Halaman Utama Shvoong > Ilmu Sosial > Kebersamaan di Hadapan Teror

.

Kebersamaan di Hadapan Teror

Pengarang : Denny JA
Summary by : NasrulAzwar
Kunjungan : 47  kata: 600   Diterbitkan di: Oktober 31, 2007
 Senin, 28 Oktober 2002 Renungan Sumpah Pemuda Kebersamaan di Hadapan Teror Oleh Denny JA Tanggal 28 Oktober 1928, the founding fathers berikrar Satu Nusa, Satu Bangsa, dan Satu Bahasa.  Adakah kita merasakan kebersamaan itu saat menghadapi ujian mahaberat sebagai satu Bangsa berupa aksi teror, yang kemudian dikenal dengan Tragedi Bali? Untuk perbandingan, kita dapat menengok Australia. Tragedi Bali menyebabkan tewasnya puluhan warga Australia. Perdana Menteri Australia dengan sigap menetapkan 20 Oktober 2002 sebagai hari berkabung nasional. Sebagai sebuah bangsa, Australia ingin menyatakan kesedihan secara bersama, di momen yang sama, melalui satu kegiatan yang sama.
Hal yang sama terjadi dengan Amerika Serikat (AS) saat mereka sebagai bangsa juga melewati tragedi lebih hebat, yang dikenal dengan Tragedi 11 September (911). Aksi solidaritas sebagai satu bangsa tentu jauh lebih fundamental karena tragedi itu terjadi di pekarangan rumah mereka sendiri. "Setelah Tragedi 11 September," ujar Presiden AS George W Bush, "sebagai sebuah bangsa kami bertambah sedih, namun kami semakin kuat karena semakin kokohnya tali batin kebersamaan kami."
Ia tidak menyentuh publik Indonesia dari Sabang sampai Merauke untuk merasakan Tragedi Bali sebagai penderitaan bersama kita sebagai sebuah bangsa. Padahal, hal itu dapat dilakukan dengan sangat mudah, misalnya, muncul di televisi yang disiarkan secara nasional, dan bicara kepada publik Indonesia dari hati ke hati.
Padahal yang dibutuhkan dari presiden adalah ungkapan belasungkawa sebagai wakil dari emosi publik Indonesia. Megawati kurang melihat politik sebagai sebuah teater yang juga butuh ritual dan diplomasi sosial. Tidak perlu heran, setelah melewati krisis, popularitas Megawati bukannya menanjak, tetapi malah merosot. Setelah Tragedi 11 September, George Bush berubah dari presiden yang kurang meyakinkan menjadi salah satu presiden paling popular dalam sejarah Amerika Serikat.
Di era kompetisi yang kadang tidak sehat, pembantu dapat dicap sebagai overacting atau melakukan setengah kudeta. Lalu apa yang harus dilakukan ke depan, agar pimpinan nasional juga menjadi pusat emosi massa, yang terus menerus memperteguh rasa kebersamaan kita sebagai sebuah bangsa? Kita harus berangkat dari kondisi yang ada. Megawati akan tetap menjadi pimpinan nasional setidaknya sampai tahun 2004. Melihat kecenderungan itu, sulit bagi Megawati untuk memainkan peran sebagai pusat emosi massa, yang sering berkomunikasi dengan publik, entah secara langsung maupun lewat media massa, melalui aneka konperensi pers. Namun, peran sebagai komunikator bangsa harus ada demi kebersamaan bangsa itu. Harus ada pembantu formal yang mengambil peran itu demi kepentingan negara yang lebih besar. 
Agar tugasnya berhasil, Menko Polkam justru harus menjadi komunikator bangsa, yang terus menyapa publiknya dari Sabang sampai Merauke. Jadikanlah tragedi Bali sebagi awal untuk merajut kembali kebersamaan kita sebagai sebuah bangsa Jika pendahulu kita dapat melahirkan semangat kebersamaan yang tinggi melalui Sumpah Pemuda, seharusnya di era televisi dan Internet, kebersamaan itu lebih dapat ditumbuhkan. Ini sebagian ditentukan oleh seberapa efektif Menko Polkam memainkan peran sebagai komunikator itu, sebagai pusat emosi massa, setidaknya untuk isu terorisme yang menjadi tugasnya.

Ringkasan lain tentang Kebersamaan di Hadapan Teror
Mohon ringkasan ini dinilai : 1 2 3 4 5


Tambahkan komentar Anda Tidak ada komentar

Read Free Summaries - Write and Get Paid

Summarize Human Knowledge on Shvoong. Join us!

------