Ir Soekarno atau biasa disebut Bung Karno, bapak
bangsa sekaligus presiden pertama Indonesia, perannya dalam dunia
arsitektur ternyata besar sekali. Ketika
tahun 1970-an dunia Barat mulai mendengungkan berakhirnya mazhab arsitektur
modern dengan international style-nya, Soekarno justru mengilhami
berdirinya rangkaian resor hotel dalam paduan arsitektur modern dan
budaya Jawa kuno. Ini memberi inspirasi
kelahiran form fellow culture lewat rangkaian rancangan pembangunan
Hotel Indonesia, Samudera Beach, Ambarrukmo, Bali Beach, disusul Hotel
Banteng yang sekarang berubah menjadi Hotel Borobudur.
"Setelah Bung
karno meninggal, hotel-hotel bernuansa kultur mirip gaya
arsitekturnya dapat kita saksikan hadir pada rancangan hotel kelompok
Aerowisata, kelompok Amman dengan hotel eksklusif, Ammanjiwo dan
Ammandari, disusul hotel kelompok Natour.Dengan demikian, Yuke Ardhiati (41), alumnus
Universitas Sebelas Maret Solo tahun 1987, meraih gelar doktor lewat
disertasi bertajuk "Kajian Mentalite
Arsitek Seorang Negarawan", dengan
promotor Prof Dr RZ Leirissa
serta ko-promotor Dr Mukhlis PaEni dan
Prof Yusuf Affendi.
Peran ganda Bung Karno
Menurut Yuke Ardhiati, semangat dan jiwa arsitek Bung Karno tercermin
dalam waktu cukup panjang, yaitu antara tahun 1926 sampai 1965.Peran ganda Bung Karno sebagai arsitek lulusan THS
Bandung tahun 1926, berikut keterampilan politik berdasar kegiatannya
di masyarakat, dipadukan sebagai kekuatan untuk mewujudkan nation
building dan national pride melalui karya arsitektur.Pembabakan karya Bung Karno terbagi tiga tahap: 1926- 1945, 1945-1959, dan 1959- 1965.
Hasil kajian promovendus membuktikan, selama 1926 sampai 1965 beragam
situs ditemukan, seperti rumah tinggal, masjid, hotel, toko serba ada
(toserba), dan kampus. Selain itu, jejak Bung
Karno sebagai arsitek juga ditemukan dalam pembangunan Masjid Syuhada
Yogya, Monumen Nasional Jakarta, hingga rancangan skematik Kota
Palangkaraya.
Bunga tersebut secara dekoratif, fungsional, dan simbolis mempunyai makna khusus serta merepresentasikan sosok Bung Karno.
Pembentukan mentalitas pribadinya juga dipengaruhi sosok wayang Bima,
serta kebiasaan Bung Karno melakukan semadi atau tafakur sebelum
mengambil setiap keputusan penting.
Kenyataan tersebut, menurut promovendus, dampak dari budaya multikultur perkawinan antaretnik yang melahirkan Bung Karno.Dalam perkembangannya, mentalitas Bung Karno semakin
diwarnai sesudah ngenger, tinggal bersama HOS Tjokroaminoto, pimpinan
Sarekat Islam di Surabaya.
Ringkasan lain tentang Bung Karno Perancang Bangunan Bangsa