Dengan demikian, kami selalu bisa mencocokkan jam
tangan
Dengan masuknya mobil Bung Hatta ke kantor Wakil Presiden di
sebelah Istana Merdeka yang senantiasa bertepatan
waktu dengan bunyi
lonceng tepat pukul delapan pagi waktu mulai jam kerja pemerintah.Dan bila Bung Hatta berbulat tekad menyelesaikan
studinya di Rotterdam, Belanda,
dalam tahun 1932, tak syak lagi di
tahun itu pula beliau tamat belajar sungguhpun tuntutan perjuangan
menggebu-gebu menyeret beliau ke kancah politik.Sidang Umum Majelis Permusyawaratan Rakyat, Dewan
Perwakilan Rakyat tingkat nasional dan daerah, sidang pengadilan dan
sidang kabinet selalu dimulai terlambat.
Kebiasaan "jam karet" lebih lazim
ketimbang "tepat waktu."
Dan sasaran kebijakan ekonomi yang sudah disepakati dan tercantumkan
dalam Rencana Pembangunan Tahunan maupun kesepakatan dengan
International Monetary Fund (IMF) seperti tertuang dalam Letter of
Intent pemerintah tidak dilaksanakan tepat waktu.
Ada lagi
ciri Bung Hatta yang khas, yakni telaten-rapi atau dalam bahasa Belanda, netjes. Dalam berpakaian dan penampilan tampak ciri khas Bung Hatta
untuk telaten rapi. Bahkan, ketika di bulan Desember 1935 Kapten Wiarda
selaku kepala pemerintahan di tempat pembuangan Boven Digul,
memerintahkan Bung Hatta untuk bersama Sutan Syahrir dalam waktu empat
hari segera pindah ke Bandaneira, setelah ditahan selama sebelas bulan,
Bung Hatta mengusulkan agar pemindahan ini diulur tiga minggu untuk
memberi kesempatan mengatur dan mengepak buku-bukunya.
Dan dalam penjara di Den Haag, Belanda (1927-1928) serta tempat
pembuangan di Indonesia (1934-1935), Bung Hatta terus belajar, membaca
dan menulis dan selalu dikelilingi oleh buku-buku.
Bahkan, dalam penjara di Den Haag (1927) Bung Hatta belajar menyiapkan
diri untuk tentamen ujian pendahuluan di Sekolah Tinggi Ekonomi,
Rotterdam.
Dari negeri induk semang pemerintahan kolonial dan
berkesempatan menyaksikan keadaan Indonesia dari jauh dan sudut pandang
holistik berkembanglah ketetapan hati Bung Hatta untuk berjuang bagi
kemerdekaan Indonesia at all costs.
Tekad dan komitmen Bung Hatta sudah terpateri dalam usia muda
duapuluhan tahun dan tertuang dalam kata-kata pujangga Rene de Clercq
yang gemar dikutipnya,
Hanya satu negeri yang menjadi negeriku.
Dalam keadaan ini dibutuhkan tipe kepemimpinan Bung
Hatta yang bercirikan:
penyerahan diri secara total berjuang tanpa pamrih bagi pembangunan
bangsa dengan meletakkan kepentingan diri jauh di belakang
berkarakter yang jujur serta bersih dalam kehidupan di atas jalan lurus
yang diridai Tuhan Maha Esa
berkomitmen penuh pada perbaikan nasib dan tingkat hidup rakyat kecil
menegakkan dan menjalankan secara konsekuen nilai-nilai demokrasi
kerakyatan
mengutamakan rasio ketimbang emosi dan karena itu gandrung pada usaha
mendidik rakyat ketimbang agitasi membangkitkan emosi rakyat dalam
pembangunan bangsa
Semangat
zaman memang sudah berubah, namun ciri-ciri kepemimpinan Bung
Hatta dan esensi perjuangan memerdekakan dan membangun bangsa seperti
yang dihayatinya selama hidupnya tetap kekal abadi sebagai warisan bagi
generasi kini dan nanti.
Ringkasan lain tentang Bung Hatta dan Semangat Zaman