruber 2000).
Lloyd Gruber menjelaskan hal ini dengan membedakan corak kekuasaan
tawar-menawar (bargaining power) serta kekuasaan memaksa (coercive
power) dengan kekuasaan untuk berjalan sendiri (go it alone power) yang
membuat sekelompok pemenang ada pada posisi untuk melangkah maju tanpa
menyertakan kalangan yang kalah (losers).Robert Zoelick yang mengupayakan terbangunnya sejumlah
besar perjanjian kawasan perdagangan bebas bilateral dan regional
membuka lebar kemungkinan tercapainya negosiasi perdagangan
internasional Putaran Doha (Doha Round) tanpa harus terjebak
perseteruan antara negara-negara maju dan negara-negara berkembang
(Eyal, 2004).
Keamanan dan kemakmuran dunia
Sejak tahun 2001 peran perekonomian tradisional bersinggungan dengan
kondisi ancaman keamanan dunia karena barang-barang muatan, komoditas,
dan kontainer yang melintasi kawasan Asia dan AS bisa dengan mudah
dijadikan perlindungan (cover) operasi kaum teroris internasional
(McLarty III dan Roy, 2004).
Meski negara-negara yang turut menghadiri pertemuan tingkat tinggi APEC
merasa jenuh terhadap pendekatan Pemerintah AS yang menggalang dukungan
untuk perang melawan terorisme, tampaknya tidak dapat dihindarkan
berlangsungnya pembicaraan soal-soal keamanan internasional, seperti
soal senjata nuklir Korea Utara, proliferasi senjata pemusnah massal,
keamanan perbatasan negara, dan militansi Islam.Yang pertama, model komunitarian atau kesejahteraan
nasional yang memfokuskan diri kepada dampak perubahan ekonomi pada
perjanjian sosial domestik (domestic social compact).
Tataran analisisnya adalah negara bangsa, tujuan yang ingin dicapai
adalah penciptaan distribusi penghasilan yang lebih merata di dalam
negeri.
Yang kedua, model internasionalis liberal yang memfokuskan diri pada
perilaku negara dalam membangun institusi internasional demi
memperkokoh tatanan global yang damai, sejahtera, dan stabil.
Tataran analisisnya adalah masyarakat negara-negara serta institusi
multilateral, tujuan yang ingin dicapai adalah konvergensi taraf
penghasilan di antara negara- negara yang ada.
Yang ketiga, model kosmopolitan yang merujuk pada dampak kebijakan
ekonomi internasional pada masing-masing individu, terutama kalangan
yang miskin dan kurang beruntung di mana pun.
Ringkasan lain tentang AS, Kemakmuran, dan Keamanan Dunia