• Daftarkan diri
  • ‎Apakah Shvoong itu?‎
  • Masuk
    Masuk
    Ingat user ID ini. Lupa password anda?

Buat rangkuman pengetahuan manusia di Shvoong.

.

Halaman Utama Shvoong>Ilmu Sosial>Bung Hatta: Kepala Keluarga, Pemimpin Rumah Tangga

.

Bung Hatta: Kepala Keluarga, Pemimpin Rumah Tangga

oleh : NasrulAzwar    

Pengarang : Meutia Farida Hatta Swasono
Sekaligus tampak di sini bahwa insan pers masa kini
pun, yang umumnya masih berusia muda, tidak banyak tahu tentang

proklamator kemerdekaan Indonesia sehingga hanya mengajukan pertanyaan
yang umum dan senada saja sebagai materi wawancara.Sejumlah orang muda yang belum lahir atau masih kecil
ketika Bung Hatta wafat mengatakan kepada saya bahwa yang mereka
dengar, Bung Hatta itu pendiam, kaku, tidak mudah dipahami, tidak
humoris, dan kutu buku. Lalu bagaimana saya melihat ayah saya,
Bung Hatta dalam posisinya sebagai kepala keluarga kami? Memang betul,
Bung Hatta terkesan pendiam dan kaku. Namun, mungkin
yang lebih tepat adalah, ia hemat bicara, yang selalu memilih kata-kata
yang singkat, tetapi padat isinya jika berbicara.
Hanya orang-orang yang sempat mengenalnya secara akrab saja yang bisa
mengatakan bahwa Bung Hatta sebetulnya bukan orang yang pendiam dan
kaku.Mungkin ini pula yang menyebabkan nilai Bahasa
Indonesia kami bertiga di sekolah selalu 8 atau 9 karena kami terbiasa
mendengar Ayah menggunakan Bahasa Indonesia standar. Maka kalau
sekali-sekali terdengar ucapan "dong" mewarnai ucapannya, itu pasti
karena bergurau, dan kami semua tertawa karena tidak sari-sarinya
beliau menggunakan kata seperti itu.
Dalam rumah tangga, kami hidup dalam Indonesia kecil. Ayah orang
Minangkabau. Ibu lahir dari ayah yang Jawa dan ibu yang Aceh. Sekretaris pribadi Bung Hatta, Pak Wangsa orang Sunda yang Islam dan Oom Hutabarat adalah orang Batak yang Kristen.Itu pun karena dijodohkan oleh Bung Karno dengan Rahmi
Rachim (ibu saya), yang saat itu berusia 19 tahun, putri sulung Bapak
dan Ibu Abdul Rachim, teman baik Bung Karno. Bung Karno mengenal
ibu saya sejak ia masih menjadi gadis kecil.
Ibu juga merupakan pribadi unik. Pertama kali Ibu muncul di masyarakat
sebagai istri Ayah sehingga identitas dan citranya terkait dengan nama
besar Bung Hatta.
Namun, melalui pengalaman hidupnya hingga akhir hayatnya, Ibu telah
membuktikan bahwa beliau bukan sekadar pendamping Ayah, melainkan Ibu
Rahmi Hatta yang mempunyai nama dan tempatnya sendiri di hati orang
Indonesia. Ibu tetap tegar waktu disuatu periode yang cukup lama,
sebagian dari para pejabat dan handai-taulan "takut" bertemu Ayah,
khawatir dicap "berseberangan" dengan Bung Karno jika mereka kelihatan
dekat dengan Bung Hatta.
Ibu adalah istri yang mampu menjaga citra, harkat, dan martabat suami
dengan mengasah pengetahuan dan gaya hidupnya hingga mencapai taraf
yang canggih. Membandingkan kehidupan kami dengan keluarga pejabat
lain yang berlimpahan dengan kemewahan, Ibu hanya berkata, "Kita sudah
cukup hidup begini, yang kita miliki hanya nama baik, itu yang harus
kita jaga terus." Mengapa Ibu dapat menjadi
seperti itu, tak lain karena kewibawaan Ayah yang diselubungi kasih
sayang, yang membuat Ibu, sepeninggal Ayah, sampai akhir hayatnya dapat
terus-menerus membimbing kami agar tetap berada dalam jalur prinsip
hidup Ayah.
Dua dari mereka, Mas Does Sampoerno dan Mas Kuswata
Kartawinata (kini keduanya telah menjadi gurubesar), terlonjak kaget
dari tempat duduknya karena Bung Hatta sendiri yang membuatkan kopi dan
mengantarnya kepada mereka. Rupanya perjanjian
antara Ayah dan saya bahwa Ayah yang membuat kopi (untuk dirinya
sendiri), dan saya membuat teh (untuk saya sendiri) tetap berlaku pada
jamuan makan itu, walaupun malam itu Mbak Aida dan saya yang memasak.
Diterbitkan di: Oktober 30, 2007
Mohon ringkasan ini dinilai : 1 2 3 4 5

Bookmark & share this post

.