MENURUT Prof Sartono Kartodirdjo sebetulnya Manifesto
Politik yang dikeluarkan oleh Perhimpunan Indonesia di negeri
Belanda
tahun 1925 lebih fundamental dari Sumpah Pemuda 1928. Paling tidak demikianlah yang tertanam dalam memori
kolektif masyarakat Indonesia selama ini melalui slogan populer "satu
nusa, satu bangsa, satu bahasa".
Satu-satunya tokoh yang berperan aktif dalam dua peristiwa yang menjadi tonggak sejarah nasional itu
adalah Prof Mr Sunario.Aktif sebagai pengacara, ia membela para aktivis pergerakan yang berurusan
dengan polisi Hindia Belanda. Ia menjadi penasihat panitia Kongres Pemuda II tahun 1928 yang melahirkan Sumpah Pemuda. Dalam kongres itu Sunario menjadi pembicara dengan makalah "Pergerakan Pemuda dan Persatuan Indonesia."Padahal Sunario juga lahir pada tahun yang sama dengan
Hatta dan hanya terpaut beberapa hari (Hatta di Bukittinggi 12 Agustus,
Sunario di Madiun 28 Agustus 1902). Keduanya seperti dijelaskan, adalah pengurus Perhimpunan Indonesia tahun 1925. Pada tahun itulah perhimpunan ini mengeluarkan Manifesto Politik yang sangat signifikan itu.
Pidato terkenalnya yang berkait dengan hal ini adalah Mendayung di antara Dua Karang. Politik luar negeri yang bebas aktif itu dijabarkan Sunario secara nyata. Ketika menjadi Menlu dilangsungkan KAA (konferensi Asia Afrika) di Bandung tahun 1955 yang menghasilkan Dasa Sila Bandung.
Sunario juga menandatangani Perjanjian tentang Dwi kewarganegaraan
etnis Cina dengan Chou En Lai, persoalan yang sampai kini tetap krusial.
Hatta mundur sebagai wakil presiden Desember 1956. Pada tahun yang sama Sunario ditunjuk menjadi Duta Besar di Inggris (sampai tahun 1961). Ketiga anggota pertama adalah tokoh yang ikut merumuskan Piagam Jakarta tahun 1945.
Tahun 1925 diterbitkan buku Uraian Pancasila oleh Panitia Lima. Bung Karno diakui sebagai tokoh yang pertama berpidato dan mengungkapkan nama Pancasila sebagai dasar negara. Namun, dalam pidato Soekarno, sila Ketuhanan itu tercantum pada urutan terakhir. Itulah yang di balik dalam perumusan naskah Pancasila oleh founding fathers kita.
Sila Ketuhanan (ditambah ungkapan Yang Maha Esa) diletakkan pada urutan
pertama. Sila-sila lain hanya menyangkut perubahan istilah.
Panitia Lima termasuk Bung Hatta dan Sunario menganggap, sila pertama
merupakan fundamen moral sedangkan keempat sila lainnya adalah fundamen
politik.Jadi bangsa itu adalah suatu solidaritas besar yang
terbentuk karena adanya kesadaran bahwa orang telah berkorban banyak
dan bersedia untuk memberikan pengorbanan lagi.
Saat bangsa ini sedang terancam disintegrasi perlu kita kenang kembali
pemikiran yang disampaikan Prof Mr Sunario dalam Sumpah Pemuda tahun
1928.