BELUM lama berselang seorang kawan-aktivis buruh migran asli Karawang (Jawa Barat), mengirim sebuah foto yang diambil saat ia berkunjung ke Roma. Foto yang ia kirim
dari tempat studinya di New Delhi
itu adalah foto sebidang tembok kota Roma yang berhiaskan grafiti menarik.
Apa yang terungkap dari foto itu kiranya menarik
untuk disimak, karena siapa tahu ia dapat membantu kita merefleksikan semangat yang terkandung
dalam Sumpah Pemuda yang diucapkan pertama kalinya tahun 1928.
Di luar dugaan, ternyata ada sekitar 750
orang yang ingin ikut dalam rapat itu, sehingga apa yang semula direncanakan
sebagai rapat kemudian berkembang menjadi suatu "kongres". Hadir dalam kongres itu orang-orang dari berbagai kalangan, baik kalangan Bumiputera, Cina, maupun Belanda. Mereka datang dari bermacam
organisasi sosial-politik, dengan latar belakang keagamaan yang berbeda-beda pula. Dalam sidang pertama yang diadakan di Gedung Pemuda Katolik yang terletak di Waterlooplein (kini Jalan Lapangan Banteng) dibahas antara lain pentingnya bahasa Melayu diangkat sebagai bahasa politik dalam menciptakan persatuan dan kebangsaan yang independen.
Sementara itu dalam sidang ketiga yang diadakan di Jalan Kramat Raya, tampil tiga orang pembicara: Ramelan yang beragama Islam, Theo Pangemanan yang beragama Kristen, serta Mr Soenarjo sebagai Ketua Persaudaraan Antara Pandoe Indonesia.
Alasan yang muncul adalah soal penggabungan organisasi itu merupakan hak dari masing-masing organisasi, dan mereka yang hadir dalam kongres itu tak punya hak untuk mewakili organisasinya dalam hal ini. Para peserta pun sempat kecewa. Di tengah kekecewaan itu Moehammad Yamin (yang pada awalnya menolak fusi) menyerahkan draf tulisan tangan berjudul Poetoesan Congress Pemoeda Pemoeda Indonesia kepada ketua panitia Soegondo Djojopoespito.
tulah bentuk kehadiran yang mengundang setiap warga dari planet ini untuk bersama-sama berjuang demi terciptanya suatu tata kehidupan nasional dan transnasional yang kian peka terhadap derita dan harapan sesama, di mana pun sesama itu berada.
Dalam kaitan ini semua, mungkin foto dari kawan kami itu bisa dipandang sebagai simbol kecil bagi nasionalisme universal yang berwajah manusiawi: Foto itu diambil di kota Roma, berisi grafiti berbahasa Italia untuk perjuangan rakyat Palestina, dikirim ke orang Jawa yang tinggal Yogyakarta oleh seorang aktivis buruh etnis Sunda yang kini sedang mencari ilmu di India.
Ringkasan lain tentang Nasionalisme Berwajah Manusiawi