Kasus tenaga kerja wanita Nirmala Bonat, Ceriyati, dan
Parsiti yang menjadi "bulan-bulanan" majikan beberapa waktu lalu
ternyata belum mengakhiri sifat arogansi Malaysia.
Belum lama ini bangsa Indonesia kembali tersentak insiden Donald Pieter
Luther Kolopita yang dipukuli empat polisi Diraja Malaysia. Sepertinya, harkat dan martabat warga Indonesia sudah tidak dihargai di sana. Dongkol, marah, dan muak melihat mereka yang ringan tangan.
Ironisnya, bangsa ini kehilangan kemampuan bertindak tegas kepada negara tetangga yang kecil. Sungguh memalukan karena dengan sadar negara besar segala kapasitasnya, tapi tak bernyali menindak tegas Malaysia.
Sungguh bengak, sekadar kata maaf yang keluar dari bibir Perdana
Menteri Abdullah Ahmad Badawi maupun Kepala Polisi Diraja Malaysia
(PDRM) Tan Sri Musa Hassan, dianggap cukup. Pantas meminjam bahasa Medan dalam film Nagabonar 2, "Bengak kali kau Indonesia." Dalam artian, Indonesia di bawah pimpinan Soekarno membenci segala hal yang berbau Barat.
Karena kolonialisme adalah produk Barat, maka Indonesia menunjukkan
ketidaksukaan ketika Malaysia memilih bergabung dengan Inggris.
Tak tangung-tanggung, Bung Karno memutuskan hubungan diplomatik dengan
Malaysia dan slogan "Ganyang Malaysia" menjadi kalimat yang populer di
masa itu.
Atas keberanian Bung Karno tersebut, buntutnya, Malaysia minder setiap kali menatap muka Indonesia, apalagi hendak menjahili. elakanya, sekarang kian hari Malaysia kian berani semena-mena kepada kita. Itu semua adalah akibat dari ketidaktegasan sikap pemerintah manakala menyelesaikan perseteruan dengan Malaysia.
Yang kita lakukan memang bukan untuk mengajak Malaysia berperang demi
harga diri bangsa, namun tindakan tegas yang mengutamakan prinsip-
prinsip antikekerasan harus kita ambil.
Selain kemungkinan pemutusan hubungan diplomatik, perlu diingat di
Indonesia ada beberapa produk Malaysia yang eksis dan itu dapat
diboikot. Misalnya, AirAsia, Malaysia Airline, Petronas, dan Astro (TV berlangganan).
Pasalnya, ini bukti ketegasan Pemerintah Indonesia yang perlu ditunjukkan agar Malaysia bisa introspeksi. Andaikan Bung Karno masih hidup, harga diri bangsa dan anak negerinya tidak mungkin dilecehkan sedemikian hina oleh Malaysia. Malaysia jelas akan berpikir puluhan kali untuk berani menyepelekan Indonesia serendah ini.