Meskipun sebenarnya ia hanya seorang petani miskin
yang buta huruf, tidak dapat berbahasa Indonesia secara baik, dan
bukan
simpatisan apalagi anggota organisasi komunis, di sana ia dipaksa
mengaku terlibat Gerakan 30 September (G30S).Kisah di atas dikutip dari buku Tahun yang Tak Pernah
Berakhir, Memahami Pengalaman Korban 65, Esai-Esai
Sejarah Lisan yang
diterbitkan tahun 2004 oleh Elsam, Tim Relawan untuk Kemanusiaan dan
Institut Sejarah Sosial Indonesia. Kisah
tersebut hanyalah satu dari ratusan kisah yang ditulis di dalam
beberapa buku yang memuat kesaksian para korban
peristiwa 1965.
Kecuali buku Nyanyi Sunyi Seorang Bisu karya Pramoedya Ananta Toer,
buku-buku yang memuat tragedi para korban 1965 ini bermunculan terutama
setelah Soeharto berhenti sebagai presiden.Dalam hal ini terutama adalah suara-suara korban peristiwa 1965 yang selamat dari pembantaian tahun 1965-1969.
Beragam versi "kebenaran"
Peneliti LIPI, Asvi Warman Adam, mengamati bahwa saat ini terdapat lima
kecenderungan dalam hal penerbitan buku-buku peristiwa 1965. Pertama,
buku-buku yang di era Orba dilarang kini dapat terbit.Sampai saat ini telah muncul dua buku yang menggunakan
metode ini, yaitu Tahun yang Tak Pernah Berakhir yang telah disebut di
atas, serta Menembus Tirai Asap terbitan Amanah Lontar dan Yayasan
Sejarah Budaya Indonesia, Amsterdam tahun 2003.Gejala kelima adalah kecenderungan instansi, dalam hal
ini AURI, mengungkapkan "kebenaran" versi mereka sendiri, seperti buku
Menguak Kabut Halim dan yang akan terbit ditulis oleh Heru Atmodjo
tentang apa yang terjadi pada 1 Oktober 1965.
Semua buku-buku tersebut mengungkapkan suara-suara yang selama ini
dibungkam dan sekaligus menyajikan narasi baru yang menantang narasi
tunggal ciptaan rezim Orba.
Narasi tunggal Orba tentang G30S berbunyi "Partai Komunis Indonesia
(PKI) mendalangi pembunuhan 6 jenderal dan 1 perwira Angkatan Darat di
Lubang Buaya pada 30 September-1 Oktober 1965 dan bermaksud merebut
kekuasaan negara".
Narasi itu dibakukan dalam buku The Coup Attempt of the ’September 30
Movement’ in Indonesia yang ditulis oleh Noegroho Notosusanto dan
Ismail Saleh yang terbit tahun 1968. Kedua, buku-buku itu juga mengungkapkan adanya
pembunuhan massal, penyiksaan di luar batas kemanusiaan, pemenjaraan
tanpa proses pengadilan, serta penghancuran kehidupan keluarga para
korban, yang sama sekali tidak diungkap oleh buku-buku resmi Orba.
Narasi baru ini sekaligus menciptakan beragam "kebenaran" sejarah
mengenai apa yang sebenarnya terjadi pada saat muncul G30S dan
peristiwa-peristiwa yang mengikutinya.
Maka, menurut Melani Budianta, penyunting buku ini, di
dalam kata pengantar, "wajar jika ada yang terlupakan atau menjadi
samar-samar. Oleh karena itu, target penerbitan
buku ini bukanlah merekonstruksi peristiwa yang terjadi sebagai
verifikasi kebenaran faktual, melainkan menghadirkan kesaksian para
pelaku sejarah atau pengalamannya sesuai apa yang dirasakan dan
dipersepsikan olehnya".Beberapa buku biografi dan pleidoi tokoh-tokoh PKI
ataupun tokoh lainnya, seperti Kol Latief, Omar Dhani, dan Soebandrio,
ataupun buku Menguak Kabut Halim, berupaya memperjelas apa yang
sebenarnya terjadi menjelang G30S, saat terjadinya G30S, dan siapa yang
terlibat di situ.