MENGAPA orang Bali, Jawa, Makassar, Padang, Manado, Ambon, dan lainnya merasa diri sebagai
bangsa Indonesia? Pertanyaan ini mungkin tak pernah terpikirkan. Kalaupun terpikirkan, tak pernah terungkap. Sejak Budi Utomo berdiri tahun 1908, dan
kemudian semakin mengental
dalam Sumpah Pemuda tahun 1928, tanpa terasa perasaan sebagai satu bangsa (nasion) tertempa dan merasuk ke dalam pikiran berbagai kelompok etnis yang menghuni Nusantara.
Rakyat penghuni Nusantara yang bekas Hindia Belanda sudah menanamkan dalam pikiran
mereka bahwa mereka adalah satu bangsa, bangsa Indonesia, dan satu tanah air, tanah air Indonesia, seperti yang mereka ucapkan dalam sumpah mereka pada tahun 1928 itu.
Demikian pula para bapak pendiri (founding fathers) nasion Indonesia, melalui Budi Utomo dan kemudian Sumpah Pemuda, telah menciptakan
nasionalisme Indonesia yang lintas etnis,
dengan simbol bendera Merah Putih dan bahasa Indonesia. Semasa kepemimpinan
Bung Karno dan Bung Hatta, nasionalisme Indonesia ini berhasil dijaga dan ditanamkan sehingga merasuk ke darah daging setiap orang Indonesia, tidak peduli di mana dia lahir dan dari suku apa orangtuanya berasal. Bahkan, pemberontakan (insurgensi) yang dilakukan PRRI di Sumatera masih menggunakan istilah Pemerintah Revolusioner Republik Indonesia, dan Permesta di Sulawesi Utara pun tidak menggunakan kelompok etnis atau batas wilayah tertentu.
Akan tetapi, berbeda dengan masyarakat Amerika Serikat yang sebagian besar (kecuali native American atau Indian) adalah pendatang yang dengan kemauan sendiri mendatangi benua tersebut, suku-suku bangsa di Indonesia adalah penduduk pribumi yang sudah beribu tahun menghuni wilayah tertentu dalam negara yang kemudian menjadi Republik Indonesia. Perasaan menjadi pemilik sah dari suatu wilayah lebih kental di antara kelompok etnis Indonesia dibandingkan dengan dengan rakyat Amerika Serikat. Maka, sungguh merupakan keberhasilan yang sangat besar dari para pendiri negara ini untuk dapat membuat mereka kini merasa bahwa tanah air mereka adalah Indonesia, bukan hanya Jawa, Bali, Sulawesi, Irian, dan sebagainya.
anya di bagian akhir pemerintahannya, Bung Karno banyak digunjingkan dan dikritik karena membangun istana-istana baru meskipun tidak satu pun yang dia klaim sebagai milik pribadi atau keluarganya. Juga kritik tentang ketimpangan kehidupan muncul ketika Bung Karno bersikeras membangun Monumen Nasional ketika rakyat mengalami kesulitan mendapatkan bahan makanan. Akan tetapi, sebegitu jauh kritik itu belum sampai melukai rasa nasionalisme Indonesia. Nasionalisme Indonesia yang belum terlalu kukuh, bagaikan adukan beton yang belum mengering, mulai terluka ketika ciri etnisitas menjadi makin menonjol, yang kemudian dibungkam secara represif dengan tutup SARA (suku, agama, ras, dan antargolongan) di masa Orde Baru.
Kemudian hal itu makin menguat dengan territorial boundaries, yang setelah Soeharto jatuh perasaan itu pun berani muncul dalam isu "Riau Merdeka", "Aceh Merdeka", dan sebagainya, yang merupakan bentuk reaksi kemarahan terhadap perlakuan yang diterima semasa kepemimpinan Soeharto.
Berbeda dengan Bung Karno, Soeharto mencoba menerapkan sistem militer yang represif untuk mempertahankan integrasi bangsa yang kemudian lebih mengutamakan integritas teritorial, tetapi melupakan integritas sosial. Hati yang terluka di daerah-daerah itu kemudian mempertebal ethnic boundaries, yang diikuti territorial boundaries berdasarkan etnis, serta perasaan "kami" dan "mereka" yang makin mengental.
Ringkasan lain tentang Rasa Nasionalisme Terluka