KESEDIAAN Nurcholish Madjid menjadi kandidat presiden untuk Pemilu 2004 merekahkan senyum optimisme politik Tanah Air yang
makin lama makin tak menggairahkan. leh karena itu, politik tunabudaya ini memiliki filsafat politik yang angkuh yang mengklaim memiliki kebenaran yang mutlak; sebuah alas pijak yang nekrokultura, sebuah alas pijak yang membunuh kreativitas penciptaan. Begitu lamanya alas pijak politik ini menghuni lubuk keasadaran kita, maka tidak terlampau aneh bila melahirkan kemandekan kreativitas. Terlihat begitu lambatnya kita mencipta. Ketika pun ada yang mencipta, sang pencipta akan dicurigai dan disandera dengan label dan cap yang tidak mengenakkan.
Mereka yang berorientasi politik ini biasanya hanya bisa merayakan peristiwa budaya tanpa ada keinginan mencipta. Dalam bahasa Nurcholish, "Kalau di dalam (pemerintahan -Penulis) harus berani mengambil inisiatif tingkat tinggi (penciptaan-Penulis)." Kalaupun memproduksi budaya, biasanya budaya sekadar dijadikan komoditas belaka.
but platform politik budaya Nurcholish sebagai politik
biokultura (bio=hidup; budaya=komitmen tinggi mencipta).
Politikus yang berorientasi biokultura menunjuk pada subyek-subyek budaya yang terus memproduksi atau melahirkan aneka peristiwa budaya untuk dirayakan bersama. Komitmen atas kemajuan manusia menjadi ujung tombak visi politik biokultura (Multatuli pernah menulis: Tujuan manusia adalah menjadi manusia. Borris Pasternak pernah menulis: Manusia dilahirkan buat hidup). Berbeda dengan politik nekrokultura yang hanya bisa memproduksi budaya instan, mereka yang berorientasi politik biokultura terus menggelorakan spirit budaya daur-ulang, budaya kemandirian, dan budaya mencipta di setiap kantong (kehidupan) masyarakat.
Di panggung kekuasaan, politikus biokultura biasa disebut-meminjam istilah Tajuk Kompas-"pemimpin" dan bukan "pejabat" apalagi "penjahat". Di kancah lebih luas, peran yang dimainkan politikus biokultura adalah peran yang disebut novelis kelahiran Afrika, Ben Okri, sebagai "duta sejarah" karena kesanggupannya mencipta dan menjelaskan ke mana bandul sejarah bakal berayun.
Dengan watak khas Nurcholish selama ini, akal yang berendah hati (humaility of the mind), tidak berlebihan bila kita meletakkan optimisme dan kepercayaan politik. Saatnya pengusung jargon yang terkenal di masa lalu, "Islam Yes, Partai Islam No", ini akan diuji sejarah. Sanggupkah ia menjadi politikus biokultura dalam real politic Indonesia dan dunia atau sama saja dengan politikus nekrokultura yang sudah-sudah.