• Daftarkan diri
  • ‎Apakah Shvoong itu?‎
  • Masuk
    Masuk
    Ingat user ID ini. Lupa password anda?

Buat rangkuman pengetahuan manusia di Shvoong.

.

Halaman Utama Shvoong>Ilmu Sosial>"In Memoriam" Sanjoto

.

"In Memoriam" Sanjoto

oleh : NasrulAzwar     

Pengarang : H Rosihan Anwar
DI BAWAH panas terik, suatu hari sekitar pertengahan tahun 1952, sekelompok orang berbaris di jalanan Jakarta menuju
kantor Jaksa Agung R Suprapto di Lapangan Banteng. Majalah itu dipimpin Soedjatmoko dan ketika Soedjatmoko bersama Rosihan Anwar mendirikan mingguan politik/budaya Siasat, Sanjoto bergabung ke majalah yang karena tulisan politiknya yang tajam dan kritis menimbulkan gempar di pedalaman RI. Siasat berkembang pesat dan dalam tempo enam minggu sejak awal terbit mencapai tiras 12.000, suatu hal unik dalam jurnalistik Indonesia masa itu. Sebenarnya cita-cita Sanjoto bukan menjadi wartawan, melainkan dokter. Dalam keluarganya terdapat orang yang berperan penting dalam sejarah Republik Indonesia pada tahapan awalnya. Abangnya paling tua ialah Mr Suwandi yang menjadi Menteri Kehakiman dalam Kabinet Sjahrir Pertama dan memimpin delegasi Indonesia dalam perundingan dengan Pemerintah Belanda di Hoge Veluwe (14-24 April 1946).
Akibatnya, 15 mahasiswa dan beberapa dokter, yakni dr Subandrio dan dr Oetama ditangkap polisi Jepang, Kenpeitai. Para mahasiswa dibawa ke markas Kenpeitai di Jalan Merdeka Barat, bekas Sekolah Tinggi Hukum. Mahasiswa Sanjoto bercerita, "Kami dimasukkan dalam sebuah ruangan cukup bersih. Kami mendengar teriakan orang di sel lain yang disiksa dengan ’water treatment’, selang air dimasukkan ke dalam mulutnya dan perutnya gembung diisi air. Saya ditahan bersama Petit Muharto, Aboe Bakar Loebis, sedangkan Soedjatmoko dan Soedarpo berada di sel lain. Kami ditahan hampir sebulan lamanya." Setelah putus jadi mahasiswa, Sanjoto mencari pekerjaan. Ia diterima di Departemen Kehakiman dan dipekerjakan di jawatan penjara.
Meskipun belum setara dengan binaraga yang dipraktikkan oleh Arnold Schwarzenegger sebelum jadi aktor, Sanjoto pandai main ring, otot-otot tangannya berkembang mekar, mirip dengan ideal anak-anak Indo Belanda waktu itu, yaitu "bouwmaken" yang artinya sama dengan binaraga ditambah dengan sifat pamer.
Di dalamnya terdapat tulisan-tulisan Sanjoto yang dimuat dalam Business News, terbagi atas lima kategori ialah politik, ekonomi politik dan makro-ekonomi, korupsi, moneter dan perbankan, anggaran dan dimensi internasional.  Salah satu karangannya berjudul Jangan Sakiti Hati Rakyat (5-8-1997) dan dia menyatakan di situ, "Kalau tidak ada koreksi atau sanksi sama sekali, aparat (keuangan) itu menjadi terpisah dari rakyat yang seharusnya mereka emong, dan mereka menjelma menjadi pangreh praja seperti dalam zaman kolonial. Padahal, kita memproklamasikan kemerdekaan tanggal 17 Agustus, 52 tahun yang lalu, justru untuk membebaskan diri dari ketakutan, di samping membebaskan diri dari kemiskinan dan ketertinggalan".
Diterbitkan di: Oktober 31, 2007
Mohon ringkasan ini dinilai : 1 2 3 4 5

Bookmark & share this post

.