Cari
×

Daftarkan diri

Use your Facebook account for quick registration

OR

Create a Shvoong account from scratch

Already a Member? Masuk!
×

Masuk

Sign in using your Facebook account

OR

Not a Member? Daftarkan diri!
×

Daftarkan diri

Use your Facebook account for quick registration

OR

Masuk

Sign in using your Facebook account

Halaman Utama Shvoong>Ilmu Sosial>Andaikan Bung Karno Hidup

Andaikan Bung Karno Hidup

oleh: NasrulAzwar     Pengarang : Heri Priyatmoko
ª
 
Kasus tenaga kerja wanita Nirmala Bonat, Ceriyati, dan Parsiti yang menjadi "bulan-bulanan" majikan beberapa waktu lalu ternyata belum mengakhiri sifat arogansi Malaysia. Belum lama ini bangsa Indonesia kembali tersentak insiden Donald Pieter Luther Kolopita yang dipukuli empat polisi Diraja Malaysia. Sepertinya, harkat dan martabat warga Indonesia sudah tidak dihargai di sana. Dongkol, marah, dan muak melihat mereka yang ringan tangan. Ironisnya, bangsa ini kehilangan kemampuan bertindak tegas kepada negara tetangga yang kecil. Sungguh memalukan karena dengan sadar negara besar segala kapasitasnya, tapi tak bernyali menindak tegas Malaysia. Sungguh bengak, sekadar kata maaf yang keluar dari bibir Perdana Menteri Abdullah Ahmad Badawi maupun Kepala Polisi Diraja Malaysia (PDRM) Tan Sri Musa Hassan, dianggap cukup. Pantas meminjam bahasa Medan dalam film Nagabonar 2, "Bengak kali kau Indonesia." Dalam artian, Indonesia di bawah pimpinan Soekarno membenci segala hal yang berbau Barat. Karena kolonialisme adalah produk Barat, maka Indonesia menunjukkan ketidaksukaan ketika Malaysia memilih bergabung dengan Inggris. Tak tangung-tanggung, Bung Karno memutuskan hubungan diplomatik dengan Malaysia dan slogan "Ganyang Malaysia" menjadi kalimat yang populer di masa itu. Atas keberanian Bung Karno tersebut, buntutnya, Malaysia minder setiap kali menatap muka Indonesia, apalagi hendak menjahili. elakanya, sekarang kian hari Malaysia kian berani semena-mena kepada kita. Itu semua adalah akibat dari ketidaktegasan sikap pemerintah manakala menyelesaikan perseteruan dengan Malaysia. Yang kita lakukan memang bukan untuk mengajak Malaysia berperang demi harga diri bangsa, namun tindakan tegas yang mengutamakan prinsip- prinsip antikekerasan harus kita ambil. Selain kemungkinan pemutusan hubungan diplomatik, perlu diingat di Indonesia ada beberapa produk Malaysia yang eksis dan itu dapat diboikot. Misalnya, AirAsia, Malaysia Airline, Petronas, dan Astro (TV berlangganan). Pasalnya, ini bukti ketegasan Pemerintah Indonesia yang perlu ditunjukkan agar Malaysia bisa introspeksi. Andaikan Bung Karno masih hidup, harga diri bangsa dan anak negerinya tidak mungkin dilecehkan sedemikian hina oleh Malaysia. Malaysia jelas akan berpikir puluhan kali untuk berani menyepelekan Indonesia serendah ini.
Diterbitkan di: 31 Oktober, 2007   
Mohon dinilai : 1 2 3 4 5
Terjemahkan Kirim Link Cetak
X

.